Sunday, December 23, 2007

The Guy with Attitude Problem, Me or Him?

Lanjutan dari episode lalu.

Mandor serasa tak percaya apa yang dilihatnya.

Bapak tua pengurus D&T itu membuka sebuah ruangan. Yang isinya.

MESIN.

Satu set peralatan yang tak beda dengan yang barusan kita pindahkan. Menimbulkan kecurigaan apakah mungkin bapak ini memanggil jin botol untuk mengembalikan mesin-mesin ini ke tempat semula sewaktu kita lagi menikmati makan siang?

Ternyata memang sekolah ini punya dua set peralatan prakarya. Yang pada saat itu tidak pernah ditunjukkan pada pihak kontraktor. Ini benar-benar tidak manusiawi. Yang pasti, untuk kejahanaman semacam ini, salah seseorang harus mati. Aku atau dia.

Pemuda dua puluh dua tahun yang masih perjaka dan menikmati lezat duniawi, atau tua bangka yang sudah makan garam lima puluh tahun lebih?

Tapi dengan akal sehat, Mandor berhasil menghalau tiga puluh orang dengan berbagai fitur mulai botak, gondrong, berkumis, bertato, bekas jahitan, yang tiap diajak ngomong sedikit-sedikit noleh langsung *Jhuh* ngidu ngidu sembarangan. Mereka berusaha mencekik bapak tua yang sekarang buru-buru lari menghilang entah ke mana.

Akhirnya kami berhasil memindahkan dua set mesin. Seperti biasa, Mandor membuat laporan pekerjaan yang diselesaikan hari ini dengan berbagai remarks. Tentunya berbagai caci maki hanya bisa diumpat tanpa pernah diabadikan dalam laporan kerja. Lalu datang bapak-bapak lain, yang tidak lain adalah sub-koordinator D&T. Ya, seperti guru Kerajinan Tangan dan Kesenian gitu lah kalau di Indo.

Di sini lah mulai berubahnya rasa simpati pada guru para pahlawan tanpa tanda jasa perlahan menjadi benci dendam kesumat angkara durja.


You move the machine but you don't move the materials.
Ya, all machine are shifted already.
Aiyaa... you arh ... use your brain lah. You move all the machine but the materials you still leave it there.
Yes, I was instructed to move the machine ONLY.
No, who instruct you? Now I instruct you to move the materials.
Fuck off, man. Who are you to instruct me?


Oke. Mungkin kalimat terakhir terdengar kasar untuk seorang anak muda yang yang berbicara pada seorang guru. Tapi sekarang bayangkan kamu ada di posisi ku. Pagi hari kamu diberi tiga puluh orang untuk memindahkan dua ruangan penuh mesin. Dua RUANGAN, wokay? Bukan dua MESIN. Padahal waktu dibicarakan pada perjanjian awal adalah PERALATAN kerajinan tangan, yang SEMESTINYA ringan dan mudah dipindahkan.

Kamu bisa bilang bahwa ini adalah salahku karena tidak melihat dengan jelas tentang mesin-mesinnya. Okeh. Kamu boleh bilang begitu kalau kamu mau dikubur hidup-hidup oleh tiga puluh orang kekar. Tapi kamu diminta memindahkan material. Material yang kita bicarakan di sini adalah triplek utuh, kayu lonjoran, batangan logam mentah, dan beberapa barang yang cukup untuk membuat tiga ratus set baju zirah.

Jelas sudah bagaimana kelanjutan dari cerita ini. Manager memanggil, menanyakan secara baik-baik. "Mengapa kamu berkata kasar pada guru?" sampai "Semoga kamu ingat bahwa mereka adalah klien kita." Lalu aku menjelaskan duduk perkaranya. Managerku cuma bisa geleng-geleng. Lalu mengatakan bahwa kita ada di pihak yang dirugikan. Manager mempertimbangkan daripada ada korban jiwa di pihak sekolah karena Suhu selalu tersenyum saat memegang benda tumpul seperti pipa ledeng, maka manager memutuskan untuk membantu sekolah memindahkan material-material tersebut.

Dan tentu saja, person in-charge, adalah Suhu. Dengan pipa ledeng di genggaman.

Aku mengambil empat orang idle worker dari worker quarter. Percayalah ini tidak semudah menekan F8 dan menge-set Rally Point. Saat aku sampai di gudang tempat material yang perlu dipindah, guru yang tadi sudah di sana.


See, you tell me, I was right or not?
So where should we shift these stuffs?
Aiyaa... you arh ... use your brain lah. You move the material to the room next to the new machine room lah.

Tanpa berusaha memperpanjang pembicaraan agar tidak menyulut emosi, Suhu diam. Dan merencanakan hukuman apa yang layak diberikan pada orang ini. Lalu menyumpahinya dalam hati. Dan pergi meninggalkan dia setelah memberikan instruksi pada empat worker tadi. Bukan pergi karena pengecut, tapi karena tempat lain juga perlu mandor. Untungnya blok lain sedang sedikit senggang, jadi ada waktu untuk mengurusi orang-orang bermasalah seperti guru-guru berkepribadian bermasalah [terjemahan bebas dari attitude problem].

Tentu saja meskipun meninggalkan tempat itu, Suhu masih sesekali datang untuk menge-cek progress pindahan. Melihat empat worker yang wajahnya sudah kiamat, membuat Suhu teringat saat memindahkan barang-barang tgwinmg dulu waktu masih kuliah. Cuma bedanya, barang tgwinmg sedikit lebih bervariasi dan tidak ada worker yang membantu saat itu. Kenangan manis tentang pindahan bersama tgwinmg hilang saat guru itu muncul tiba-tiba seperti pocong.


Hey, you! You want to work until what time?
We work until eleven.
Aiyaa... you arh ... use your brain lah. I can't work until eleven. Five o'clock I go back already.
Then we carry on without you lor.
You think you can continue without me?
I think so. I don't think your presence matter, anyway.
You. You. How can you talk to me like that? You still owe me an apology.
Me? For what?
You! You still don't know you are wrong. I know your manager scold you after you talk rudely earlier. I believe the school report to your manager already, that's why now you change your mind. Just now you say you don't want to shift, but now you shift. I know, your manager must have scold you.
Fuck off.
I'm going to report this to your manager.

Hariku memang tidak seberapa bagus. Tapi setelah memberi pekerjaan kepada para worker yang over-time, termasuk empat orang yang memindah material tadi. Suhu pulang lebih awal. Jangan membayangkan pulang lebih awal itu jam 3 sore. Untuk Mandor, pulang jam enam, itu sudah termasuk pulang lebih awal.

Sekitar jam tujuh lebih lima menit, handphone Suhu berbunyi.

Suhu melihat display nya.

Nomer telepon kantor.

-bersambung-

NB:
Terima kasih pada pembaca yang telah mengingatkan bahwa pemakaian kata Jancok secara excessive bisa mengurangi kenyamanan pembaca.

Terima kasih pada Arianto yang sudah mengingatkan untuk meng-update blog dan memfasilitasi dengan meminjamkan 160GB portable hard drive agar komputer Suhu bisa diformat dan bisa cepat nge blog lagi.
Untuk pembaca yang mengingatkan bahwa pemakaian kata Jancok terlalu excessive, bisa menanyakan langsung pada Arianto dan memastikan bahwa frekuensi kata Jancok di blog tidak mencapai sepuluh persen frekuensi pemakaian di rumah.

No comments: