Thursday, January 24, 2008

Making a Deal with the Devils

Dua puluh tujuh bangla terpilih tersebut bekerja sekuat tenaga. Karena Mandor telah menyampaikan pesan yang mujarab pada mereka. Entah apa yang diucapkan Mandor pada mereka sampai mereka menguras keringat mereka dan memindahkan barang-barang itu seperti orang kesurupan. Seperti orang dikejar anjing. Seperti orang dikejar massa. Dan seperti orang dikejar makhluk jadi-jadian.

Dua bangla yang duduk di pojokan dengan baju penuh keringat itu bercakap-cakap.

"Assafarukuhdes'yakkhal sabbhadi musde?"
"Mushon'ga rigesh syaf'ikultha."
"Syaffikhulda?"
"Syaf'ikultha."

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan mereka, salah satu bangla berbadan kekar yang menjadi pemimpin mereka mulai berteriak memanggil mereka. Tentu saja pemimpin yang tidak sah, karena di hadapan Tuhan dan Mandor, mereka semua adalah sama. Bangla kekar itu memarahi dua bangla kecil itu karena bermalas-malasan. Tentu semua harus bekerja keras dan memeras keringat bersama-sama.

Oh ya, kenapa? Ada pertanyaan?

Oh, minta terjemahan? Bisa bisa.

"Apa setelah ini kita masih harus menata barang-barang itu?"
"Instruksi nya sih, letakkan sembarangan."
"Lemparkan?"
"Letakkan."

Dalam bekerja , ada yang istilahnya kontrak. Beberapa perkerjaan di mana pengawasan tidak penting, dan produktivitas diutamakan, memakai sebuah sistem yang namanya kontrak. Kekuatan kontrak adalah membuat pekerja semakin giat karena mereka mendapat uang jika pekerjaan selesai. Bukan dibayar per jam. Tapi dibayar per work completion.

Tidak hanya di level managemen tingkat tinggi, di lapangan juga ada kontrak. Mandor jagoan berotak bisnis juga menerapkan sistem ini pada para workernya. Demikian cuplikan percakapan Mandor dengan dua puluh tujuh bangla terpilih.

"you all can finish this how many hour?"
"four awar."
"okay good. four hour. start five o clock, finish nine o clock."
"mebi four awar also can not."
"so ten oclock finish?"

Mereka tersenyum, mengira akan ada dua puluh tujuh tanda tangan upah lembur sampai jam sepuluh. Tapi mereka salah mengira. Karena Mandor punya senyum yang lebih lebar di dalam hatinya.

"Ok, I tell you. You listen. I sign for all of you twenty seven man."
"YESSS!!!" *penuh gelora*
"Until eight o'clock only."
"Finish three awar only how to?"
"Must finish. I don't care what time you finish, I sign eight."
"Eight o clock?"
"You finish ten o clock, i sign eight. You finish six o clock, i sign eight. You faster finish, you can go jalan jalan. I still sign eight o clock."

Mereka berbisik-bisik satu sama lain. Berunding. Tentunya Mandor juga sudah mengira-ngira, pekerjaan ini butuh berapa orang dan berapa masa. Tapi dalam sistem kontrak, persetujuan dua pihak adalah faktor paling penting, karena itu, berdiri di mimbar di hadapan dua puluh tujuh orang berbahasa asing adalah langkah yang dirasa perlu.

Salah satu utusan mereka bersuara.

"Eight thirty."

Lalu Suhu berjalan menuju ke mimbar dan menutup kotak kaca dengan tombol merah seraya berkata.

"No Deal!"

Maaf, terbawa suasana.

Mandor jagoan berkata.

"Eight."

Mereka saling memandang. Karena kalah kharisma. Akhirnya mereka tidak bersuara dan cuma bisa mengangguk. Yah, mending jam delapan daripada tidak sama sekali.

"Anyway, the room is locked."

Mereka bingung. Mandor memperagakan gaya orang mencoba membuka pintu terkunci. Lalu mereka mengangguk-ngangguk.

"Rigesh syaf'ikultha. Eskhaf'i thasukor."

Mereka nampak bingung. Tapi di-iya-i saja, toh itu adalah instruksi presiden Mandor. Bukankah sudah jelas bahwa di construction site, semua menyembah Tuhan. Di bawah Tuhan, Mandor.

Kenapa? Butuh terjemahan lagi?

"Letakkan sembarangan. Depan pintu juga boleh."

Sudah banyak cerita cerita yang meminta bantuan jin botol dan makhluk halus. Kini tiba saatnya untuk mengabadikan cerita tentang bantuan orang-orang kasar. Dengan dua puluh tujuh bangla terpilih, nampaknya membangun 1000 candi juga mudah.

Suhu,
Mandor kontraktor.

By the way, as far as I can remember, the instruction is to shift. Not to arrange.

Bagaimana reaksi the guy with attitude problem? Masalah apa lagi yang dihadapi Mandor? Kenapa mandor belum lepas dari malang berkepanjangan? Ikuti terus seri Bukan Mandor Biasa. Hanya di kisah di balik hutan bambu dot blog spot dot kom.

-bersambung-

15 comments:

FaNNy said...

buahahahahaha.

help! aku ketawa2 sendiri di office, untung table mate ku ga ngerti aku kenapa :P

Jenny said...

aduh! gak brenti ketawa dari tadi. gdubrak. ditunggu episode berikutnya :D

PHY said...

yah, kayak sinetron aja. bersambungnya di saat-saat yang seru. :D

suhu said...

#fanny:
gitu itu termasuk 'untung' ya? bukannya malah bahaya, dikira ada masalah mental gimana gitu.

#jenny:
ketawalah mumpung ketawa masih gratis.

#phy:
ini sih belum sinetron. Ini baru sinetron.

NaDia RaiSyA said...

Huahahahahaha

Bukan Mandor Biasa.. kyanya cocok juga tu dijadiin Sinetron :D
Iya ni.. jadi penasaran sama reaksi the guy with the attitude problem

Gita Arimanda said...

Tum marehe kya bola? Mujhko sana dal keledamaladandida? Kyobala mujhe pyar hai, kya dout sama? Padal!



Apa? Minta terjemahan?
Oh...


"Duit lemburnya cuman segini Pak Mandor?"


*Terjemahan telah disesuaikan dengan norma2 susila masyarakat setempat. Mohon maaf jika ada beberapa bagian yang telah disunting karena tidak lulus sensor.

FaNNy said...

@Suhu :

Oh soalnya aku dah sering ketawa2 sendiri gitu, dan dia tidak merasa perlu buat ngerti. :P

yang penting dia tahu aku ga mental, hihi.

suhu said...

#nadia:
jam tayangnya bole gantiin Bajaj Bajuri atau Office Boy gak? Kalau jam tayang Cahaya sama Tersanjung, agak susah tembusnya.

#gita:
Telah tersebut di atas, dua puluh tujuh orang terpilih berkewarganegaraan Bangladesh. Bangla doesn't speak Hindi. Aithiye rige'a? Rumbe'nangdri.

#fanny:
syukurlah bila demikian adanya.

limbrada said...

Halo suhu, salam kenal. Gw gak sengaja nemu link ke blog ini dan gw gak bisa berhenti baca nih! I think you should write a comedy book :)

suhu said...

#limbrada:
Halo bra, salam kenal juga.

You know what, the funny thing is, tiga tahun lalu aku juga mengalami hal serupa tapi tak sama.

Gw gak sengaja nemu link ke blogger.com dan gw gak bisa berhenti nulis!

pig benis said...

perdamaian perdamaian...

...perdamaian perdamaian

Ben said...

halo Suhu..
Udah lama gw baca blog lu, tapi baru pertama kali comment...

Keren2 cara penulisan lu.. natural banget.. gw selalu senyum2 sendiri abis baca blog lu :p

suhu said...

#pig benis:
perdamaian pecas ndah'e.

#ben:
senang tahu ada pembaca yang akhirnya ninggalkan jejak. Anyway, ide kamu keren. Bisa jadi salah satu theme buat KdBHB season berikutnya. Tema NATURAL.

Aku sudah bisa mulai membayangkan punchline nya.

Kisah di balik hutan bambu, NATURAL, tanpa bahan pengawet!

Kalau masalah ketawa-ketawa sendiri, bisa diskusi sama fanny mengenai cara menanggulanginya. Beliau juga mengidap gejala serupa.

Misty said...

Keep up the good work.

Jennifer Dawson said...

halo juga
Saya Jennifer Dawson Managing Director (MD) dari Jennifer Dawson, kami adalah perusahaan yang terdaftar, meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan mendesak, dan mereka yang telah ditolak kredit dari bank karena nilai kredit yang rendah, pinjaman bisnis, pendidikan kredit, kredit mobil, kredit rumah, kredit perusahaan dan banyak lagi, atau Anda ingin membayar utang atau biaya, atau Anda telah scammed sebelumnya oleh pemberi pinjaman uang palsu? Selamat Anda sekarang berada di tempat yang tepat, Jennifer Dawson Pinjaman Firm, sebuah perusahaan pinjaman yang handal, yang menyediakan pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat rendah dari 2%, kami datang untuk mengakhiri semua masalah. kita menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan rahasia dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini melalui email di: jenniferdawsonloanfirm@gmail.com
banyak cinta
Ibu Jennifer