Wednesday, December 31, 2008

Posting Tutup Tahun

Mungkin memang tingkat kesulitan pekerjaan bisa mempengaruhi kelucuan blog. Tapi yang pasti, mempengaruhi frekuensi penulis meng-update blog. Karena kalimat pertama adalah opini sedangkan kalimat kedua bisa dibuktikan dengan statistik dasar. Seratus empat puluh dua post pada tahun 2007 dan posting ini adalah posting keempatpuluh lima di hari terakhir tahun 2008.

Meskipun mood blog ini berubah dari cerita mahasiswa penuh perjuangan mencapai kelulusan [kisah di balik hutan bambu season 2] menjadi legenda mandor membangun nusa dan bangsa [kdbhb season 3]. Tapi tokoh utamanya tetap sama. Panda Tambun.

Di tahun 2007, berbagai tokoh lain juga sempat nangkring di beberapa post sebagai pusat perhatian panggung. Antara lain Andreas Lee dalam Namaku Andreas Lee. Alfonso Hartanto dalam Namaku Alfonso Hartanto.

Tahun 2008 juga merupakan hari lahirnya dua seri baru dalam kisah di balik hutan bambu. Sebagai cerita lepas dari dua seri sebelumnya di tahun 2008 yang berlatar belakang sama yakni PT Bangun Subangkit.

Berikut adalah beberapa judul cerita utama yang merangkai tahun 2007.

Communication Skills adalah cerita bersambung pertama Mandor jagoan yang baru masuk ke
kejamnya dunia.

Mak Ceprottt adalah seri filem laga di Construction Site.

Glodhakkkkk adalah salah kisah tragis di Construction Site.

The Series of Unfortunate Events di akhir tahun 2007 yang bersambung ke awal tahun 2008. Karena memang cerita yang ditulis berdasarkan kisah nyata itu terjadi antara Idul Adha tahun 2007 sampai Valentine tahun 2008 [di mana di antara dua hari besar tersebut semua angka di kalender Suhu berwarna hitam. Termasuk Natal dan Tahun Baru]. Terima kasih atas rasa prihatinnya tapi mohon maaf kami tidak menerima belasungkawa berupa karangan bunga. Uang tunai saja.

Setelah melihat begitu penat dan semua kisah yang ada di blog penuh dengan dunia kerja, Suhu mulai menyadari betapa wasted nya hidup Suhu yang hanya terdiri dari kerja dan tidur. Karena blog ini merupakan cerminan dari hidup Suhu yang sebenarnya, sangat mudah untuk mencermati apa yang terjadi. Suhu perlu bersenang-senang. Maka dari itu, tahun 2008 adalah tahun untuk bepergian.

Bisa ditilik dari cerita bersambung Catatan Perjalanan ke Pulau Dewata. Nampaknya memang pekerjaan Suhu terlalu berat seperti yang sudah diceritakan di seri bersambung You are not Alone. Tapi, acapkali kita selalu bisa menghadapi tekanan dari luar dan bertahan menghadapi masalah yang ada. Mungkin itu pula sebabnya Suhu hendak menge-share apa yang dilakukan Suhu untuk memperoleh sesuap nasi, dalam seri Edukasi Mandor.

Mendekati ke penghujung tahun, Suhu mencari waktu yang tepat untuk melarikan diri setelah salah ngecor tiga lantai bekerja tanpa istirahat sepanjang tahun. Refreshing ke luar negeri adalah salah satu agenda tahun 2008 yang cukup berkesan dan dapat dilihat di Destination Hongkong. Karena jumlah pekerjaan yang meningkat di akhir tahun, akhirnya cerita bersambung Destination Hongkong pun tersendat-sendat update nya.

Tapi jangan khawatir sobat muda di mana pun anda berada, masih bersama saya Panda Tambun yang akan menghibur anda. Di akhir tahun ini, percayalah karena saya masih mencoba untuk percaya, bahwa tahun depan akan lebih baik. Postingan akan semakin sering dan kualitas akan semakin membaik. Baik kualitas tulisan Suhu maupun kualitas gaji mandor PT Bangun Subangkit. Amin. Aplus.

Demikian napak tilas postingan blog dalam setahun terakhir beserta rangkuman judul-judul publikasi cerita bersambung Suhu. Dan untuk apdet kisah hidup sementara ini yang belum sempat ditulis [dipertimbangkan untuk judul cerita bersambung selanjutnya atau hanya untuk ditulis biar tidak lupa untuk diceritakan ke anak cucu]:

- Menemukan musuh besar di lapangan pekerjaan yang membuat mandor sadar, bahwa arsitek is not so bad afterall. Ibarat Power Ranger mengira bahwa Goldar adalah musuh besar mereka dan tiba-tiba mereka jumpa dengan Rita Repulsa. Masih belum terpikir judulnya, kemungkinan besar Suhu akan menceritakan perjuangannya menciptakan mesin waktu. Masih dalam tahap draft, kisah ini kemungkinan akan berjudul The Time Machine.

- Catatan perjalanan ke kota judi Genting, Malaysia. Sesuai dengan kekuatan pedoman Suhu 'lebih baik miskin karena judi daripada judi karena miskin'. Apa yang ada di Genting? Dilanjutkan dengan perjalanan ke Kuala Lumpur Malaysia. Apa yang terjadi di Kuala Lumpur? Nantikan di seri berikutnya, "Malaysia: Truly Asia?".

- Napak tilas perjalanan magang seorang mahasiswa Ninja Turtles University yang berlangsung sekitar tiga tahun silam. Proyek yang dikerjaan mahasiswa itu akhirnya selesai dan dibuka tanggal 11 November 2008. Megastruktur yang dihitung oleh mahasiswa belum lulus itu akan diuji di hadapan jutaan umat manusia pada Countdown Singapore 2008. Ya, penulis blog ini kebetulan adalah mantan mahasiswa teknik sipil yang menghitung kekuatan beton prategang yang menyangga Marina Bridge, sebuah platform fenomenal bagian dari Marina Barrage. Mungkin tidak akan di-publish dalam waktu dekat, karena Suhu ingin menceritakannya secara mendetil dan serius disertai dengan beberapa foto ilustrasi dan penjelasan teknik. Untuk dijadikan artikel attachment resume sekalian. Kalau tidak ada perubahan rencana, judulnya nanti Engineering Marvel.

- Sempat terpikir untuk mengulas topik lebih serius seperti NPWP dan Pemilu 2009. Tapi akhirnya membatalkan niatan karena blog ini lebih baik apa adanya saja. Lagian di zaman seperti ini menyuarakan kejujuran bisa berakibat ancaman masa depan. Anyway, Suhu masih tetap Warga Negara Indonesia yang menurut UUD 45 pasal 6 tidak bisa jadi Presiden. Paling tidak sampai Suhu terpaksa melarikan diri dan menjual kewarganegaraan. Mungkin ke negara kecil ini, mungkin juga ke negara lain. Suhu masih nasionalis, cinta negara Indonesia, yang dulu. Bukan yang brutally menaikkan fiskal tax yang padahal beberapa bulan lalu sempat dirumorkan akan hilang sama sekali.

Yah itu saja dari Suhu sebagai posting penutup tahun.

Greetings of the seasons, readers! Selamat natal bagi yang merayakan dan selamat tahun baru bagi yang merayakan. Untuk beberapa orang masih bekerja di saat tanggalan merah dan orang lain berpesta pora, relax dude, you are not alone.

Suhu,
mandor super sibuk merangkap blogger super ngantuk.

Friday, December 26, 2008

Cute: Ugly but Adorable Edible

Berikut adalah salah satu cuplikan percakapan Suhu dengan salah seorang teman seorang kawan [menurut Friendster, 2nd degree friend].

Latar belakang masalah: Teman seorang kawan ini, sebut saja namanya Ani. Ani hendak membawa anjing pulang ke rumah. Tetapi masalahnya, sebagai makhluk sosial manusia Pancasila, masalah membawa hewan peliharaan masuk ke rumah harus melalui musyawarah untuk mufakat sesuai dengan hukum yang berlaku [Machstaat]. Atau dengan hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah.

Teman serumah Ani, sebut saja namanya Megy. Megy mempunyai afiniti negatif terhadap anjing. Entah apa sebabnya. Hal-hal anti-anjing ini bisa disebabkan banyak hal. Bisa karena phobia, bisa karena trauma, dan dalam beberapa kasus bisa juga karena agama. Tapi untuk Megy, alasan utama adalah alasan higienis.

Memang kebanyakan hewan peliharaan datang bersama penyakit. Memelihara hewan kecil berbulu [marmut, hamster, dan tikus putih misalnya] bisa berakibat pada masalah saluran pernafasan terutama jika hewan ini masuk lubang hidung. Maka hewan-hewan ini kurang cocok dipelihara oleh orang-orang yang rentan dengan masalah kesehatan yang berhubungan dengan pernafasan. Misalnya asma, sesak nafas, dan kentut berlebihan [tidak baik untuk pernafasan hamster].

Lain halnya dengan memelihara hewan sedang berbulu [biasanya kucing dan anjing, meskipun serigala dan lutung juga termasuk kategori ini]. Masuknya hewan sedang berbulu, biasanya tidak sendiri. Mereka datang sepaket dengan kutu-kutuan. Dan untuk beberapa orang, kehadiran mereka bisa memancing alergi yang menyebabkan kulit bentol-bentol secara biadab. Oh iya, air liur anjing juga bermasalah, najis. Nggak cuma anjing, air liur manusia juga kalau berkeliaran bisa bikin masalah.

Nampaknya memang size does matter. Setelah hewan kecil berbulu dan hewan sedang berbulu, kita tahu skala masalah yang kita dapat sebanding dengan ukuran hewannya. Bisa dibayangkan itu pula sebabnya sangat sedikit orang yang memelihara hewan besar berbulu [Singa, Gorila, dan Yeti]. Teman-teman Suhu juga jarang yang memiliki hewan peliharaan. Kecuali tgwinmg tentunya, memelihara Panda.

Tetapi meskipun dengan begitu banyak kendala memiliki hewan peliharaan, buktinya masih banyak saja manusia yang hidup berdampingan dengan binatang. Bahkan anjing sering disebut-sebut Man's Best Friend. Suhu sendiri secara pribadi sebagai a man lebih prefer untuk berteman dengan another (hu)man. Banyak alasan orang memelihara anjing. Mulai dari kemanan, teman kesepian, atau untuk hidangan makan.

Berikut adalah cuplikan chatlogs Suhu:

mandorjagoan: ya bukan begitu ni, tapi kan emang orang punya pendapat beda beda.
anidoglover: kamu suka anjing ga hu?
mandorjagoan: aku suka anjing
mandorjagoan: bakar
anidoglover: iya kan anjing itu paling cocok buat dijadikan peliharaan
anidoglover: maksudmu bakar
mandorjagoan: aku ga suka anjing
mandorjagoan: yang hidup
mandorjagoan: suka yang di sate

*hening sejenak*

anidoglover: KEJIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!
anidoglover: PEMBUNUH!!
anidoglover: KEJAM KAMU HU
mandorjagoan: oh
mandorjagoan: aku ga mbunuh
mandorjagoan: cuma makan
mandorjagoan: yang bunuh orang lain
anidoglover: tetep aja
anidoglover: kan kasian
anidoglover: anjing kan lucu
mandorjagoan: lho ni
mandorjagoan: emang sejak kapan kamu vegetarian?
anidoglover: aku ga vegetarian hu
mandorjagoan: KEJIIIIII!!!!!!!!!
mandorjagoan: PEMBUNUH!!!
mandorjagoan: KEJAM KAMU NI!!!!!

ani has just signed off.

Suhu,
babi kan lucu.

Thursday, December 25, 2008

Hongkong Snacks: The Taste Beyond Your Sky

Kalau di posting yang lalu kita membahas makanan sehat yagn selayaknya dimakan tiga kali sehari. Kali ini kita akan membahas kudapan alias snack yang sewajarnya disantap sepanjang hari.

Membahas makanan yang ada di Hongkong, sebenarnya kita bisa mengklasifikasikan makanan ke dua golongan besar. Yaitu adalah makanan enak, dan makanan sangat enak. Makanan yang enak, seperti telah dibahas di posting perjalanan Hongkong sebelumnya, sangat menggoyang lidah dan menggugah selera. Tapi hanya ada satu masalahnya. Porsi.

Bagi kaum Hawa, porsi makanan di Hongkong ini biasanya agak sedikit terlalu banyak untuk dicerna. Bagi kaum Adam, porsinya banyak tapi sah-sah saja. Sedangkan bagi kaum Panda, porsi tidak pernah menjadi masalah. Tapi itu dia pokok permasalahannya. Apapun yang terlalu banyak itu selalu tidak baik. Demikian pula dengan makanan enak di Hongkong. Mengingat apa yang selalu dikatakan ayah, saat Suhu masih berusia dini.

Makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang.


Nampaknya umat manusia di Hongkong juga tau pemeo ini, dan mereka menciptakan solusi untuk berhenti sebelum kenyang. Snacks. Kudapan. Camilan. Luar biasa.

Camilan pertama perjalanan dari Singapore ke Hongkong, kita dapatkan dari pesawat. Iya, kami naik Singapore Airlines karena kami orang cina berduit ada promo dan harganya lebih murah dari Jetstar.


Cake dari Singapore Airlines. Memang beda ya budget airlines sama airlines bermutu.

Cake ini menjadi teman terbang kami selama sekitar tiga jam. Di pesawat kami menonton film Meet Dave dan Get Smart, juga beberapa iklan Singapore Airlines yang menurut kami kurang efektif. Sebaiknya iklan Singapore Airlines ditujukan pada orang-orang yang masih bisa memilih antara Singapore Airlines dan tidak. Bukan orang-orang yang sudah terikat sabuk pengaman kursi pesawat.

"Ah nggak enak deh pesawat ini ... mbak pramugari, bisa pinjam parasut? Saya mau turun." adalah salah satu kalimat yang belum pernah terdengar di sejarah civil aviation.

Cake yang disediakan oleh Singapore Airlines rasanya enak. Dan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa cake ini disajikan oleh pramugari yang sudah keliling dunia. Seandainya saja, kami tidak melakukan kesalahan kecil itu, pasti rasa enak cake ini masih kami ingat. Tapi apa boleh buat, kami melakukan sebuah kesalahan kecil yang membuat kami melupakan rasa cake itu. Kesalahan kecil. Kami mendarat di Hongkong.

WARNING! Not for the faint-hearted. Beberapa makanan berikut mengandung babi. Sisanya mengandung alkohol. Atau apapun isinya, yang pasti bisa membuat kamu high.

Sajian #1 : Sabu-sabu. Sarapan Bubur.

Makanan berikut ini, mungkin sudah wajar di mata kalian. Bubur. Tapi jangan salah. Bubur sendiri ada berbagai macam. Mulai dari Teochew Porridge, Damizhou, sampai bubur porsi kuli kantin satu stallnya namanya Best Porridge kalau beli di sana titip salam buat auntie nya dari Suhu forever frenzzz metallica yeah salah satu versi bubur di Hongkong yang tampak di foto ini.

Namanya, maaf, Sampan Cok. Beneran namanya itu, tidak dibuat-buat. Orang setempat menyebutnya Tang Chai Chook alias Bubur Sampan. Bermula di salah satu daerah di Cina di mana para penjual buburnya menjajakan bubur dari atas sampan, resep bubur ikan ini bertahun-tahun diturunkan ke anak cucu nya yang menjadi Cina perantauan. Berbekalkan resep dari leluhur mereka membuka kedai bubur, dan memuaskan lara dahaga sesama cinta perantauan akan rindu pada citarasa kampung halaman.

Satu seruputan Sampan Cok, lidahmu akan mengirimmu kembali ke beberapa zaman silam. Di mana para engkoh-engkoh cina kurus bertelanjang dada mengarahkan sampannya menghindari sampan penjual lain sambil berusaha menyeimbangkan mangkok kecil berisi bubur ikan. Ya, rasanya seenak itu. Bisa membuatmu berhalusinasi. High-nya setinggi itu.

Untungnya bepergian bersama pacar adalah para wanita tidak bisa makan terlalu banyak dan kita mendapat jatah lebih banyak kita bisa memesan beberapa jenis makanan untuk kemudian di-share. Karena di Asia, dinilai agak kurang sopan kalau ngajak nge-share sama orang meja sebelah yang baru ketemu lima menit yang lalu. Di mana yang nggak?

Sajian #2: Namanya pakai bahasa piktograf. Kami bukan bermaksud merahasiakannya, tapi kami memang tidak tahu.

Barusan adalah paragraf pembuka yang akan mengantarkan kita ke sajian selanjutnya. Karena bubur bukanlah hidangan normal untuk porsi dua orang dewasa, kami membeli snack lain. Yang ini harganya 12 HKD tapi aku lupa namanya apa. Karena namanya berupa sandi gores. Jangan khawatir, meskipun tidak tahu namanya, Suhu dan tgwinmg tahu pasti kalau kita sedang membicarakannya. Karena kami memberinya nama sendiri. Makanan ini kami sebut. Paradise.

Lapisan putih yang kalian lihat di foto itu terbuat dari beras. Rasanya seperti nasi, lontong, ketupat, dan handai taulannya. Karbohidrat murni. Saat kamu gigit. Lumer di lidah. Lalu perlahan keluar rasa manis yang lembut. Seperti kalau kamu ngemut tiga butir nasi selama lebih dari lima menit. Oh oke, buat yang gak tahu rasanya, silakan dicoba habis ini. Tapi prosesnya jauh lebih cepat daripada ngemut nasi selama lima menit.

Rasanya yang subtle mengizinkan kita untuk lebih ingin tahu, apa yang terjadi kalau gigitan kedua kita lebih besar. Ternyata rasa manisnya tidak bertambah. Tidak menjadi terlalu jenuh di lidah. Mengundang rasa ingin tahu. Kalau kulitnya saja seenak ini. Apa kira-kira isinya. tgwinmg memberanikan diri untuk mencobanya terlebih dahulu. tgwinmg terdiam selama beberapa detik. Tidak menjawab pertanyaan Suhu tentang bagaimana rasanya.

Suhu menyusul untuk mencoba. Sebuah reaksi yang sangat aneh mengingat biasanya orang cenderung panik dan curiga kalau kalau lawan bicaranya keracunan. Tapi Suhu bukan orang biasa, dan dia sudah terlanjur menggigitnya. Terjadi sensasi luar biasa di dalam mulutnya. Cairan berwarna merah itu mengalir di antara sela-sela giginya. Inikah rahasia yang dibalut oleh selaput karbohidrat yang murni tanpa noda.

Charsiew.

Jenius. Dagingnya tidak terlalu keras, empuknya merata di seluruh bagian, menunjukkan kalau sebelumnya sudah dimandi uap layaknya presto, bukan dipukuli palu daging secara brutal. Saat digigit intisari minyak babinya menyeruak ke semua tonsil indra perasa, mengalir deras ke tonsil faring, dan menggelitik epiglotis. Dan dalam sekejab liputan wisata kuliner menjadi diktat Biologi.

Apa itu yang di sebelahnya. Cairan hitam itu masih misterius sampai sekarang. Bayangkan rasa nikmat charsiew dibungkus macam lumpia tebal. Katakanlah rasa enaknya, dalam skala satu sampai sepuluh, ya kira-kira sembilan belas delapan setengah. Setelah dicelupkan cairan hitam misterius ini, nilainya menjadi tigapuluhtujuh. Bukan kecap asin, bukan tauco, bukan cuka, dan bukan kecap manis. Berdasarkan deduksi kami berdua dari efeknya. Dugaan sementara kami, minyak mariyuana.

Kami tahu apa pertanyaan para pembaca yang penuh rasa ingin tahu. Apa yang ada di sebelah makanan dewata itu. Sudah kami bilang, cairan hitam itu kami tidak tahu. Oh sebelahnya? Heran, kalian koq bisa lihat. Padahal sudah kututup-tutupi. Oke, untuk beberapa pembaca yang kurang lapar dan tidak bisa melihat. Suhu berikan foto yang mencakup makanan dewata bersama temannya.

Makanan dewata tidak datang sendirian. Sajian #3: Bakcang

Bakcang ini sebenarnya cukup umum di Indonesia. Makanan tradisional orang Cina yang kaya akan sejarah. Bakcang pertama sebenarnya dibuat bukan untuk manusia. Tapi untuk ikan-ikan. Alkisah Qu Yuan yang dicintai masyarakat mati bunuh diri loncat ke sungai Mi Luo. Agar ikan-ikan tidak makan jasadnya, masyarakat melempar bakcang ke dalam sungai. Begitulah sejarahnya. Tapi manusia modern semakin pandai. Mereka tahu jazad manusia pada akhirnya akan mengapung kalau masih tersisa setelah dimakan ikan-ikan karnivora. Dan mereka tahu kalau ikan-ikan karnivora jelas lebih suka daging lima puluh kilo daripada lemper buatan orang sipit. Maka akhirnya makanan ini tidak lagi mereka buang ke air, tapi dimakan sendiri.

Sajian #4: Herbal Chicken

Mungkin waktu kalian lihat fotonya, reaksi pertama kalian adalah Edan, gigi Suhu koq ga rata banget ya? Itu ayam??? Oke. Meskipun Suhu tidak bisa baca tulisannya. Tapi Suhu jelas secara mental dan spiritual bahwa itu ayam. Sebelum menjelma menjadi makanan enak, ayam ini sempat jacuzzi di kolam ginseng dan lulur TOGA [tanaman obat keluarga, bukan baju badut yang dipakai sarjana] di Spa Tataboga. Meskipun Suhu tahu dalam benak kalian ada yang bertanya-tanya "Sejak kapan Half Chicken masuk kategori cemilan?". Anyway, ayamnya rasanya seperti ayam kampung Bu Sri di Pandaan [Ini nama tempat, beneran ada, bukan dibuat-buat biar kedengeran seperti kampung halaman Panda Tambun].

Kalau kamu sempat mencoba ayam kampung Bu Sri [di Pandaan, bukan di Hongkong], jangan sisihkan kulitnya. Aku tahu beberapa orang menyisakan kulit ayam karena menurut majalah-majalah kurang sehat dan bisa mengurangi usia di dunia. Tapi jangan lewatkan kulit ayam Bu Sri, karena eh karena, menurut Suhu terlalu enak untuk dilewatkan. Peduli setan nggak sehat, hidup cuma sekali kulit ayam tidak dibawa mati. Kalau memang benar kulit ayam segitu tidak sehat, tentu kita sudah melihat "Peringatan Pemerintah: Ngemil kulit ayam dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan kesehatan janin" di mana-mana. Tapi nyatanya, Matos hypermart masih menjual kulit ayam goreng per 100 gram. Iya, dari kasir 15 lurus belok kiri, bu.

Sajian #5: Kerupuk (kulit) ikan

Bicara tentang kulit, bagaimana dengan kulit ikan? Ada yang suka kulit ikan? Pernah makan ikan goreng pakai tangan? Kalau megang kulit ikan goreng secara langsung dengan tangan, ujung jari bisa berwarna keperak-perakan kaya protein. Pernah beli krupuk ikan di Singapore? Yang sebungkus dua dolar satu sisi plastik transparan satu sisi grenjeng warna perak? Iya, yang amis itu. Yang di Hongkong, rasanya tetap seperti ikan, tapi minyaknya tidak berlebihan, baunya tidak amis, renyah di lidah tapi tidak terlalu keras untuk digigit.

Kerupuk ikan bersama fishball beehoon

Benar-benar pasangan sejati untuk makanan berkuah panas seperti fishball beehoon. Meskipun belum dicoba secara pribadi, tapi rasanya cocok juga dimakan bersama bubur. Seperti pengganti cakwe [gorengan panjang-panjang yang dijual berpasangan]. Memang dalam masalah kuliner bukan hanya rasa makanan individual yang penting. Kombinasi dengan makanan lain juga penting untuk mencapai rasa yang maksimal.


Sajian #6: Western Food

Satu yang jangan kamu coba saat pergi ke negara-negara di Asia. Jangan berlagak bule. Kami mencoba Western Food bukan atas dasar ingin sok bule. Tapi karena kami ingin memberikan ulasan secara meluas tentang berbagai macam masakan di Hongkong, baik oriental maupun kanibal kontinental. Salah satu alasan lain, Western Food ini letaknya di bawah penginapan kami dan kami bangun kesiangan buat cari tempat sarapan. Seperti yang bisa kalian lihat di foto, kami memesan Macaroni [makanan yang selama ini aku kira namanya Macarena] dan sliced ham. Ditemani dengan sandwich dan telur. Sarapan gaya bule di negara yang mayoritas umat penduduknya ngomong bahasa unggas.

Western Beverages hee hee hee *hiks* heee ...

Ngomong tentang orang Barat belum lengkap tanpa minuman beralkohol yang bernama Bir. Bahkan di beberapa tempat di Eropa, harga bir lebih murah daripada air mineral. Di Hongkong, harganya lebih murah daripada harga di Singapore. Orang suka mminum bir, dikurung di Singapore bertahun-tahun, dilepas di Hongkong, harga bir lebih murah daripada di Singapore. Hasilnya? Do the math.

Corona botol di Hongkong harganya kayak Tiger kaleng di Singapore

Sudah bukan rahasia kalau Suhu makan babi dan minum-minuman memabukkan secara teratur dan berkala. Tidak pernah mendapat souvenir dari Coca-cola atau gantungan kunci dari minuman isotonik berkarbonasi. Tapi tersebar di seluruh penjuru kamar adalah bantalan kursi berlogo Carlsberg, kartu poker bergambar Tiger, payung berlogo Heineken dan Tshirt dengan logo bir Bintang. Hongkong, mungkin benar-benar tempat wisata kuliner ideal untuk Suhu. Sebuah tempat di mana kita bisa mengeksploitasi kenikmatan duniawi.

Ibarat makan cakwe ditemani tenggakan bir.

Tentu saja, selama kita tidak menutup diri sendiri terhadap petualangan. Berani berbeda. Berani mencoba sesuatu yang lebih. Misalnya mengkombinasikan adat barat dan Timur. Ibarat makan cakwe ditemani tenggakan bir.

Suhu,
hee hee *hiks* hee .... *sempoyongan*

Wednesday, December 03, 2008

Mandor Tanpa Waktu dan Janji Janji Palsu

Setelah berjanji mengapdet blog ini pada mantan guru teka, Suhu masih belum juga menemukan waktu untuk melanjutkan kisah perjalanan ke Hongkong. Bahkan sampai saat ini, proses mengupload foto juga masih belum selesai. Maklum, foto Disneyland dan Ocean Park jumlahnya sekitar tiga ratus trilyun dua ratus lebih.

A lot of things happened recently.

Awal bulan November ini, menejerku mengambil urgent leave karena ibunya masuk rumah sakit. Lalu mengambil annual leave karena ibunya dirawat di rumah sakit. Lalu mengambil compassionate leave karena ibunya meninggal. Otomatis pekerjaan menejer juga tumpah ke tangan mandor. Bagi yang kurang jelas, silakan baca buku IPA kelas 5 eSDe tentang rantai makanan.

Sangat beruntung pada saat itu, asisten Mandor yang satu, Martin, pergi ke Filipin untuk cuti tahunan. Asisten Mandor yang satunya, Tantan, otomatis merangkap pekerjaan dua asisten Mandor. Sementara rekan engineer yang mengurus services seperti electrical dan plumbing works, Calvin, mendadak harus pergi ke Malaysia karena adiknya ditangkap polisi di Kuala Lumpur dan dipenjara. Oh, aku sudah bilang belum, kepala suku Bangla sakit keras.

Terhitung tanggal 13 November 2008, masa ujian di SLTP Sukamaju sudah usai. Berarti anak-anak SLTP Sukamaju libur. Berarti pekerja-pekerja PT Bangun Subangkit mengambil kekuasaan dan sepak terjang kami akan berkumandang sampai tanggal 2 Januari 2009. Bingung? Artinya, tidak ada libur dari tanggal 14 November sampai 1 Januari. Iya, aku tabah dan tegar. Lagipula ini bukan pertama kalinya.

Itu juga salah satu sebab Suhu tidak bisa melanjutkan cerita tentang makanan-makanan enak. Lho? Tapi koq ada waktu nulis ini? Ya, semuanya itu tergantung mood. Kalau moodnya lagi hepi, bisa nulis tentang kisah perjalanan yang hepi-hepi. Kalau moodnya lagi seperti ini. Mood seperti apa?

Oke. Untuk memperburuk masalah. Mari kita simak berita ini. Tenang. Ini bukan site Suhu. Tapi mengingat kecenderungan Departemen Tenaga Kerja negara kecil ini, tentu kita sudah tahu apa yang akan terjadi. Oh, kecelakaan di proyek sekolahan. Untuk mencegah terjadi kecelakaan yang sama, kita akan sweeping semua proyek sekolahan. Oh ya, Suhu sudah bilang kan, kalau proyek Suhu adalah mbangun sekolah?

Tak berapa lama kemudian, Channels News Asia memberitakan berita ini. Lalu Departemen Tenaga Kerja melihat. Oh, ada kecelakaan di Bukit Panjang. Oke, kita akan sweeping semua proyek di Bukit Panjang. Oh ya, proyek Suhu adalah sekolah di Bukit Panjang.

Dan Departemen Tenaga Kerja negara ini suka memberlakukan peraturan-peraturan yang kurang bisa dicerna akal sehat. Cerita mendetil tentang ini akan diposting di lain waktu, kemungkinan besar setelah Suhu menjadi warga negara Amerika Serikat dan tidak lagi membutuhkan izin tinggal di sini.

Ibaratnya seorang guru melakukan razia narkoba di sekolah, lalu menemukan VCD porno dan contekan di tas seorang siswa. Begitu pula Departemen Tenaga Kerja melakukan penggerebekan di site-site kami. Kecelakaan di site lain, kami punya kesamaan, baik lokasi maupun jenis pekerjaan. Kami digerebeg, lalu dipinalti karena kesalahan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecelakaan tersebut di atas. Di mata hukum, sah. Yang buat hukum, mereka sendiri. Terus kita kapan menangnya?

Yang pasti, tidak mudah untuk seorang Mandor mengatasi semuanya sendiri. Tapi selalu ada jalan keluar dari masalah. Janji-janji palsu.

Jadi kapan kamu bisa menyelesaikan report ini?
By the end of today.
Kapan Calvin datang?
Tomorrow.
Bisa bantu bikin ini buat sekolah nggak?
Can, I will arrange it.
kapan update blog, Hu?
weekend deh.

Suhu,
mandor dengan janji-janji palsu.

Wednesday, October 29, 2008

Hongkong Delicacies: Long Lost Taste of Happiness

Setelah meninggalkan The Peak beserta Madamme Tussaud. Dua turis ini bingung tak tentu arah. Tapi kami tetap tenang. Karena memang kami sudah terbiasa bingung. Senja menyambut dan perut mulai bergemuruh. Suhu mulai cemberut dan tgwinmg mulai mengeluh. Kami lapar.

Mengingat-ingat pesan Alfonso beberapa minggu yang lalu, "Hongkong itu seperti Makasar dua puluh tahun yang lalu". Dan berbekalkan basic cantonese yang diajarkan Andreas Lee, "tuai tuai de". Kami mulai mencari warung Coto Makasar. Maksudku, mencari tempat makan sederhana.

Berbekal peta turisme, kami mencari tempat makan

Membaca peta turisme dengan perut lapar, kami segera menentukan tujuan berikutnya. Tempat yang menawarkan makanan enak dan kegiatan malam. Ladies Street [Nv Ren Jie]. Dilihat dari namanya tentu kalian sudah bisa membayangkan apa atraksi yang ada di sana. Menurut review dari website-website dan informasi pariwisata, tempat inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisata malam hari.

PROSTITUSI LEGAL!!!! DHUWAAAAA!!!


Becanda.

Tempat ini adalah salah satu pusat perbelanjaan yang buka sampai dini hari. Suasananya kurang lebih seperti Bugis Street di Singapore. Tapi kesannya lebih leluasa dan kira kira tujuh kali lebih panjang tiga kali lebih lebar dan atapnya satu setengah kali lebih tinggi.

Aku melihat dan memandang, menggeliat dan menerawang. Jalan besar kami lalui, belok ke jalan kecil, melihat gemerlap Hongkong di malam hari. Saat perut kami memegang kendali, kami masuk ke sebuah warung. Tempat makan di Hongkong lebih mirip dengan Makasar Indonesia daripada Singapore. Dalam artian, setiap rumah makan mempunyai 'tanah' sendiri. Tidak seperti Singapore di mana orang hanya punya kios/kedai sewa dan tempat duduk nya gabungan untuk beberapa warung di mana para pembeli bebas duduk di mana pun.

Bingung? Nggak pa pa. Makan. Ngerti makan? Cukup.

Warung pertama yang kami masuki cukup bersahabat. Dapur terletak di depan, dengan kaca besar menghadap trotoar. Tentu saja tujuannya bukan untuk memamerkan kekejian mereka menggantung bangkai babi dan ayam. Tapi sajian-sajian yang mereka siapkan dan asap yang mengepul buas dari dapur itu. Cukup untuk membuat dua turis kelaparan terhipnotis masuk ke dalam.

Eh kiam choy seng...
Sumimasen ... wakarimasen .. *saking kelaparan ga bisa membedakan Cantonese dan Japanese*
Do you have English menu?
Welcome welcome.
Haiiikkk .... *saking gembira ga bisa membedakan English dan Japanese*

Kami memilih dua masakan yang berbeda. Sudah menjadi hukum tak tertulis antara Suhu dan tgwinmg bahwa kami tidak akan membeli makanan yang sama. Kami selalu mencoba sebanyak mungkin variasi makanan untuk memperluas pengalaman wisata kuliner. Karena tgwinmg selalu mencicipi dari piring Suhu. Dan Suhu selalu menyelesaikan setengah dari piring tgwinmg.

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Menu berbahasa piktograf [entah ini huruf cina, jepang, korea, atau mesir], terdiri dari foto-foto menarik. Dan jutaan pilihan dalam belasan lembar buku menu. Saat kami minta menu in English, yang datang hanya satu lembar A4 bolak-balik. Kami sempat curiga mereka menyisipkan artikel kontak jodoh di menu makanan berbahasa lokal.

Karena kami tidak mau rugi, kami ngotot memesan makanan dari menu berbahasa Mandarin. Meskipun dua orang ini kalau di Malang selalu diteriaki "Cino medhit! Cino medhit! sama anak-anak gang sebelah. Tapi kami warga negara Indonesia seutuhnya. Tidak bisa baca huruf Mandarin. Ciburup. Cino buta hurup.

Berkat gemblengan Elementary Chinese di Ninja Turtles University dulu. Suhu tahu kalau beras itu huruf nya yang mirip bendera amerika. Saat melihat menu itu. Terlihat huruf-huruf yang familiar. Ini adalah huruf yang artinya 'beras'. Berarti ini mestinya sesuatu yang mengenyangkan. Harganya 35 HKD. Berarti ini seharusnya termasuk Main Course.

Ya. Suhu sudah memperhitungkan kemungkinan salah pesan dan mendapatkan bubur atau tajin. Tapi didukung pula dengan foto di sebelahnya, ini terlihat seperti main course. Take the gamble. Kita pesan ini. Apapun itu. tgwinmg pun memesan sesuatu yang hurufnya familiar dengan karakter Hor Fun.

Ini yang muncul.

Kami menunggu sambil minum air hangat. Nampaknya hal biasa di sini. Air hangat gratis di restoran. Seperti beberapa warung di Malang menyediakan teh manis gratis. Tak berapa lama kemudian tgwinmg mengamuk karena kelaparan makanan datang bersama waiter. Maksudku, waiter datang bersama makanan.

Waiter sempat menanyakan sesuatu pada kami dalam bahasa alien. Tapi artinya bisa kami tebak. Kira-kira dia bertanya. Piring ini siapa yang pesan. Piring itu siapa yang pesan. Kami jawab "OKAY". Karena kami sudah kelaparan dan tidak tahu apa yang kita pesan. Nampaknya kami mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kami. Sesuatu yang ... random.

Milik Suhu adalah semangkok mi beras bumbu ayam jamur dengan gumpalan daging babi [awas haram!]. Sementara milik tgwinmg adalah Horfun dimasak dengan taoge dan sayur-sayuran tak dikenal dengan citarasa oriental dengan irisan tipis daging dada ayam, bisa ketahuan dari pola seratnya.

Suhu mengangkat sumpit. tgwinmg mengelap sumpit dengan tisu. Kami melahap makanan di depan kami. Air mata meleleh ke ujung pelipis kami. We have found our purpose in life. Ibaratnya melalui penderitaan untuk mencapai kesempurnaan. Kami melihat sinar. Mendengar dengungan harpa yang dipetik para malaikat. Makanan ini. Telah membuktikan filosofi Nothing is Perfect tidak lagi berlaku. Makanan ini. Sempurna.

Sempurna - Andra & The Backbone

Hangat di lidah. Tidak terlalu asin. Jamur yang empuk. Serat ayam yang lembut tapi tidak hancur. Dan yang terpenting, tidak nyangkut di gigi saat digigit. Untuk beberapa menit ke depan kami merasakan surga. Sampai tiba saatnya membayar. 35 HKD memang bukan uang yang kecil. Tapi. Porsinya juga tidak sedikit. Menggembirakan. Ladies and Gentleman. Welcome to Hongkong. The Land of Good Food.

Oke. Yang lagi exam, silakan lanjut belajar satu chapter lagi. Nanti lanjut lagi bacanya.

----------- Belajar buat exam ----------------------

Selamat. Kamu sudah selesai belajar satu chapter. Pusing? Sini, Mandor petualang akan memberikan reward. Catatan perjalanan Panda Tambun yang hijrah ke kampung halaman.

Tetapi pengalaman kami dengan makanan di Hongkong tidak selalu berakhir baik. Seperti di malam berikutnya. Mengikuti pola mencari warung sederhana, Suhu dan tgwinmg merangsek sebuah warung lain. Kami masuk dan warung itu menyediakan air hangat. Tradisi rupanya. Setelah menenggak beberapa teguk air hangat itu. Kami mulai melihat-lihat menu.

Di sini lah mimpi buruk kami dimulai.

TIDAK ADA BAHASA INGGRISNYA! DDHUUWWAARRRR

Untungnya ada foto di setiap baris aksara cina yang dahsyat. Oke. Paling nggak kita bisa milih. Terus gimana pesennya? Tapi masalah ini bukan halangan bagi seorang Mandor yang pekerjanya tidak bisa bahasa manusia Inggris. Dengan penuh percaya diri, Suhu memanggil waiter.

Halo. This one. One. *tunjuk*

Waiter terkesima dengan bahasa inggris Suhu yang luar biasa memukau singkat padat jelas tepat pada sasaran. Lalu waiter berusaha untuk berkomunikasi setelah mengetahui dua orang bermuka cina ini gak bisa ngomong cantonese sama sekali. Setelah dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dua orang ini ngomong bahasa alien yang lebih dikenal sebagai Boso Jowo. Waiter mencoba menyusun kata-kata di dalam kepalanya menjadi sebuah kalimat.

Okay! Okay! One chap choy em sing khoy lak khor tiu bo lu lei yaaa. How many spicy?

Luar biasa. How many spicy. Ini benar-benar serasa di construction site.

One and a half Little bit spicy.

Kejadian berikutnya akan membuat seluruh umat manusia menyesal tidak belajar sejak Cantonese sejak usia dini.

Pesan Pangsit Mie Ayam dikasi Gunung Krakatau Meletus

Awalnya Suhu kira hanya penampilannya saja yang seram. Tapi setelah seruputan pertama. Keringat menetes. Minum air hangat. Tidak membantu. Gigit acar. Fhewwww. Adeemmm. Setelah efek acar worn off, lidah terasa tebal. Oh. Mungkin karena ini sambel ditaruh di bagian atas. Diaduk merata. Campur. Seruput.

Tiba-tiba dunia serasa gelap. Air mata berlinang perlahan di pipi. Hidung mbeler. Di background serasa terdengar suara sholat khusuf dua rokaat. Suasananya benar-benar tidak bisa didefinisikan. Keputusan mencampur sup itu adalah kesalahan terbesar kedua Suhu. Kesalahan terbesar pertama adalah dilahirkan jadi Cina di negara indonesia.

Tapi karena sudah dilatih untuk tidak membuang makanan oleh papa dan mama. Suhu tetap berusaha menghabiskannya. Juga untuk memberikan reportase lengkap pada para pembaca. Siapa tahu di beberapa seruputan terakhir, rasanya seperti ganja. Suhu mengemban tugas berat untuk menghabiskan pangsit mie ayam yang lebih tepat disebut Neraka [Andreas Lee, 2006].

Sampai seruputan terakhir, rasanya masih seperti gunung krakatau

Setiap suapan yang masuk ke mulut Suhu. Rasanya seperti rokok. Serasa menghisap rokok kretek. Dari ujung yang salah.

By the way. Aku tahu kamu barusan tidak benar-benar belajar satu chapter sebelum membaca lanjutan post ini. Jadi sekarang kesempatan kamu untuk benar-benar belajar biar tidak terlalu merasa bersalah. Ayo, kerjakan satu past year exam. Nanti kalah sudah kelar, baca lagi.

---------------------SIMULASI EXAM --------------------------------------------

Please Stop Writing!

Gimana simulasi examnya barusan. Gak bisa? Gak pa pa, itu udah biasa. Yang penting nanti waktu ikjem beneran harus bisa. Semangat!

Lanjut ke tempat makan lain. Tidak hanya makanan saja yang aneh-aneh di negara ini. Di restoran berikutnya. Perlu diketahui tempat-tempat ini didatangi tidak secara berkelanjutan nonstop. Kami tidak serakus itu. Kami tidak hanya menjumpai makanan yang aneh. Kali ini kami menjumpai minuman aneh.


Pepsi Lemon with Ginger

Salah satu yang paling menarik perhatian kami adalah Lemon Pepsi with Ginger. Yang lebih mengejutkan lagi adalah saat gelasnya datang.

Whoa!!! Panas!!!
Heee?
Luar biasa, yang! Pepsi anget!

Nampaknya kita sudah ketinggalan zaman. Saat orang orang kita masih minum wedang jahe. Mereka sudah menciptakan Pepsi lemon jahe anget untuk mengatasi masuk angin.

Jangan heran jika Suhu bisa menulis dengan jelas. Karena di menu warung ini setiap baris ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Inilah yang menyebabkan kita mempunyai intelejensia yang cukup untuk memesan Baked Rice.

Tak lama kemudian. Baked Rice datang bersama. Sumpit.

Sumpah. Orang sini benar-benar kreatif. Setelah memastikan di sekeliling kami tidak ada kamera tersembunyi yang akan membuat kita ditertawakan segenap populasi Hongkong di acara malam minggu. Suhu mencoba memakan Baked Rice dengan sumpit.

Nampaknya Oom kepala waiter memahami kesulitan manusia biasa untuk memakan baked rice dengan sumpit. Dengan tersenyum-senyum mesum. Dia meletakkan sendok dan garpu di meja Suhu dan tgwinmg. Lalu Suhu, tetap berusaha memakai sumpit. Sementara tgwinmg menggerogoti Baked Rice dari sisi satunya dengan sendok. Sepiring berdua. Biar mesra. Alasan sebenarnya adalah karena mata uang Hongkong kami sudah menipis.

Baked Rice with Chicken Steak

Nampaknya Oom kepala waiter melihat kesulitan kami. Datang kembali dengan senyum imut nya. Memberikan sepasang sendok dan garpu lain. Dan sebuah mangkok kosong. Nampaknya dia menganjurkan agar kami tidak menunjukkan perilaku terlalu memelas di hadapan umum. Kami berusaha membagi baked rice itu menjadi dua sama rata. Tapi nampaknya Chicken Steak yang sepaket dengan baked rice itu sangat susah dipotong.

Oom waiter datang lagi dengan pisau. Dengan senyumnya. Nampaknya dia mengira kami berdua turis dari negara yang tiap makan pakai pisau dengan garpu. Terlebih lagi didukung dengan kami memesan Baked Rice. Setelah proses ritual yang khusuk disertai dua pasang sumpit dua pasang sendok garpu dan satu pisau di tengah meja. Kami mencoba Baked Rice with Chicken Steak yang merupakan Chef Recommendation warung yang menyediakan wedang Jahe pepsi tersebut di atas.

Kami telah menemukan tujuan hidup manusia. Ini adalah yang dicari oleh umat manusia. Ayam yang tidak alot digigit. Tapi tidak terlalu lembek. Seratnya terasa per helai tapi tidak nyangkut di sela-sela gigi. Telur dadar yang meleleh di lidah. Nasi yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu berair. Baked Rice with Chicken Steak ini sudah surpass kenikmatan duniawi.

Gembira kalau diberi makan, keturunan panda atau lumba-lumba

Inilah petualangan wisata kuliner kami. Mungkin tidak semuanya berkenan di hati pembaca. Tapi. Kami tidak peduli. Kami telah mencapai penerangan sempurna. Kami melihat pintu surgawi. Kami mengintip taman bermain para malaikat. Kami sempat merasakan paradise. Semua perasaan yang tidak bisa dialami manusia biasa yang belum mencoba makanan-makanan Hongkong. Tapi kami tahu kami salah.

Kami tahu kami belum sampai di surga.

Karena kami mencapai surga lapis ke tujuh. Setelah mencoba snack/cemilan di Hongkong.

Suhu,
mencari surga dunia.

Berikutnya Hongkong Snacks: The Taste Beyond Your Sky hanya di kisah di balik hutan bambu.

Monday, October 20, 2008

Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa

Setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu kita masih kecil dan belum sekolah, satu-satunya panutan yang ada di rumah hanya orang tua. Sehingga sebagian besar anak kecil berusia dua sampai lima tahun, jika ditanya "Uda gede nanti mau jadi apa?" mereka akan menjawab "Mau jadi seperti papah/mamah!".

Kemudian, setelah mereka beranjak masuk sekolah, tiba-tiba akan ada trend semua ingin jadi guru. Karena guru adalah orang pertama yang mereka jumpai di luar rumah selain tukang kebun dan bapak becak. Karena di mata mereka, guru adalah seorang suri tauladan yang tahu sangat banyak hal yang mereka tidak tahu. Little do they know bahwa sebenarnya sekolah adalah sindikat kejahatan berkedok pendidikan.


Kebanyakan pingin jadi guru, dosen, tutor, atau apapun yang otaknya kayak Einstein.

Lalu mereka beranjak lebih dewasa dan pelajaran sekolah mulai membahas tentang Occupation atawa mata pencahar pencaharian. Cara-cara mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situ mereka mulai menetapkan cita-cita mereka. Selain sebagai pemicu motivasi mereka untuk menggapai aspirasi itu, juga biar bisa ditulis di buku memo teman sebangku biar dibaca teman-teman sekelas yang belum mengisi. Biar keren. Karena semua menulis cita-cita yang, bagi orang dewasa, kurang realistis. Ya, namanya juga anak kecil. Dilihat dari jumlah murid yang bercita-cita jadi presiden di kelas Suhu dulu, setiap propinsi Indonesia merdeka juga masih ada teman sekelas yang gak kebagian kursi. Mungkin itu sebabnya tuhan menciptakan partai oposisi.


Kadang mereka lupa bahwa gaji presiden itu juga dari kita, para pembayar pajak.




Demikian pula dengan antek-antek pemerintahan yang lain.




Tapi kalau senantiasa diingatkan, yang berkuasa pun biasanya tak senang.


Lalu sekitar kelas lima atau enam eSDe, pandangan kita mulai berubah. Kita mulai mengenal dunia. Tentu saja dari layar kaca. Kita bercita-cita sesuai dengan minat dan bakat meski kurang bakat. Mulai dari pingin jadi olahragawan, selebritis, pesilat, sampai jadi agen rahasia. Meskipun setelah beberapa tahun kemudian, jika kita menengok silam. Cita-cita itu cuma bikin ketawa kecil di dalam hati.


Ingin jadi olahragawan meski takdir tak mengizinkan.




Ingin jadi selebritis tapi bakat tak menggubris.




Ingin jadi pesilat tapi tubuh kurang kuat.




Ingin jadi agen rahasia takut dibunuh mafia.




Ingin jadi terkenal walapun cuma mengkhayal.



Apa daya. Semakin dewasa manusia semakin mengerti. Cita-cita bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Cita-cita hanyalah sesuatu yang dipakai. Untuk memotivasi kita meraih sesuatu yang belum tentu kita dapat. Dan untuk mengisi buku memo teman sebangku kita di sekolah dasar. Tentu tidak semua orang gagal menggapai cita-citanya. Tapi kebanyakan orang memang iya. Orang-orang yang punya drive, talent, dan opportunity. Mereka yang bisa menjadi bintang. Menggapai cita-cita mereka yang gemilang.



Dan orang-orang itu tidak banyak. Mereka bisa kita temui di Museum Patung Lilin cap Madamme Tussaud. Tempat di mana orang-orang terkenal dibunuh lalu diawetkan diabadikan dalam bentuk patung lilin. Dan itu adalah tujuan kita hari ini. Setelah selesai unpacking, cuci kaki, cuci tangan, baring-baring, bobo siang, kami bergegas menuju ke Madamme Tussaud.


Angelina Jolie diawetkan.



Dengan tangan hampa kami berdua berangkat ke stasiun kereta. Tangan hampa karena kami membawa ransel. Untuk menuju ke museum Madamme Tussaud yang ada di pucuk gunung itu, kami harus naik tiga puluh tujuh eskalator melewati objek wisata lain yang disebut The Peak. Meskipun orang jakarta lebih suka menyebutnya "Puncak", tapi percayalah, mereka salah.


Dua turis di depan pintu masuk lereng Terminal The Peak Tram



Untuk menuju ke The Peak ini, para turis bisa memilih untuk menaiki Peak Tram berdurasi tiga menit. Sebuah kereta listrik yang tanjakan relnya hampir membentuk sudut tujuh puluh tiga koma delapan derajat dari permukaan tanah rata. Atau naik bus seharga belasan dolar dari terminal memakan waktu sekitar setengah jam. Atau berjalan kaki mendaki sampai jumpa di atas tiga tahun lagi. Melihat jalur dakian gunung itu, kalau kamu tidak punya uang, kamu punya dua pilihan: mengemis untuk beli tiket atau mendaki. Tips: Mengemis jauh lebih cepat.

Agar bisa menikmatinya, kami menempuh perjalanan dengan naik kereta api tut tut tut siapa hendak turut ke bandung surabaya lalu turun di stasiun Central. Dari sana kami berjalan kaki menuju ke Terminus lereng The Peak untuk kemudian naek Tram ke puncak The Peak. Tempat di mana museum Madamme Tussaud bersemayam.


Stasiun Tram Puncak The Peak


Setelah nuaik nuaik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara ah ah kami sampai juga di tujuan. Selain Madamme Tussaud Museum kita juga menemukan beberapa toko souvenir [baca: kaos murah dan gantungan kunci]. Lalu beberapa restoran barat dan Burger King.


Memang terlihat sama dengan Burger King Singapore , tapi lihat harganya.




Rambunya juga berbeda, terpleset di Singapore gambar terjengkang ke belakang.



Kami keluar dari Burger King, menuju ke arah balkoni yang terhembus angin lebih dari sekedar sepoi. Dari teras Burger King itu kami bisa melihat perbatasan Rusia Hongkong, sebuah negara yang maju dengan perekonomiannya, ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi. Suhu menikmati angin yang berhembus kencang. Luar biasa. Perasaan ini. Sudah lama Suhu tidak merasakannya.


Rasa ingin melompat.




Jatuh langsung mati tanpa sempat kerasa sakit.



tgwinmg mengingatkan, hari sudah mulai gelap. Matahari terbenam, hari mulai malam terdengar burung hantu suaranya merdu suhu suhu suaranya merdu.

Udahan yuk.
Oke. Bentar lagi. Lima menit.
Nanti masih bisa lihat lagi di Avenue of Stars.
Oh iya, nanti pas Symphony of Lights kita lihat gedung-gedung ini lagi.

Kami pun melangkahkan kaki meninggalkan The Peak. Meninggalkan Madamme Tussaud Museum. Meninggalkan Hongkong. Menuju ke Stasiun kereta Central. Dengan menyimpan sedikit kisah tentang bagaimana cita-cita kami kandas bersama patung-patung lilin. Tapi kisah ini masih belum habis di sini. Karena artikel ini berisi tentang orang dengan cita-cita mulia. Masih belum lengkap dengan kisah para pahlawan bangsa.

Dalam perjalanan menuju ke sana. Kami terhenti di sebuah taman. Kami terkejut tidak karuan. Kami dikompas sama preman. Terdengar suara dari kejauhan. Saling menimpali. Senda gurau.

Yo ora iso ... aku yo ora gelem lek ngono ...
Ayo wis, aku arep balik iki, melok a?
Iyo wis. Rek, aku tak balik sek yo. Wes ditelponi karo juraganku.

Mereka yang ke luar negeri bekerja keras memeras keringat. Mereka yang tiap bulan selalu mengirimkan uang ke rumah di kampung halaman. Mereka yang menghidupi keluarganya dengan mengorbankan hidup bahagia dengan keluarga. Mereka yang bercita-cita mulia. Mereka yang tiap pulang selalu disambut loket khusus di imigrasi. Wahai TKW, engkaulah para pahlawan Devisa.

TKW di Hongkong.



There are millions of them.



Suhu,
terasa seperti di tanah air.

Berikutnya Hongkong Delicacies: Long Lost Taste of Happiness hanya di kisah di balik hutan bambu.

Thursday, October 16, 2008

Fortress Hill: Yang, Ini Mustahil!

Seperti yang telah dibahas di posting sebelumnya, kami berangkat naik pesawat. Tepatnya SQ. Agar tidak terlalu panjang buat pembaca, bagian ngusilin bule di atas pesawat akan kita persingkat.

Bule tidur - colek - tampang innocent dengerin musik - bule pissed off - ulangi sampai landing di Hongkong.


Turun dari pesawat, matahari Hongkong menyengat terik. Menyiksa dua orang turis berkewarganegaraan Indonesia yang mengadu nasib di Singapura. Harahkono bingung gak kon. Kami langsung mencari jalan menuju ke Roma Fortress Hill, tempat di mana penginapan kami telah dipersiapkan.

Yang, ini mustahil!
Apanya?
Tempatnya, sistem transportasinya, orang-orangnya. Ini persis seperti Singapore.
Iya!

Dan kami tidak berlebihan. Saat kami melihat sekeliling, terlihat mesin-mesin pengisi kartu Octopus Card [di Singapore disebut EZlink]. Counter informasi yang dijaga bapak Cina tua berkacamata omaigat seragamnya sama dengan pegawai SMRT. Lalu kami melihat peta rute MRT, sistemnya sama dengan Singapore. Bahkan nama Airport juga Changi Airport, ternyata pesawat kami salah mendarat.

Somebody, please tell me. Isn't it supposed to be Guardian? Iya yang di atas Taxi TransCab itu. Omaigat! TransCab?

Menggunakan kartu 3-days-unlimited kami langsung menggunakan intelektualitas kami untuk naek kereta bulat peluru [bullet train]. Lalu kami ditembakkan dari Hongkong International Airport ke pusat kota.

Dua turis sok manis, sepasang petualang dari Malang.

Sesampai di pusat kota. Menurut salah seorang kawan Suhu, Hongkong adalah tempat di mana orang tidak bisa tersesat, asalkan tidak buta huruf. Sejak saat itu, Suhu putus hubungan kawan dengan orang tersebut di atas. Kami sempat sedikit tersesat di Interchange [baca:tempat oper angkot]. Maklum, stasiun kereta di sini agak biadab. Memang benar ada rambu-rambu petunjuk dan panah-panah direksional yang menunjukkan arah. Tapi. Terlalu banyak. Laknat.

Seingatku di Singapore maksimum kita cuma exit F dan itu pun ga ada 123 nya


Akhirnya dengan kekuatan bulan kami berhasil kembali ke jalan yang benar dan menuju ke Kanaan meskipun harus beberapa kali jalan putar balik. Sejenak kemudian, sekitar satu jam gitu, kami sudah sampai ke Fortress Hill dengan naik MTR [bukan salah ketik, MRT di Hongkong namanya MTR]. Singkatan dari Mass Transit Rapid.

Gantungan tangan di kereta Hongkong ada di dua lajur, berbeda dengan Singapore yang hanya di tengah


Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Gak keliatan pintu keluarnya!

Kami melalui lorong bawah tanah seperti Underpass Orchard Road tanpa pengamen dan penerangan minimum. Kami harus mengandalkan indra pendengaran dan penciuman untuk mengikuti orang keluar dari stasiun. Setelah mengikuti arus-arus penumpang yang keluar, kami baru bisa keluar dari Stasiun Fortress Hill.

Penerangan minim dan turis bingung.


Tapi. Astaga. Pantesan koq gelap banget. Kita berada di kedalaman beberapa meter di bawah tanah. Bodoh. Ini akibat skip lecture Geotechnical Engineering kebanyakan. Bagaimana mungkin seorang Mandor lulusan Civil Engineering nggak merasa bahwa dirinya sedang ada di dalam tunnel? Bukan rahasia bahwa Hongkong memang jago membuat bangunan-bangunan di bawah bangunan-bangunan [baca: Tunnel Engineering]. Tapi suejuknya tempat ini benar-benar menunjukkan tingkat engineering knowledge yang sudah melampaui ilmu pengetahuan manusia biasa. Pasti mereka sudah menguasai barak musuh dan advancement teknologi mereka sudah maksimal dengan bangunan-bangunan technology enhancement.

Sejuknya tempat ini. Ventilasi sempurna. Tidak terasa pengap sama sekali. Mungkin kita cuma ada di sekitar basement B1. Satu lantai di bawah tanah. "Gini mah cemen!" [Rezaditya, 2007]. Lalu Suhu mulai memperhatikan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini gak kelihatan ujungnya.

Stairway to Heaven kira-kira setinggi tangga di belakang Chinese Heritage Center untungnya ada eskalator.


Kalau kamu pernah ke Johor Bahru dari Singapore stasiun Kranji dengan berjalan kaki. Kamu pasti tahu ada eskalator tinggi dari lantai satu untuk ke tempat imigrasi/checkpoint. Ya, eskalator itu gak ada setengahnya dari yang di Hongkong ini.

Stairway to heaven sepanjang kira-kira dari Nanyang House ke SRC untung ada eskalator.


Dua turis ini ter-amazed-amazed. Suhu terkagum-kagum atas keindahan struktur bawah tanah, tgwinmg terkagum-kagum atas bagaimana Suhu bisa kagum pada hal-hal yang tidak dikagumi orang waras pada umumnya. Kami naik eskalator. Dan.

Yang, ini mustahil!
Kenapa?
Escalator ini bukan satu-satunya.

Kami melihat escalator lagi menuju ke atas. Panjangnya kira-kira sama dengan yang ada di City Hall Station di Singapore. Berarti itu 3 lantai. Tadi kira-kira 3 lantai lebih. Berarti kereta itu ada di ... Basement B6? 6 lantai di bawah tanah? Dan hawanya suejuk seperti di Tretes? Proyek pembangunan stasiun ini pasti membutuhkan campur tangan jin botol dan tuyul toples.

Sebelum pembaca blog ini pindah blog lain dan blog ini menjadi milis Mandor, mari kita cerita dengan jargon-jargon yang lebih dimengerti orang-orang yang tidak bisa memahami keajaiban jin botol oleh awam.

Setelah eskalator tak berujung itu, dua turis ini dihadapkan ke cobaan pertama dari sembilan puluh delapan cobaan sisanya. Dua pintu keluar. DHUWAAA. Exit A. Dan Exit B. Apa yang akan dilakukan oleh kaum cendekia saat dihadapkan kasus demikian.

Ide kami pertama adalah. Berpencar. Siapa yang menemukan penginapan terlebih dahulu bisa beristirahat dan yang terakhir menemukannya akan dieliminasi akan menelepon pihak satunya. Ide ditolak. Kami tidak punya SIMcard yang bisa bekerja di Hongkong. Kalaupun kami punya, kami juga tidak bisa memberikan arah yang jelas. Sekarang ketemu belum tentu suruh kembali ke stasiun tidak kesasar.

Ide kedua. Duduk di sini. Suruh satu orang pergi nyari sampe ketemu dan kemudian menjemput yang satunya yang sedang jaga koper. Ide ditolak. Karena kami berdua adalah pasangan kembar siam mesra yang tak dapat dipisahkan.

Ide ketiga. Salah satu metode yang paling sering dipakai oleh anak-anak informatika. Brute Force. Exit B. Naik. Cari. Tidak ketemu. Kembali ke stasiun. Exit A. Cari. Tidak ketemu. Alt+Ctrl+Delete. Ulangi sampai ketemu.

Lalu kami keluar Exit B. Kami berusaha menarik belas kasihan penduduk setempat dengan memasang tampang pura-pura tersesat. Sangat mudah bagi kami, karena kami memang tersesat. Tapi jauh di lubuk hati kami, kami tahu. Tersesat di tempat semacam ini, kami tidak akan mati. Ini bukan Survivor:Cook Islands ataupun Survivor:Gabon. Tapi bagaimanapun juga kami tetap harus menemukan penginapan itu.


Dengan McD dan 7-Eleven, orang buta huruf pun tak bisa mati kelaparan.


Lalu kami keluar di Exit B. Mencari dan mencari. Tanya pada orang di jalan. Dijawab dengan bahasa Cantonese. Lalu kami bilang terima kasih dalam bahasa Rusia. Yeah that's SvasIbo. Setelah puas bertanya-tanya jalan dan dipandang seperti peserta Amazing Race tanpa diikuti kameramen. Kami kembali ke stasiun. Ya, turun tangga itu tadi. Lalu naik tangga lain lagi, keluar di Exit A.

By the time kami melihat cahaya di ujung pintu keluar Exit A, kami sudah luar biasa lelah dan yang tersisa dari raga kami hanya "tinggal kentut dan dosa". [Atalya, 2008]. Lalu kami menyeberang jalan. Membuka peta lebar-lebar di lantai. Dan memutarnya sesuai dengan orientasi Jarum Utara.

Kita perlu nyari Utara, yang.
Okeh. *muter peta*
Menurut Kahitna, mentari terbit di utara.
Okeh. *mengorientasikan peta pada posisi berdiri*
Yang bener ah petanya. Utara.
Mataharinya ada di atas ubun-ubun.

Siang-siang. Untung bawa kompas. Setelah menunjukkan kemampuan dasar Praja Muda Karana dan Karang Taruna serta Gugur Gunung Muda Mudi Katolik, kami berhasil meletakkan peta pada posisi yang benar. Setelah itu semuanya jelas. Karena tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya mendekati kami.

You ... do need any help? Do you need any help?
You can speak English?
No.
Dia barusan ngomong Inggris.
Swahili?
We are looking for this place. *menunjukkan alamat*

Wanita setengah baya itu melihat sekeliling. Melihat alamat itu lagi. Melihat sekeliling. Menanyakan alamat itu pada orang lewat pada bahasa Alien. tgwinmg bisa bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Jawa dan Indonesia. Sementara Suhu bisa bahasa Inggris, Kupang, Swahili, Tamil, Morse dan Braille dasar [timbul dan tenggelam]. Dan kami berdua positif wanita itu tidak bercakap dalam bahasa tersebut di atas. Pasti dia bercakap dalam bahasa Sunda Cantonese. Andai saja Andreas Lee ada di sini, batinku.

Okay. You go theeeeere. And then KROS the road. Turn. And Goooo.

Kami sangat mengerti. Karena saat mengatakan 'turn' ada gestur ke arah mana kami harus berbelok. Dan panjangnya kata yang dipakai, mewakili jauhnya kami harus berjalan. Misalnya, 'Gooooooooooooooooooo...' selama tiga jam berarti kami harus jalan kaki sampai ke airport.

Akhirnya ketemu juga penginapan kita. Tapi. Ini bukan akhir dari perjalanan kami. Ini. Baru. Awal.

"Yang, sudah kuduga. Pasti ada sebabnya dinamain Fortress Hill."



Suhu,
unpacking lalu berangkat menuju petualangan selanjutnya.

Selanjutnya di Kisah di Balik Hutan Bambu.
Cita-Cita Mulia: Para Pahlawan Devisa.

Thursday, October 09, 2008

Hongkong: Kesan Pertama Begitu Menggoda

Berhubung pekerjaan yang menumpuk sesaat sebelum pergi, maka persiapan keberangkatan menuju ke Hongkong ini juga agak tersengal-sengal. Sebagai orang yang mempunyai talenta work incredibly well under pressure, Suhu mempersiapkan hampir semua hal yang ada di post sebelumnya, dengan metode SKS [Sistem Kebut Seminggu].

---*fast forward bagian-bagian gak penting* ---

Semua sudah siap. Tiket sudah dikemas dan koper sudah dibeli. Walkie-talkie kantor dibawa dan pacar ditinggal.

Eh. Tiket sudah dibeli. Koper sudah dikemas. Walkie-talkie kantor ditinggal. Pacar dibawa. Maaf. Kesalahan teknis. Packing semalam suntuk bisa berakibat rasa ngantuk.

Lalu Suhu melihat kondisi di dompet. Uang. Kita perlu uang. Menurut Suhu pribadi, uang adalah hal yang sangat penting di dunia ini. Tingkat kepentingannya saaaanngaaaattt tinggi. Untuk teman-teman yang mengenal Suhu personally, tentu tahu level kecintaan Suhu akan uang. Sampai-sampai ada laskar Kristus yang senantiasa mengingatkan Money is not everything dan berusaha mempertobatkan Suhu dari menyembah Mammon.

Buat yang tidak setuju tentang pandangan Suhu mengenai uang, tidak perlu diperdebatkan di sini. Silakan mencoba berdebat dengan aunty chicken rice terdekat.

One chicken rice. Take away.
Three dollar.
Wah aunty I forget to bring my wallet. Can pay next time?
Cannot. You take your money first la, or borrow your friend first la.
Aiyo aunty .. three dollars only.
Three dollars oso money. One man forget three dollars. Everyone come forget wallet tomorrow I can close shop oredi.
But aunty ....
No lah .. no money no talk. Next? Ni yao shen me?
Money is not eveything.
Roasted one or white one?
Not everything in this world can be measured by money.
Having here or take away?
There are a lot of things that can't be bought by money.
Thank you.
Aunt, are you listening to me?
Ya boy? Wah you still here ah? Oh sorry sorry. Here your chicken rice, three dollar.

Money can't buy everything. But money can buy many things.

Many things is good enough for me. Who needs everything, anyway? [Adi Prawira, 2006]

Dompet mulai mengempes dan cicilan loan mulai slow down setelah menebus tiket seharga kurang lebih 600SGD per orang. Untuk informasi bagi yang mau membandingkan harga, kami naik Singapore Airlines. Pulang pergi. Ini sudah didiskusikan berkali-kali dengan tgwinmg. tgwinmg tidak mempunyai preferensi untuk penerbangan, yang penting murah.

Sedangkan Suhu punya preferensi sendiri. Untuk penerbangan jarak jauh, Suhu lebih percaya ke maskapai-maskapai penerbangan dengan track record memukau. Misalnya, tidak pernah kecelakaan selama beberapa tahun terakhir [Singapore Airlines], jarang ada delay [Singapore Airlines], servis yang bagus di pesawat [Singapore Airlines], dll [Singapore Airlines]. Sedangkan untuk penerbangan jarak dekat, Suhu memilih gantole.

Akhirnya kami memilih SQ. Yang berarti tiketnya agak tak seberapa sedikit cukup lumayan mahal dibanding dengan yang lain-lain. Tapi kursi yang kami pesan bukan kelas yang paling mahal. Kami memilih seats yang termurah yaitu bagasi kelas ekonomi. Kita perlu melakukan penghematan without compromising safety of the journey. Sebelum ada pembaca yang memberikan ide-ide berenang ke Hongkong.

Ilustrasi Panda masuk bagasi



Tentu kami sudah mempertimbangkan beli tiket untuk satu orang dan satunya masuk bagasi. Tapi setelah dihitung-hitung lagi, overweight.

Belum juga kami berangkat, kartu kredit berlogo burung yang dipromosikan Richard Gere terpaksa digesek lagi. Untuk booking akomodasi. Penginapan kami tarifnya sekitar 1100HKD untuk seluruh perjalanan kami di Hongkong nantinya. yang kalau diterjemahkan ke Singapore Dollar akan bernilai sekitar 200SGD. Dan kalau diterjemahkan ke Indonesia akan bernilai banyak.

Belum berangkat saja sudah begini. Kami membaca-baca keterangan public transport di Hongkong dari internet. Mereka punya kartu semacam EZlink Singapore. Mereka menamainya Octopus Card karena kartu itu berbentuk cumi-cumi. Setelah mempelajari tarifnya. Yang paling efektif adalah tungting tungting PINTU KE MANA SAJA kartu 3-hari unlimited MTR. Apalagi untuk arek Malang yang sudah biasa naek angkot Arjosari Borobudur Gadang, prosedurnya sangat familiar dan mudah digunakan. Sistem jauh-dekat-sama-saja. Sama seperti EZlink Concession tapi durasinya hanya untuk tiga hari, bukan sebulan. 300HKD per orang untuk tiga kali dua puluh empat jam terhitung mulai *cetut* pertama.

Tiket masuk Disneyland harganya sekitar 300HKD dan Ocean Park harganya sekitar 200HKD. Per orang. Untungnya setelah masuk ke dalam, tidak perlu bayar apa-apa lagi. Kecuali kalau kamu mau beli makanan di restoran yang piringnya berbentuk Gufi dan sendoknya berbentuk kepala Donal.

Tiket pesawat pulang pergi Singapore Hongkong. Penginapan. Transport. Disneyland. Ocean Park. Itu tujuan utama. Belum lagi untuk keperluan-keperluan lain. Kita juga perlu membawa uang tunai. Karena kita perlu makan. "Dan makan perlu bayar." [Aunty Chicken Rice, since 1945].

Suhu,
Hongkong: kesan pertama begitu MENGGOrok DAna.

Selanjutnya di kisah di balik hutan bambu.
Fortress Hill: Yang, Ini MUSTAHIL!

Postnote: Untuk posting-posting berikutnya. Persiapkan mental anda untuk banyak foto-foto yang mendebarkan. Untuk anak-anak, perlu bimbingan orang tua. Tidak sesuai untuk ibu hamil, orang yang berpenyakit jantung, dan tekanan darah tinggi ataupun kombinasi ketiganya. Posting-posting berikutnya akan diselipi oleh foto-foto amatir hasil jepretan tapak Panda. Hanya. Di. Kisah Di Balik Hutan Bambu.