Tuesday, November 06, 2007

Teknologi Driji

Kisah ini dimulai dengan perbincangan lima oknum yang melangsungkan coffee breaknya dengan jongkok di ujung beton yang baru dicor kemaren sore. Satu mandor, satu asisten mandor, dan tiga worker dengan kewarganegaraan india. Meskipun mereka berlima terpisah dalam tiga kasta yang berbeda, tapi mereka tetaplah sama. Sama-sama warga negara asing di bumi Singapura ini. Oleh sebab itu, mereka rukun bagaikan saudara, lalu mereka MENARI BERSAMA!

Maaf atas imajinasi berlebihan barusan.

Setiap hari, selalu ada jadwal coffee break untuk para pekerja. Intinya sama. Meskipun namanya coffee break, tapi tidak ada aturan yang mengharuskan minum kopi. Tapi yang pasti, jedah lima belas menit itu sangat berarti untuk para pekerja yang notabene adalah manusia. Kan manusia itu adalah makhluk sok sial sosial, maka perlu waktu untuk ber sok sial ih aksi bersosialisasi.

Mandor berjalan ke arah mereka berempat, sambil mengamati hasil pekerjaan mereka untuk persiapan ngecor beton dua hari lagi. Sambil berjalan-jalan di atas rangka struktur yang kokoh itu, Mandor bersiul-siul mendendangkan lagu Kopi nDangdut sambil mencatat hal-hal yang perlu direktifikasi. Catatan ini nantinya akan diberikan pada asisten mandor untuk diterjemahkan ke para worker dalam bahasa universal. Bahasa Tarzan.

Setengah bersiul, Mandor menangkap pembicaraan mereka berempat [seorang asisten mandor dan tiga worker]. Tanpa perlu menoleh, Mandor tahu itu adalah suara Tantan, asisten Mandornya. Bukan karena Suhu adalah mandor sakti mandraguna, tapi karena logat Myanmar nya yang kental itu tidak bisa disembunyikan.

N73 also Driji have ma?


Lalu dijawab dengan sahutan salah seorang dari tiga worker berkewarganegaraan India itu.

Ya, Driji. *geleng*


Yang kali ini Suhu tidak bisa mengenali suara siapa. Karena memang aksen tiga orang sisanya sama. Sama dengan 1.120.000.000 orang lain di tanah kelahirannya. Ya, aku nyontek populasi India dari sini.

Lalu Mandor menoleh untuk mengetahui, suara siapa yang menyambut pertanyaan Tantan tadi. Dan Suhu masih gagal mengenali suara siapa, karena tiga orang tersebut berwajah sama. Ternyata itu adalah suara Chinna. Oke, memang aneh. Tapi ini nyata. Chinna adalah orang India. Belum sempat Suhu menelusuri ciri-ciri wajah Chinna agar bisa dibedakan dari yang lain, Rahul sudah menimpali.

Actually Driji will rule the world. I can see in future all people using Driji phone. *geleng*


Merasa percuma mencoba membedakan Rahul dan Chinna, Suhu memutuskan untuk mengidentifikasi mereka berdasarkan name tag mereka yang manakala ditukar tidak akan ada yang tahu. Lalu Suhu ikut nimbrung dalam percakapan tersebut. Karena memang benar-benar tertarik dengan teknologi yang, kata Rahul, akan menguasai dunia di masa mendatang.

What is Driji different with no Driji?


Tantan, si asisten mandor. Dengan tiga worker itu. Menari bersama. Memandang Suhu serentak. Dengan tatapan mata tidak percaya. Dan Suhu merasa tidak seharusnya bertanya. Suhu mendadak merasa ingin kembali ke rumah, seraya memegang balon bertanya pada mama "Apa itu Driji?". Mereka semua memandangku dengan tatapan mata tak percaya. Seolah mereka berhadapan dengan seorang idiot yang lulus dari NTU nyogok.

Seorang mandor yang jabatannya jauh lebih tinggi dariku tidak mengerti teknologi Hape Driji ?


Mungkin itu yang ada di pikiran mereka masing-masing. Tapi tidak ada yang mengucapkannya. Apalagi didukung dengan fakta bahwa HP ku bosok. Tak hanya memiliki hape bosok ketinggalan zaman, mister adi ternyata juga tidak mengerti teknologi Driji. Hanya sekian yang dapat diartikan dari tatapan mata mereka, sementara Suhu mencoba berpura-pura tenggelam dalam beton cair.

Sementara Suhu tenggelam perlahan dalam beton cair yang mengiringi panas dunia, mereka berempat ngobrol tentang handphone yang kelak akan menguasai dunia. Lalu Suhu gembira karena dengan cepat mereka sudah melupakan akan kehadiran Suhu, mandor yang tak mengerti teknologi Driji. Setiap kali salah satu dari mereka menoleh ke arah Suhu, tiga yang lain akan menepuk pundaknya untuk menandakan Don't mind him, he doesn't know anything..

Suhu diam. Tenggelam dalam beton cair. Menenggelamkan diri tepatnya. Sambil membuat mental note untuk menge-search wikipedia mengenai Driji. Teknologi Driji adalah sebuah teknologi high-tech yang tidak mungkin diketahui oleh seorang mandor yang tak pernah membaca majalah komputer dan telepon seluler. Memang Suhu tak lagi membaca majalah-majalah yang membahas kemajuan teknologi. Handphone Suhu sendiri cuma dipakai untuk telepon dan sms. Dan melempar kucing tetangga.

Handphone Suhu sangatlah mengenaskan, baik dari segi model maupun dari kondisinya. Kalau suatu hari handphone Suhu jatuh di jalan. Pasti orang-orang akan mengabaikannya karena dikira pecahan batu bata. Meskipun pernah terjadi handphone itu jatuh, dan ada orang yang mengambilnya. Lalu memanggil Suhu, "Woi, jangan buang sampah sembarangan dong!"

Hanyut dalam adonan semen cair lamunan, Suhu sayup-sayup mendengar percakapan mereka.

My handphone now not using Driji, I want to change my handphone to one using Driji. Mister Tantan you sell your N73 la.
No lah! dis one Driji very good lah!
*setengah tenggelam berbisik dalam hati* Jancooookkk aku ga ngerti apa-apa.
I think mister adi money many many have, handphone expensive one.
*pura-pura gak dengar, dalam aer susah dengar, apalagi beton*


Tidak mendengar jawaban sepatah kata pun dari Suhu sang Mandor, mereka memandang ke arah Suhu. Yang sekarang semestinya sudah kaku dan kokoh. Suara Tantan memecah keheningan.

No lah, mister adi handphone no better N73, mister adi handphone old old"
*pingin gebug pake beton*
Mister adi handphone driji have?
*aku denger ae ga perna, gimana mau punya*


Suhu memutar otak untuk menjawab dengan bijak. Ide cemerlang, langsung beranjak dari posisi jongkok, bertepuk tangan seperti manager klub sepak bola setelah peluit panjang dibunyikan tanda pertandingan berakhir. Langung mentas dari beton imajiner dan berteriak.

OK OK OK, break is over! All working working! Faster faster go go go!


Malam itu, masih terpuruk kesedihan. Suhu pergi makan malam bersama Calvin, seorang koleganya yang posisinya nyaris sama dengannya. Bedanya, Calvin mengurusi elektrikal dan mekanikal, sedangkan Suhu mengurusi sisanya hal-hal yang berhubungan dengan struktural. Hal itu yang melatarbelakangi dua lelaki ini sering makan malam bersama. Karena di tengah-tengah perjamuan ini, mereka bisa dengan gamblang mendiskusikan koordinasi pekerjaan yang akan dilakukan besok pagi.

"Jadi besok pagi aku akan memasang kabel sepanjang gridline F7."
"Sayang sekali. Di Gridline F7 telah berdiri dengan kokoh sebongkah dinding batu bata.


atau.

"Esok aku berniat memotong kanopi blok F yang kemarin kucor, nampaknya ada yang salah."
"Sayang sekali. Besok aku akan mematikan listrik blok F karena aku akan memasang kabel."


Di tengah perbincangan itu, Suhu merasa makanan yang ada di piring Calvin terlihat sangat lezat. Penasaran dengan rasanya, maka Suhu membunuh Calvin dan merampas makanannya ingin membeli yang sama. Tapi melihat dompet yang cekak tunai, Suhu bertanya lebih dahulu.

"Eh this one just now you buy how much arh?"
"Dri Daler."


Dri Daler? Oh, mungkin maksudnya Three Dollar. Ngomong Three koq bunyi Dri. Ndesooo ndeso.

Perlahan turun sinar lembayung temaram dari langit berbentuk lingkaran sempurna menyentrong Suhu dari atas. Suhu diberi pencerahan remang-remang. Pikirannya mengulas beberapa momen yang lalu. Dri Daler. Seperti Dejavu. Dia teringat akan sesuatu yang pernah dialaminya. Dri Daler? Dri?

Driji!

3G!

ZOMFG!

Suhu,
Teknologi Driji akan menguasai dunia.

9 comments:

Fanny said...

Hu, aku baca ini di LWN, mesti nahan2 ketawa ngakak *lol*.

INdah.pUspita said...

hahahahaha...


I'm child number dri...

dri year in NTU.. hohohohoh

dina.. said...

huahuahuaaaa.... untung bacanya di kamar :D huahuahua..

Anonymous said...

Nidji

nCy . vLa said...

ahahahaa driji itu 3g toh.. gak nyangka..
driji itu bukannya Jari ? (o_O)a

hiihihi....

Anonymous said...

Wan Du Dri, Tarik!!!!

Gita Arimanda said...

Yah...suhu....aku yang baru baca titlenya aja dah tau kalo itu ttg 3G


hehehe

bulan said...

eh hu,
jangan2 mereka itu sebetulnya ngerti basa belanda
secara kalo basa belanda kan three kan emang drie :D

jadi bener kalo drie ji

hehehehe

suhu said...

#fanny:
tahan! tahan!

#indah:
dri year in en di yu yey~ *geleng*

#dina:
okeh dina, kamu sama fani berdua, SATU DUA TIGA TAHAAANNN!!!

#ano:
Bidji

#ncy:
ndak punya worker jawa sih, nduk. gek kepriye?

#ano:
Wan Du Dri ... Dareekkkketehee yay~~

#gita:
yawda yawda kamu lulus nglamar jadi mandor sini da, puwas? puwas?

#bulbul:
jangan-jangan mereka ngerti bahasa jawa, bul. Jadi ngerti kalau mau pakai HP harus pake Driji [jari].