Thursday, January 31, 2008

Rejeki Nemplok Nomplok

Waktu aku masih kecil, hatiku masih suci murni tanpa dusta dan tamak dahaga. Tidak pernah otak mungil itu memikirkan tentang apa yang namanya cinta pingin-jadi-kaya.

Beranjak masa kanak-kanak ku, aku mulai melihat beberapa temanku diantar ke sekolah memakai mobil mewah. Aku bertanya pada papa, "Kenapa papa ngga beli mobil kayak gitu?"

Tentu saja papa yang bijaksana menjawab dengan tipu muslihat boros bensin dan buatan cina. Dan waktu masih kecil, percaya adalah hal yang lumrah.

Kalau tidak salah sekitar menginjak kelas tiga esde papa mama mulai mengajari menabung. Prinsip dasar menabung adalah membuang sebagian uang untuk bersenang-senang dan menyimpan sisanya untuk disesali di kemudian hari. Tapi intinya, mulai kelas tiga esde itu, Suhu kecil mulai mendapatkan karunia yang kuasa dalam bentuk jasmaniah berupa uang jajan.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya belum ditemukan. Seperti hujan di akhir musim panas. Bagaikan menemukan wanita di tengah construction site.

Beberapa tahun kemudian, Suhu kecil sudah tidak lagi kecil. Masa-masa aqil baliq yang indah di eSeMPeh tentu mempunyai kenangan tersendiri. Masih berkaitan dengan kebahagiaan tersebut di atas, Suhu mendapatkan rupiah pertamanya. Tapi bedanya, kali ini dari hasil jerih payahnya sendiri.

Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar untuk para pengurus OSIS tentu membawa tantangan tersendiri untuk anak-anak yang selalu dilindungi oleh orang tua nya di rumah. Pada salah satu sesi penyiksaan pembinaan anak OSIS eSeMPeh ini, kakak pembina meminta anak-anak ini, dan Suhu adalah salah satu di antara mereka yang dibina...sakan. Untuk menghasilkan uang dengan cara halal. Dengan catatan tambahan, tidak boleh mengemis. Tentu saja catatan tambahan ini diberikan setelah ada satu murid yang pura-pura buta dan menghasilkan banyak uang. Bukan, bukan Suhu. Suhu bertugas menuntun yang buta.

Anyway, akhirnya Suhu mendapat uang pertama hasil keringatnya dengan cara upah. Diupah oleh orang buta penggembala sapi. Setelah membantu jongkok satu jam dan ngarit rumput buat pakan ternak. Sikil njarem, ndas mules, weteng ngelu. Suhu digaji seribu rupiah. Lumayan. Meskipun lebih mudah jadi penuntun orang buta. Seribu rupiah itu. Membawa perasaan yang luar biasa.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya susah ditemukan. Seperti hujan di tengah musim kemarau. Bagaikan menemukan dua wanita di tengah construction site.

Empat tahun kemudian. Kurang lebih. Sudah lupa tanggal pastinya, tapi masih ingat semua detail memorinya. Suhu tidak bisa melupakan kenangan ikut lomba informatika skala nasional. Programming. Itulah masa lalu Suhu yang diwarnai dengan pena emas. Lomba sana lomba sini mewakili sekolah (baca: dibiayai sekolah, kalau menang duit diambil sekolah). Iyah, semacam ayam aduan. Sampai suatu hari Suhu mengikuti lomba informatika secara sendirian berhad.

I make my first million before I am 20. Saat itu usiaku baru 17. Dan juara pertama mendapat hadiah satu juta rupiah. Dan tidak diambil sekolah.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya tidak ditemukan. Seperti hujan di tengah kemarau panjang. Bagaikan menemukan tiga wanita di tengah construction site.

Setelah minat dan bakat Suhu dipahami oleh khalayak internasional, cerita pencapaian pun turut berlanjut ke negeri seberang. Terhitung tanggal 11 Juli 2003, Suhu menginjakkan kaki di pulau mungil bernama Singapura. Lalu berlutut dan mencium tanah, hmmm baunya seperti tanah Indonesia, pasti pasirnya nyuri. Perjalanan ini akan membawa cerita yang lebih menarik dari segi finansial. Karena setiap mahasiswa Ninja Turtles University, selalu dihadapkan pada reality show sehari-harinya.

Mulai dari Amazing Race untuk menemukan letak ruang tutorial sampai seri tak terlupakan Survivor menunggu cairnya Study Loan. Tentang Tuition Fee Loan dan Study Loan, dana yang mengucur dari bank Orang Cina Bukan Cina ini datangnya setengah tahun sekali. Karena itu, jumlahnya juga cukup besar. Masih teringat saat pertama kali kucuran dana moneter itu turun ke buku bank pada bulan September 2003, rasanya tak kuasa menahan air mata. Bukan, bukan karena terharu, karena sedih udah dipotong duit asrama. Tapi herannya, setelah dipotong duit ini dan itu, jumlah uang nya, kalau dihitung-hitung dan di-kurs ke Rupiah.

Lima juta rupiah? Seumur hidup belum pernah megang uang sebesar ini. Saat mengupdate buku bank, tangan sampai gemetar. Hampir teriak-teriak di depan antrian orang-orang. Dasar norak.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi susah ditutup. Seperti hujan di tengah kemarau panjang di padang pasir. Bagaikan menemukan empat wanita di tengah construction site.

Empat tahun kemudian, perasaan serupa muncul kembali. Setelah bekerja di bawah terik panas matahari dan deras siraman hujan biadab. Sebulan siksaan terhapus berita bahagia dalam sehari. Hari gajian telah tiba. Gaji pertama. Hasil memeras keringat membanting tulang demi sesuap nasi dan sebakul lauk. Rasa terkejut saat lihat saldo di atm tiba-tiba menjadi empat digit di depan koma, dan angka pertama di saldo akhirnya bisa bilangan prima.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi tidak bisa ditutup. Seperti hujan salju di tengah kemarau panjang di padang pasir. Bagaikan menemukan lima wanita di tengah construction site.

Tapi kini, perasaan itu tidak berarti. Sama seperti setelah kamu memakan sesuatu yang sangat manis, makanan-makanan manis selanjutnya terasa tawar. Setiap kali mendapat rezeki yang lebih gedhe dari sebelumnya, selalu perasaan itu kembali lagi.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi waktu mau ditutup kerannya ikutan meledak. Seperti hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri tapi peduli setan toh kita juga lagi di negeri orang. Bagaikan tidak menemukan wanita di tengah construction site, tapi kita gak kerja di sana.

Suhu,
baru dapat bonus akhir tahun.

5 comments:

konnyaku said...

traktirrrrrr
di restoran tom and jerry ^^

NaDia RaiSyA said...

ahhh.. ada postingan baru kirain lanjutan cerita mandor, ternyataa.. *masih penasaran*

well.. congratz anyway! (^.^)v

suhu said...

#konnyaku:
pakai kartu berlogo burung yang digesek-gesek sampe keluar duitnya?

#nadia:
masih sibuk menulis cerita "petualangan ke pulau dewata".

*ngabisin duit bonus, jalan-jalan ke bali*

Skinny iDub said...

"Tapi kini, perasaan itu tidak berarti. Sama seperti setelah kamu memakan sesuatu yang sangat manis, makanan-makanan manis selanjutnya terasa tawar"

-The Law of Diminishing Return-

Tapi ya kalo rejeki gitu terus ya seneng2 aja sih.. cuma kok ya aneh gitu ya kalo nemu wanita di construction site

haha

suhu said...

#idub:
law of diminishing return
=
dihukum karena ngasi uang kembalian kurang