Sunday, November 11, 2007

Sekolah Lagi?

Banyak yang bertanya kepada Suhu, terutama teman-teman yang sekarang berdomisili di Indonesia. Meskipun pertanyaannya berbeda, tapi tidak jauh-jauh juga lari topiknya selalu itu-itu saja. Tentang bagaimana nasib Suhu sekarang. Dan pertanyaan itu, ujung-ujungnya menjurus ke sebuah jalan hidup yang kebetulan bukan pilihan Suhu.

"Kamu nggak nerusin S2, Hu?"


Pertanyaan menarik, saudara-saudara.

Pertanyaan ini sangat rumit untuk ditilik. Mulai dari kendala finansial yang tentunya bisa diselesaikan dengan loan ataupun scholarship. Ngimpi. Juga melibatkan kemampuan diri sendiri, sekali lagi, di sisi selain finansial, ada sisi intelektual di mana diri sendiri seharusnya mempertanyakan "Apa mampu?". Tapi tentu saja tingkat intelejensia Suhu membuktikan bahwa bisa mencapai gelar eS tiga. [Iya, eSde, eSempe, eSemah.] Kalau dua masalah kunci tersebut bisa diselesaikan dengan mudah, maka pertanyaannya tinggal "Mau apa tidak?"

Karena eh karena, seperti yang telah kita ketahui, tindakan dosa adalah tindakan salah yang dilakukan atas dasar Mau, Tahu, dan Sengaja.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Apa hubungannya....

Sekarang, Suhu sudah menyandang predikat Bujang Teknik [Bachelor of Engineering], maka secara ostosmastis otomatis, ada beberapa path yang terbuka bagi Suhu. Bisa menjadi seorang Design Engineer yang menghitung kekuatan struktur dan merancang komposisi rancang bangun sebuah proyek, bekerja di bawah bendera perusahaan Konsultansi Struktural yang hidupnya akan berkecimpung dalam cubicle. Pilihan satunya, adalah join perusahaan Kontraktor, bekerja di lapangan, making magic di bawah bendera Pembangunan, bergelimang kekayaan hasil dari korupsi uang jatah rokok dan menindas para pekerja.

Pilihan mana yang dipilih, sudah jelas dari posting-posting sebelumnya.

Mengibarkan bendera kemenangan atas penindasan yang tak manusiawi.

Itu kalau Suhu tetap menjadi Bujang Teknik seumur hidupnya. Bagaimana kalau Suhu melanjutkan pendidikannya ke tingkat Master. Mengambil gelar S2 di bidang bisnis dan administrasi jelas menertawakan keputusan Suhu yang seumur hidupnya membenci pelajaran Entrepreneurship. Entrepreneurship adalah sesuatu yang tidak bisa dipelajari di dalam kelas. Cari uang itu tidak seperti belajar buat exam, bung. Maka, pilihan S2 pun tidak jauh-jauh dari jurusan teknik, dan gelarnya tidak lain adalah MSc. yang adalah singkatan dari Master of Science, cukz.

Ironisnya, dari yang saya denger-denger dan saya lihat-lihat. Keuntungan menjadi Master of Science ini tidaklah banyak. Menang gelar, itu pasti. Tapi, tentunya pria dewasa yang sudah matang pikirannya, mempertimbangkan jauh lebih dari sekedar gelar. Kita tentu mempertimbangkan karir, masa depan, dan peluang sukses GAJI.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Ternyata pikirannya masih dangkal....

Sedangkan gaji gelar Master dan gaji gelar Bujang [Bachelor], nggak jauh berbeda untuk jurusan yang namanya Teknik Sipil. Lagian, untuk posisi yang ini, Mandor. Gelar Bachelor of Engineering sudah overkill. Satu-satunya keuntungan meneruskan menimba ilmu ke jenjang S2 adalah ..... untuk meneruskan ke gelar S3.

Dan untuk mendapatkan gelar Profesor di tingkat S3, itu denger-denger harus belajar lebih banyak, dan lebih sakti dari manusia biasa, dan setelah lulus, ujung-ujungnya jadi researcher atau jadi dosen. Menjadi researcher, terdengar boring dan seperti kerjaan tipe cubicle. Maka satu-satunya yang bisa menarik Suhu untuk sekolah lagi adalah pekerjaan menjadi Dosen.

Selain bertugas untuk belajar memperkaya diri dengan ilmu-ilmu yang tak kunjung habis, mem-publish paper dan jurnal, dan menyiapkan silabus untuk pelajaran yang bersangkutan. Pekerjaan dosen adalah menyampaikan materi di dalam Notebook menuju Student's notes tanpa melalui otak mereka. Seni ini sering disebut dengan nama Lecture. Dosen-dosen Ninja Turtles University sangat mahir melakukan hal ini, terbukti dengan banyaknya catatan di buku tulis Suhu, yang Suhu sendiri tidak mengerti artinya, meskipun jelas itu tulisan tangan Suhu.

Tugas lain dosen adalah membuat hidup mahasiswa menjadi sengsara dengan menolak ide-ide skripsi dan menekan mahasiswa dengan memberi tugas yang tidak masuk akal agar bisa memacu adrenalin dalam otak melebihi kadar nikotin Marlboro merah. Lalu sesekali juga mengawasi murid-murd yang duduk di Exam Hall. Kadang juga dengan lantang berkata "Please Stop Writing!" dengan senyum bengis licik penuh kemenangan.

Belajar ilmu-ilmu baru, menyiapkan silabus/planning untuk pekerjaan ke depan, membuat hidup orang jadi lebih sengsara, menjadi pengawas, bersuara lantang dengan senyum licik bengis.


Ternyata kerjaan kita gak jauh beda ya, Prof.

Suhu,
jadi Mandor aja.

2 comments:

Gita Arimanda said...

Bingung mau komen apa...
Somehow aku ngerasa kita sama

suhu said...

hahaha sama apanya?