Wednesday, December 19, 2007

Unfortunate Events

These past few days is definitely not the best days of my life.

Tanggal 4 Desember adalah awal di mana semua perkara ini dimulai. Pindahan. Setelah PT Bangun Subangkit berhasil menyiapkan temporary D&T Block, langkah berikutnya adalah memindahkan mesin-mesin dari Block D&T yang lama menuju ke temporary D&T Block. Tentunya ada sedikit masalah dari memindahkan barang-barang ini.

Dan tentunya masalah itu selalu muncul tiba-tiba, dan di sini lah letak peran pelaku utama blog ini menjadi bersinar. Menyelesaikan masalah mendadak di lapangan. Waktu mereka bilang memindahkan mesin-mesin yang berhubungan dengan kayu, semua orang membayangkan gergaji triplek, serutan, dan mesin-mesin imut yang berhubungan dengan prakarya siswa.

Tetapi sayangnya, saudara-saudara sobat muda di mana pun anda berada, kita semua SALAH!

Saat pindahan tanggal 4 Desember, mesin-mesin prakarya anak sekolah di sini ternyata berwujud mesin bubut, gergaji listrik, circular rip saw, machette, dan peralatan metalwork satu set yang bisa direkomendasikan untuk membuat baju zirah berukuran XL. Dan kalau tidak salah, yang paling ringan beratnya 800 kilo. Dan yang paling berat 2.3 ton.

Iya, yang di lantai dua itu.

Dengan kekuatan bulan, kami akhirnya berhasil memindahkan semua nya. Untuk pindahan ini, PT Bangun Subangkit terpaksa menyewa jasa Professional Movers. Perusahaan yang kami bayar untuk mindahin barang-barang ini, mengandalkan ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa [baca: dengkul dan sikut]. Orang-orang yang bekerja di perusahaan tersebut, rata-rata adalah bekas narapidana dan pecandu obat-obatan yang sudah insaf. Karena tidak punya ketrampilan khusus, maka mereka bekerja menjadi tukang angkat-angkat, nama kerennya Professional Movers.

Okeh, bayangkan menjadi seorang laki-laki dari lingkungan dan keluarga baik-baik, memimpin tiga puluh orang dengan berbagai fitur mulai botak, gondrong, berkumis, bertato, bekas jahitan, yang tiap diajak ngomong sedikit-sedikit noleh langsung *Jhuh* ngidu ngidu sembarangan. Bayangkan dulu. Sudah? Sudah. Rasanya lebih parah sepuluh kali daripada yang kamu bayangkan.

Tetapi sebagai warga negara Indonesia sepenuhnya, Suhu mampu berbicara dan berkomunikasi dengan sempurna. Terutama jika lawan bicaranya adalah budak melayu. Cakap malay pun jadi. Dengan kosakata terbatas mulai dari daftar hewan di kebun binatang sampai tumbuh-tumbuhan, Suhu berhasil menunjukkan wibawanya. Meskipun kata kunci yang memegang peranan tetaplah "Jancok".

Setelah barang-barang terkutuk tersebut selesai dipindahkan, mulai episode baru hal-hal ajaib yang membuat hidup mandor menjadi lebih sengsara.

Seseorang dari pihak sekolah, konon posisinya adalah Head of Department. Tugasnya menentukan letak mesin-mesin di ruangan yang baru. Wajar, setelah pindahan, kamu mesti ngasi tau tukang angkat-angkatnya, barang ini taruh di mana, barang ini taruh di mana, tul gak?
Yang jadi masalah, kalau orang ini punya kepribadian ganda seperti Niki dan Jessica di felem Heroes. Sekarang Niki mau taruh di sini, nanti Jessica mau taruh di sana. Nah! Bapak yang satu ini, punya kepribadian ganda. Setelah barang-barang diletakkan di satu tempat di pagi hari, setelah makan siang dia marah-marah. "Woi, ini kenapa ditaruh di sini, kan malah orang gak bisa ngambil kalau perlu."

Sekali dua kali, aku kira aku yang lupa dan salah letak. Tapi setelah kejadian terulang lebih dari lima kali, kusalib dia di bukit Gombak Suhu mulai naik pitam dan berseru "Wahai pak tua, jikalau dikau tak berkenan dengan hasil kerja kami, kerjakanlah sendiri." Lalu terjadi perdebatan yang cukup sengit, perang mulut antara Mandor dengan Pengurus D&T. Dan perdebatan terhenti karena setiap kalimat yang dia ucapkan selalu dibalas dengan senyum manis diiringi "Jancok" dari hati suci mulia.

Pengurus D&T pun berlalu sambil mengira "Jancok" artinya "Iya". Apalagi mandor selalu mengucapkannya sambil manggut-manggut. Benar-benar the beauty of multinationality country.

Setelah mengikuti semua pengaturan bapak berkepribadian ganda tadi, kami menghela nafas lega. Akhirnya selesai.

Belum sempat lima menit kami duduk di lantai sambil selonjor, bapak tua tadi memanggil. Mandor, selaku kepala pemimpin tiga puluh mantan narapidana dan pecandu obat-obatan [wah jancok, serasa bos preman], langsung menghampiri bapak tua Pengurus D&T tersebut. Pengurus D&T tersebut memanggil Mandor, yang mengikuti melangkah lebih cepat seperti main kejar-kejaran. Tak lama kemudian.

Pengurus D&T menarik sebuah gagang pintu. Mandor serasa tak percaya apa yang dilihatnya.

"Omaigat. Wadefak."

-bersambung-

No comments: