Saturday, November 17, 2007

Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara. Dan oleh karena itu, di dalam dunia ini, kita harus menjadi aktor-aktor yang baik dalam melakonkannya. Tapi sayangnya drama kita seringkali tidak dipersiapkan terlebih dahulu, membuat kita harus hidup dalam ketidaknyamanan spontanitas yang acapkali menjerumuskan kita ke jurang yang lebih dalam.



Dalam panggung sandiwara dunia ini, kita tidak bisa mempelajari script skenario terlebih dahulu, karena kita tidak tahu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh lakon lain. Lebih seriusnya lagi, sang Sutradara di atas sana, merangkap narator, bisa saja memberikan narasi deskriptif kapan saja.

Misalnya menyisipkan bacaan berbunyi : Lalu Suhu meninggal tanpa sebab yang jelas.

Ya sah-sah saja, lha wong yang ngasih kehidupan Sutradara nya. Mau kapan aja dipanggil lak ya sakkarep'e yang bikin crita. Ya yang di atas sana itu. Tuhan, tuhan baca blog ga?

Yah kalau kamu seagama dengan Guntur tidak beragama, mungkin kamu kurang memahami paragraf di atas. Lha terang, lha wong eksistensi tuhan aja masih dipertanyakan oleh sebagian umat manusia koq. Anyway, aku gak ngurusin kepercayaan kalian. Mau percaya tuhan ada ya silakan, mau bilang tuhan ga ada ya kasian silakan.

Sebelum melenceng terlalu jauh, kita kembali lagi ke alur cerita yang benar. Okeh menggok mbalek jalan sing tadi ngieeengg brem brem breeem. Lanjut lagi. Panggung sandiwara. Kenapa koq aku tiba-tiba bilang panggung sandiwara.

Ya masih gak jauh-jauh larinya dari cerita tentang dunia kiamat karena bencana sekolah lagi. Pagi'e abis kelas itu, aku bangun mbek mata kriyip kriyip. Setengah bersyukur ya tuhan untung aku masih hidup hari ini semoga besok dikasi hidup lebih panjang satu hari lagi dan dikaruniai lima istri rezeki.

Lalu ya per normal aku liat jam. Sebelas. Ah edan tenan susah banget tidur. Kayak'e udah guling-guling koq ga bisa tidur-tidur. Tutup lampu kira-kira jam sebelas kurang seprapat. Baru lima belas menit udah kebangun. Ah siyal. Sapa juga yang nyalain lampu. Ah pasti roommate.

Setelah menutup mata lima menit, aku tersadar lho bangke' ini kan single room aku kan bobo sendirian, terus sapa yang nyalain lampu? Setengah ketakutan kalau ada cewek cantik berpunggung bolong di sebelah sakelar lampu, aku nengok ke arah cethekan lampu sambil pipis di celana lalu doa salam maria dalam hati.

Amin.

Buka mata buka telinga buka celana aku lihat sinar terang sekali. Sejak kapan lampu kamar ganti 100 watt. Tiga perempat ketakutan kalau kalau ada cewek cantik berpunggung bolong ngganti bola lampu, aku nengok ke arah lampu. Gak ada cewek cantik berpunggung bolong di mana-mana. Ternyata tirai jendela kemaren lupa kututup. Jadi sinar matahari menembus. Truing truing sunshine!

Sinar matahari?

Srengenge?

Ujubule kiwil kiwil srengenge mlethek hwarakadah!

Ternyata takhta dewi bulan sudah diluluhlantakkan oleh sepak terjang putra matahari dan jam sebelas yang nampak di jam dinding itu adalah jam sebelas siang saudara saudara. Tepuk tangan.

Langsung aku ngglondhong-golong-komeng-glodhak-krompyang lari ke kamar mandi, mandi bebek sambil memikirkan alasan datang telat. Mau alasan antri mandi, jelas ga diterima, lha dateng kerja ga perlu mandi. Mau alasan sakit perut, jelas ga diterima, lha sakit perut koq sampe jam sebelas. Mau alasan baru lolos dari kejaran singa, jelas ga diterima, lha alasan itu sudah dipakai buat telat minggu lalu.

Alhasil, ide brilian pun muncul.

Pura-pura sakit.

Suhu,
panggung sandiwara.

2 comments: