Thursday, January 31, 2008

Rejeki Nemplok Nomplok

Waktu aku masih kecil, hatiku masih suci murni tanpa dusta dan tamak dahaga. Tidak pernah otak mungil itu memikirkan tentang apa yang namanya cinta pingin-jadi-kaya.

Beranjak masa kanak-kanak ku, aku mulai melihat beberapa temanku diantar ke sekolah memakai mobil mewah. Aku bertanya pada papa, "Kenapa papa ngga beli mobil kayak gitu?"

Tentu saja papa yang bijaksana menjawab dengan tipu muslihat boros bensin dan buatan cina. Dan waktu masih kecil, percaya adalah hal yang lumrah.

Kalau tidak salah sekitar menginjak kelas tiga esde papa mama mulai mengajari menabung. Prinsip dasar menabung adalah membuang sebagian uang untuk bersenang-senang dan menyimpan sisanya untuk disesali di kemudian hari. Tapi intinya, mulai kelas tiga esde itu, Suhu kecil mulai mendapatkan karunia yang kuasa dalam bentuk jasmaniah berupa uang jajan.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya belum ditemukan. Seperti hujan di akhir musim panas. Bagaikan menemukan wanita di tengah construction site.

Beberapa tahun kemudian, Suhu kecil sudah tidak lagi kecil. Masa-masa aqil baliq yang indah di eSeMPeh tentu mempunyai kenangan tersendiri. Masih berkaitan dengan kebahagiaan tersebut di atas, Suhu mendapatkan rupiah pertamanya. Tapi bedanya, kali ini dari hasil jerih payahnya sendiri.

Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar untuk para pengurus OSIS tentu membawa tantangan tersendiri untuk anak-anak yang selalu dilindungi oleh orang tua nya di rumah. Pada salah satu sesi penyiksaan pembinaan anak OSIS eSeMPeh ini, kakak pembina meminta anak-anak ini, dan Suhu adalah salah satu di antara mereka yang dibina...sakan. Untuk menghasilkan uang dengan cara halal. Dengan catatan tambahan, tidak boleh mengemis. Tentu saja catatan tambahan ini diberikan setelah ada satu murid yang pura-pura buta dan menghasilkan banyak uang. Bukan, bukan Suhu. Suhu bertugas menuntun yang buta.

Anyway, akhirnya Suhu mendapat uang pertama hasil keringatnya dengan cara upah. Diupah oleh orang buta penggembala sapi. Setelah membantu jongkok satu jam dan ngarit rumput buat pakan ternak. Sikil njarem, ndas mules, weteng ngelu. Suhu digaji seribu rupiah. Lumayan. Meskipun lebih mudah jadi penuntun orang buta. Seribu rupiah itu. Membawa perasaan yang luar biasa.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya susah ditemukan. Seperti hujan di tengah musim kemarau. Bagaikan menemukan dua wanita di tengah construction site.

Empat tahun kemudian. Kurang lebih. Sudah lupa tanggal pastinya, tapi masih ingat semua detail memorinya. Suhu tidak bisa melupakan kenangan ikut lomba informatika skala nasional. Programming. Itulah masa lalu Suhu yang diwarnai dengan pena emas. Lomba sana lomba sini mewakili sekolah (baca: dibiayai sekolah, kalau menang duit diambil sekolah). Iyah, semacam ayam aduan. Sampai suatu hari Suhu mengikuti lomba informatika secara sendirian berhad.

I make my first million before I am 20. Saat itu usiaku baru 17. Dan juara pertama mendapat hadiah satu juta rupiah. Dan tidak diambil sekolah.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya tidak ditemukan. Seperti hujan di tengah kemarau panjang. Bagaikan menemukan tiga wanita di tengah construction site.

Setelah minat dan bakat Suhu dipahami oleh khalayak internasional, cerita pencapaian pun turut berlanjut ke negeri seberang. Terhitung tanggal 11 Juli 2003, Suhu menginjakkan kaki di pulau mungil bernama Singapura. Lalu berlutut dan mencium tanah, hmmm baunya seperti tanah Indonesia, pasti pasirnya nyuri. Perjalanan ini akan membawa cerita yang lebih menarik dari segi finansial. Karena setiap mahasiswa Ninja Turtles University, selalu dihadapkan pada reality show sehari-harinya.

Mulai dari Amazing Race untuk menemukan letak ruang tutorial sampai seri tak terlupakan Survivor menunggu cairnya Study Loan. Tentang Tuition Fee Loan dan Study Loan, dana yang mengucur dari bank Orang Cina Bukan Cina ini datangnya setengah tahun sekali. Karena itu, jumlahnya juga cukup besar. Masih teringat saat pertama kali kucuran dana moneter itu turun ke buku bank pada bulan September 2003, rasanya tak kuasa menahan air mata. Bukan, bukan karena terharu, karena sedih udah dipotong duit asrama. Tapi herannya, setelah dipotong duit ini dan itu, jumlah uang nya, kalau dihitung-hitung dan di-kurs ke Rupiah.

Lima juta rupiah? Seumur hidup belum pernah megang uang sebesar ini. Saat mengupdate buku bank, tangan sampai gemetar. Hampir teriak-teriak di depan antrian orang-orang. Dasar norak.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi susah ditutup. Seperti hujan di tengah kemarau panjang di padang pasir. Bagaikan menemukan empat wanita di tengah construction site.

Empat tahun kemudian, perasaan serupa muncul kembali. Setelah bekerja di bawah terik panas matahari dan deras siraman hujan biadab. Sebulan siksaan terhapus berita bahagia dalam sehari. Hari gajian telah tiba. Gaji pertama. Hasil memeras keringat membanting tulang demi sesuap nasi dan sebakul lauk. Rasa terkejut saat lihat saldo di atm tiba-tiba menjadi empat digit di depan koma, dan angka pertama di saldo akhirnya bisa bilangan prima.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi tidak bisa ditutup. Seperti hujan salju di tengah kemarau panjang di padang pasir. Bagaikan menemukan lima wanita di tengah construction site.

Tapi kini, perasaan itu tidak berarti. Sama seperti setelah kamu memakan sesuatu yang sangat manis, makanan-makanan manis selanjutnya terasa tawar. Setiap kali mendapat rezeki yang lebih gedhe dari sebelumnya, selalu perasaan itu kembali lagi.

Perasaan itu merupakan tidak lain yaitu adalah kebahagiaan yang meluap-luap seperti pipa air meledak dan kerannya ditemukan tapi waktu mau ditutup kerannya ikutan meledak. Seperti hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri tapi peduli setan toh kita juga lagi di negeri orang. Bagaikan tidak menemukan wanita di tengah construction site, tapi kita gak kerja di sana.

Suhu,
baru dapat bonus akhir tahun.

Monday, January 28, 2008

I Solve My Problem My Way

Masih lanjutan dari episode sebelumnya, Mandor memilih solusi yang lebih baik daripada nggebugin Singaporean. Perlu diingat bahwa kisah yang dituturkan ini terjadi tahun lalu, sekitar masa-masa menjelang Natal. Jadi sebagai anak Tuhan yang baik dan jarang ke gereja, Suhu tidak akan melakukan tindakan-tindakan kontroversial seperti komen-komen bengis para pembaca yang bisa dilihat di post ini.

Untuk mempersingkat waktu, tanpa basa basi mari kita simak lanjutannya.

Pagi itu, Mandor bersiul riang. Mood nya sedang bagus, meskipun dari kejauhan melihat security guard yang lari tunggang langgang mematikan saklar lampu, Mandor tidak memarahinya. Apa hubungan antara security guard, Mandor, dan saklar lampu, bisa dibaca di sini. Mandor melangkah dengan lompatan-lompatan kecil. Yang ini bukan karena gembira, tapi karena banyak kayu dengan paku-paku liar bertebaran di lapangan.

Meskipun kalimat terakhir terdengar sangat berbahaya, tapi percayalah, bahwa paku tersebar di lapangan kerja itu hal yang lumrah. Bahkan ban mobil pecah pun sudah menjadi tradisi, dan the best part is, nobody is doing anything to prevent it. Lagipula, kita punya bangla78 yang kini sudah terlatih mengganti ban bocor.

Tidak seperti rute hari-hari biasa. Hari ini mandor langsung pergi ke bangunan lama. Tempat di mana mesin-mesin berada beberapa hari yang lalu. Sampai tiga puluh orang dengan berbagai fitur memindahkan barang-barang itu. Bangunan itu kini sudah kosong. Tapi Mandor tidak tertarik dengan ruang mesin itu. Karena dia sudah tahu tempat itu sudah pasti kosong. Dia sendiri menyaksikan dengan mata kepala dan mata kaki sendiri bagaimana perjuangan memindahkan alat-alat pertukangan ini.

Mandor melangkah melewati ruangan yang gelap itu. Selapis debu serutan kayu telah memenuhi ruangan itu, dengan beberapa wilayah bersih tanpa noda, terlihat jelas dulu ada mesin yang terletak di sana, melindungi ubin dari serbuan debu pencetus asma. Mesin-mesin keparat berat yang sekarang sudah dipindah dengan susah payah.

Tapi, sekali lagi, Mandor tidak peduli. Dia hanya berlalu. Pikirannya terfokus ke pintu di depannya. Bertuliskan Awas Anjing Galak Ruang Material. Dibukanya pintu itu perlahan. Berderit. Kriyeeettt .... gitu. Nampak di dalamnya ada ....

Tidak ada apa-apa.

Lalu Mandor menghembuskan nafas terakhir perlahan. Bunyinya seperti ini. Duuuttt.... pret. Maksudku, fiuuuuhhh....

Akhirnya kosong juga bangunan ini. Itu yang ada di pikiran nya. Hanya itu. Dia berjalan keluar, dan menuju ke tempat kerjanya. Sambil menendang-nendang kerikil di jalan. Dengan angin meniup debu-debu yang kini menempel di celana kerja nya. Pikirannya sederhana. Tugasku selesai.

Tugasnya selesai. Tapi tidak demikian pendapat the guy with attitude problem. Bapak pengurus D&T itu tentu beranggapan bahwa pindahan ini belum selesai. Karena barang-barang itu belum masuk ruangan yang terkunci rapat semalam.

~Lima belas menit kemudian, depan ruang mesin baru.

Suhu berada di dalam jangkauan serang Bapak D&T. Tapi Bapak D&T itu tidak mempedulikannya. Nampaknya dia tidak suka memperpanjang masalah dengan orang yang salah. Keputusan yang bijaksana. Tapi tentu dia tidak akan mengakhiri perselisihan ini dengan kekalahan di pihaknya. Demikian pula keberadaan dirinya yang masuk jangkauan tapak Panda, tapi sampai sekarang belum ada kontak fisik. Alasannya jelas.

Ada Manajer ku di antara kami berdua.

Berikut adalah cuplikan gerutu bapak guru kepada Manager dan Mandor.

"Your man never do his work properly. Everytime I ask him to do some things, he always do wrongly. Now he just dumped all the stuffs here."
"Wait ... wait ... wait ... slowly slowly. Calm down. What's the problem now?"
"I've already done what I'm supposed to do. I'm shifting his material from the old block to the new block. I didn't see which part of never-do-his-work is correct. Heh, fren, you see me sleeping during working hours ah? Hah? Hah? Say until like that, I never do my work ah? You got problem? No happy?"
"Wait ... wait ... wait ... slowly slowly. Calm down. No need to fight. Mai fight mai fight.
"Your work is to shift the material for me. You don't do it I don't care you sleeping or what means you never do your work."
"Wait ... wait ... wait ... Calm down. What you want now?"
"I want to whack him until he can't spell his own name, go back my home country, make new passport under different name, and come back to work the day after tomorrow."
"I want these materials all to be shifted inside this room."

Dan ini adalah bagian paling mengocok perut di tahun 2007.

"What room?"

Seperti yang telah dijelaskan di episode sebelumnya, semua barang ditumpuk di depan pintu. Dan wujud pintu berukuran 900x2200 mm itu sudah sepenuhnya tertutup barang-barang nggak jelas. Dari kejauhan hanya terlihat tembok saja. Tanpa pintu.

~Empat jam kemudian, di warung kopi.

You must see his face when he called me this morning. He almost cry!
Hahaha... really? You must see my face when I saw how the workers stack the material. I almost cry laughing.
Any idea how many days it takes to clear all those material?
With one helper only? Well, at least after you promised him that we will give one full-time helper, he looks relieved.
Helper. Not worker.
What's the difference?
One is helping, one is working.

Kadang nggak Mandor, nggak Manager, sama-sama manusia. Moral dari cerita ini adalah, kalau kamu minta bantuan pada seseorang. Mintalah dengan baik-baik. Lha minta baik-baik aja belum tentu dikasih, apalagi sambil sewot-sewot. Lebih dianjurkan lagi meminta bantuan dengan sopan dan tulus sambil ngasih duit.

Manager ku mengangkat gelas berisi kopi-o-kosong, mengundang refleks ku ikut mengangkat gelasku yang berisi kopi-shi-siewtai.

"For joyful life."
"Ever and after."

Kami berdua saling memajukan gelas kami. Belum sempat gelas kami beradu.

*Triut* Mister adi mister adi. We have a situation here.



-bersambung-

Thursday, January 24, 2008

Making a Deal with the Devils

Dua puluh tujuh bangla terpilih tersebut bekerja sekuat tenaga. Karena Mandor telah menyampaikan pesan yang mujarab pada mereka. Entah apa yang diucapkan Mandor pada mereka sampai mereka menguras keringat mereka dan memindahkan barang-barang itu seperti orang kesurupan. Seperti orang dikejar anjing. Seperti orang dikejar massa. Dan seperti orang dikejar makhluk jadi-jadian.

Dua bangla yang duduk di pojokan dengan baju penuh keringat itu bercakap-cakap.

"Assafarukuhdes'yakkhal sabbhadi musde?"
"Mushon'ga rigesh syaf'ikultha."
"Syaffikhulda?"
"Syaf'ikultha."

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan mereka, salah satu bangla berbadan kekar yang menjadi pemimpin mereka mulai berteriak memanggil mereka. Tentu saja pemimpin yang tidak sah, karena di hadapan Tuhan dan Mandor, mereka semua adalah sama. Bangla kekar itu memarahi dua bangla kecil itu karena bermalas-malasan. Tentu semua harus bekerja keras dan memeras keringat bersama-sama.

Oh ya, kenapa? Ada pertanyaan?

Oh, minta terjemahan? Bisa bisa.

"Apa setelah ini kita masih harus menata barang-barang itu?"
"Instruksi nya sih, letakkan sembarangan."
"Lemparkan?"
"Letakkan."

Dalam bekerja , ada yang istilahnya kontrak. Beberapa perkerjaan di mana pengawasan tidak penting, dan produktivitas diutamakan, memakai sebuah sistem yang namanya kontrak. Kekuatan kontrak adalah membuat pekerja semakin giat karena mereka mendapat uang jika pekerjaan selesai. Bukan dibayar per jam. Tapi dibayar per work completion.

Tidak hanya di level managemen tingkat tinggi, di lapangan juga ada kontrak. Mandor jagoan berotak bisnis juga menerapkan sistem ini pada para workernya. Demikian cuplikan percakapan Mandor dengan dua puluh tujuh bangla terpilih.

"you all can finish this how many hour?"
"four awar."
"okay good. four hour. start five o clock, finish nine o clock."
"mebi four awar also can not."
"so ten oclock finish?"

Mereka tersenyum, mengira akan ada dua puluh tujuh tanda tangan upah lembur sampai jam sepuluh. Tapi mereka salah mengira. Karena Mandor punya senyum yang lebih lebar di dalam hatinya.

"Ok, I tell you. You listen. I sign for all of you twenty seven man."
"YESSS!!!" *penuh gelora*
"Until eight o'clock only."
"Finish three awar only how to?"
"Must finish. I don't care what time you finish, I sign eight."
"Eight o clock?"
"You finish ten o clock, i sign eight. You finish six o clock, i sign eight. You faster finish, you can go jalan jalan. I still sign eight o clock."

Mereka berbisik-bisik satu sama lain. Berunding. Tentunya Mandor juga sudah mengira-ngira, pekerjaan ini butuh berapa orang dan berapa masa. Tapi dalam sistem kontrak, persetujuan dua pihak adalah faktor paling penting, karena itu, berdiri di mimbar di hadapan dua puluh tujuh orang berbahasa asing adalah langkah yang dirasa perlu.

Salah satu utusan mereka bersuara.

"Eight thirty."

Lalu Suhu berjalan menuju ke mimbar dan menutup kotak kaca dengan tombol merah seraya berkata.

"No Deal!"

Maaf, terbawa suasana.

Mandor jagoan berkata.

"Eight."

Mereka saling memandang. Karena kalah kharisma. Akhirnya mereka tidak bersuara dan cuma bisa mengangguk. Yah, mending jam delapan daripada tidak sama sekali.

"Anyway, the room is locked."

Mereka bingung. Mandor memperagakan gaya orang mencoba membuka pintu terkunci. Lalu mereka mengangguk-ngangguk.

"Rigesh syaf'ikultha. Eskhaf'i thasukor."

Mereka nampak bingung. Tapi di-iya-i saja, toh itu adalah instruksi presiden Mandor. Bukankah sudah jelas bahwa di construction site, semua menyembah Tuhan. Di bawah Tuhan, Mandor.

Kenapa? Butuh terjemahan lagi?

"Letakkan sembarangan. Depan pintu juga boleh."

Sudah banyak cerita cerita yang meminta bantuan jin botol dan makhluk halus. Kini tiba saatnya untuk mengabadikan cerita tentang bantuan orang-orang kasar. Dengan dua puluh tujuh bangla terpilih, nampaknya membangun 1000 candi juga mudah.

Suhu,
Mandor kontraktor.

By the way, as far as I can remember, the instruction is to shift. Not to arrange.

Bagaimana reaksi the guy with attitude problem? Masalah apa lagi yang dihadapi Mandor? Kenapa mandor belum lepas dari malang berkepanjangan? Ikuti terus seri Bukan Mandor Biasa. Hanya di kisah di balik hutan bambu dot blog spot dot kom.

-bersambung-

Monday, January 14, 2008

The Devil Inside Me

Lanjutan dari posting terdahulu.

Keesokan harinya, setelah tidur yang nyenyak dan tak terganggu oleh gangguan dering telepon dari Arumugam Paramashivikam Rajalingam Damdidamdidamlalala ataupun Govindara Magarana Syalalalala. Mandor pergi ke kantor. Iyah, maksudku lapangan.

Setelah mengitari lapangan sekitar tiga kali sebagai ritual pagi. Masuk gerbang, buka gembok pintu samping, matikan lampu yang dipakai jaga malam, marahin security guard karena lupa matiin lampu dan boros listrik, ronda sekali melihat kondisi lapangan, kembali ke poin semula, melihat security guard sedang makan pagi sembari menahan lapar karena diri sendiri belum makan, memarahi security guard karena lupa matiin lampu dan boros listrik, melakukan work distribution, membawa workers satu persatu ngikut seperti induk bebek, dan meletakkan mereka di tempat mereka seharusnya bekerja, by the time semua worker sudah di tempat masing-masing, sudah keliling dua kali. Lalu ketiga kali untuk mengecek apa semuanya sudah mulai bekerja.

Berjalan perlahan ke kantor sambil mengambil nafas santai, setelah memarahi security guard ketiga kalinya karena lupa mematikan lampu dan boros listrik. Melangkah melalui genangan air di lantai. Mencari ujungnya. Menemukan bahwa seseorang tidak mematikan keran. Tidak tahu harus memarahi siapa. Memarahi security guard karena sudah boros listrik boros air pula. Tidak menghiraukan pembelaan security guard yang mengaku tidak bersalah. Memarahi security guard karena memboroskan resource perusahaan. Mengacuhkan alibi security guard. Mengubah status security guard dari tersangka menjadi terdakwa utama dan tidak lama kemudian menjadi terhukum. Dan diberi sanksi push-up dua ratus kali mengecek keran air seluruh kompleks kerja.

Setelah melampiaskan rasa kesal karena semalam flatmate nonton tivi dengan volume terlalu keras pada security guard yang boros listrik dan boros air. Mandor masuk ke kantor untuk mengambil beberapa file berisi daily activity.

Entah kenapa sepertinya Suhu melihat ada awan hitam dengan petir menyambar sedikit-sedikit di atas kepala pak manajer. Melihat muka sengit kayak gitu mendingan pergi menjauh secepatnya. Pasti orang yang ada di ujung gagang telepon satunya bukan orang baik-baik. Pak Manajer cuma bisa bilang "iya" tanpa bisa melawan, dan suara di gagang telepon itu bisa terdengar sampai jarak tiga puluh meter. Edan, becakan tenan.

Mengetahui gelagat bad mood manajer, Suhu mempercepat langkahnya keluar kantor. Malang bagi anak Malang, usaha melarikan diri pun gagal.

"Adi, come come come come."

Demikian panggil pak Manajer dengan nada menyerupai nada Mandor memanggil security guard. Setelah dihukum jongkok di pojok ruangan menghadap tembok duduk di depan pak Manajer mendengarkan omelan selama satu jam, Suhu akhirnya mengerti. Yang telepon rupanya dari pihak sekolah. Menyampaikan bahwa sampai detik ini pihak kontraktor belum selesai memindahkan barang-barang dan menunjukkan sikap acuh tak acuh pada kegiatan mulia pemindahan material ini.

"But I've tried to ask him for the key and he still don't want to give it to me."
"So how? We can't leave things like this. You can't just leave it. There must be a way out."
"How?"
"Up to you to figure it out."

Oke. Ini berarti perang. Epic battle. Mandor pergi ke ruang penuh barang yang perlu dipindahkan. Menghitung. Mengestimasi. Wokay. Kira-kira perlu dua belas orang dan jatah konsumsi empat belas orang. Mandor dua porsi. Kita bereskan masalah ini hari ini. Masalahnya. Dari mana dapat dua belas orang buat pindahan?

Apong, kerja di Timur. Andre, kerja di barat. Bhro, masih sekolah. Siapa ya yang bisa bantuin pindahan.

Eh, ini kan bukan pindahan rumah.

Tapi tetep aja masalahnya, dari mana bisa dapat dua belas orang nganggur buat mindah barang-barang keparat ini. Dari mana juga bisa dapat jatah konsumsi lima belas orang. Karena Mandor berpikir keras, perlu tiga porsi.

Mencoba negosiasi dengan manajer untuk minta orang dari site lain. Ditolak mentah-mentah. Jalan terakhir adalah negosiasi dengan pihak sekolah untuk pinjam kunci. Pindahan malam hari. Karena di malam hari kita bisa meminta bantuan para jin botol dan makhluk halus mengatur pekerjaan sederhana seperti ini.

I need the key.
I can't give you the key.
Is there anyone else can give me the key? Anyone.
The idea is to keep the door locked at all times when I'm not around.
I can only do this work after five o clock. So I hope you can stay.
No, I can't wait. If I want to go back, I will just lock the door.
Okay. Here's the deal. I shift for you. You give me the key. You can not give me the key, you stay here. You want to lock the door, I got problem.
So what? So what? That's YOUR problem what? Not MY problem what?

Maka pada saat kalimat terakhir diucapkan olehnya, Suhu memandang dia dalam-dalam. Sambil berpikir langkah apa yang harus dilakukan untuk menghadapi orang ini. Tentu saja nggebugi Singaporean adalah suatu hal yang mengasyikkan. Tapi the Devil Inside Me membuatku merasa bahwa aku harus memperjelas bahwa "This is not MY problem, this is YOUR problem".

Well, you know what? I guess you're right. That's my problem.

Demikian kata Mandor sambil tertawa ngikik dalam hati. Pembalasan itu sakit, bung.

Sore itu, sekitar jam 6 sore, Mandor berdiri di depan mimbar yang terbuat dari meja sekolah yang sudah dibuang. Di hadapan dua puluh tujuh bangla terpilih. Tidak jelas bahasa yang diucapkan, campuran antara bahasa Indonesia, Jawa, Bengali, dan tentunya didominasi dengan bahasa Tarzan. Tapi dari gestur Mandor, dia memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan material ke ruangan itu. Ruangan yang dikunci itu.

Tapi bagaimana?

-bersambung-

Thursday, January 03, 2008

Come Back to Life

Once a noble knight protecting his heart, the man was thrown into the darkness, where he was ripped apart over and over for few centuries few months. Now, Blogger.com has thrown him back onto the soil, corrupted and mindless, as Bhrosodaro, the Mighty Busodaro. He marches on, writing his blogs with an unfaltering gaze, knowing only one thing: the orders given to him by the darkness himself. Able to cripple his readers with a powerful magical keyboard, Bhrosodaro is a major threat on the blogosphere. His mighty mouse allows him and others in his presence to drain the concentration of their readers. It is said that he is unkillable, and those who are struck down by his blog post will never stop coming back for more.

Bhrosodaro is back.

--------------------------

FAQ

*) Who is Bhrosodaro?
Salah satu orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Bhrosodaro releases the suffers and misery inside of him, dealing intense laughter and distracting surrounding enemies while hurting Bhrosodaro as well.






Suhu,
mungkin Bhrosodaro pernah mati. Tapi dia punya 200 mana. Dan 140s Cooldown.

Tuesday, January 01, 2008

Happy New Year

2007.

It made us laugh, it made us cry, and it made us laugh at crying people.

Bye 2007.

Welcome 2008.

Another year full of joy, bless, and bloody unreasonable works.

Happy New Year.

Suhu,
kerja seperti kuda gaji seperti babi.