Saturday, November 03, 2007

Mister Chan oh Mister Chan

Masih mengacu ke posting sebelumnya, Suhu bekerja di sebuah proyek renovasi sekolah yang diborong oleh kontraktor besar PT Bangun Subangkit. Sebagai seorang Mandor jagoan, semua orang di lapangan, ratusan bahkan jutaan umat manusia, mengikuti perintahnya, menjalankan aturannya, dan seringkali melakukannya dengan penuh keterpaksaan kesadaran.

Maka sebenarnya, tidaklah berlebihan jika Suhu selalu memasang kalimat demikian pada nick MSN nya.

suhu- Construction Site, there is God, and after God, me.

Kekuasaan yang terlalu besar diberikan kepada seorang anak ingusan, kadang bisa menjerumuskan yang bersangkutan ke jurang dalam yang memisahkan pegunungan Himalaya dengan Nusantara Indonesia. Beginilah kisahnya.

Ini kisah sebelum Suhu naik jabatan, dan tentunya pada saat itu Suhu gajinya belum setinggi sekarang belum punya tempat di dalam kantor yang ber-AC. Maka sehari-harinya, Mandor ini menghabiskan waktu di lapangan. Dan tentunya tidak tahu apa yang terjadi di dalam kantor.

Beberapa meter di balik dinding kantor yang memisahkan terik panas dunia dan sejuk hawa surgawi. Terdengar suara mister Liong menelepon dengan setengah berbisik. Manajer yang satu ini adalah salah satu orang yang jabatannya lebih tinggi dari Suhu. Tapi mister Liong selalu duduk di kantor dan menyelesaikan urusan-urusan manajerial yang tidak membutuhkan keringat pelik dan menyangkut tanggung jawab lebih tinggi.

Mister Liong setengah membungkuk sambil bercakap-cakap di telepon dengan lawan bicaranya. "Oh iya mister Chan, iya. Harap disertakan dokumennya kalau ada waktu ya. Yes, we will appreciate if you can send it to us as soon as possible..... Oh tentu, selagi ada senggang saja, jangan merepotkan. At your convenience...."

Tapi tentu saja Mandor tidak bisa mendengarkan betapa sopannya mister Liong dalam pembicaraan itu. Karena pada saat bersamaan Mandor sedang mengkoordinasi pekerjaan yang harus ditangani dengan seksama. "SATU DUA TIGA TARRIIIIKKKK...." Sampai suatu hari Mandor dipanggil masuk ke ruang manajer untuk mendiskusikan progress di lapangan.

Perbincangan yang cukup seru di mana Mandor menjelaskan bahwa karena kelalaian pekerja terjadi sedikit kesalahan urutan di pembangunan toilet. Jamban sudah terpasang tapi tidak terlihat pipa menuju septic tank. Tapi masalah itu teratasi dengan mudah setelah Mandor memberi jalan keluar dengan cara menyambungkan saluran pembuangan jamban tersebut ke selokan terdekat septic tank blok lain.

Setelah menjelaskan kemajuan dan kendala lapangan, mandor pun mohon diri untuk kembali melakukan pekerjaan koordinasi lagi. SATU DUA TIGA DOROOOOONGGG!!!!111satusatu. Eh eh eh belum sempat keluar Mister Liong sudah memanggil.

"Eh eh eh, you help me arh. You call this guy arh. His name is Chan. I need to get this document from him. I've tried so many times to call him but fail. You help me get this document arh."

Nada mister Liong benar-benar berbeda dengan tatakrama nya di telepon saat bersopan santun dengan mister Chan. Tentu saja nada penuh susila budaya itu di luar pengetahuan Mandor yang selama ini di luar melakukan pekerjaan koordinasi. SATU DUA TIGA LEMPAAARR!!!. Sementara nada yang digunakan mister Liong pada Suhu, si Mandor, adalah nada orang yang jengkel karena Mister Chan dari dulu tidak pernah melakukan hal yang diminta.

Dan bagi seorang mandor.

Membantah perintah.

Adalah.

Dosa.

Jelas saja Mandor langsung memandang masalah ini sangat serius. Tanpa pikir panjang, Mandor langsung mencoba menegakkan keadilan. Mengangkat telepon yang ada di meja mister Liong. Dan dia mulai menekan tuts telepon sesuai nomer yang diberikan mister Liong tadi.

Tatitut tut tut tit tut tit.

Tersambung ke suara seseorang yang tua.

Halo?
Eh, Chan arh. You arh ... *nada membentak*
Yes, speaking.
HEH! You still owe me something hor, you know hor.
Sorry arh, this is from where?
K*nn*n* still ask from where arh? N*b*h L*nj*ao still never put my number on your phonebook arh?
Sorrie... sorry...
Suhu here arh ... remember me anot? *ajaib kalau inget, ketemu aja gak pernah*
Eee....
Bangun subangkit, from company Bangun Subangkit.
O ya ya. Bangun subangkit.
Now you know me arh, you know already lah.
Hahaha ya mister Suhu, what's the matter.
LAUGHING AH? Nothing's funny! You owe me this document for so long liao when you want to submit? When? When? All men here waiting for you arh? You so special one arh?
Tomorrow tomorrow.
CHAN!
Yes yes yes...
Everytime tomorrow tomorrow. Yesterday tomorrow. Today tomorrow. Tomorrow tomorrow. Tok tok tok tok tok like this how people want to trust you?
....
You tell me, how to trust you?
Ya ya, really tomorrow.
No! You sleep too long already. I want it today on my table. Understand?
Okay okay. I will ask my man to prepare.
No no no, later you push your duty to your man, I don't care. You come here personally. I want to see you. Okay? OKAY! Good!

Setelah gagang telepon diletakkan. Seisi ruangan memandang Suhu dengan tatapan mata menelanjangi. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mereka tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan. Tapi semua sudah tahu bagaimana style seorang mandor membuat apa yang dia mau dituruti. By force.

Maka Mandor pun tersenyum kecil pada mister Liong yang masih kaku melihat Mandor barusan beraksi. Dan Mandor keluar kembali ke alam dunia nyata angkara satwa murka bencana lagi. Keluar dari kantor yang ber-ac. Mulai berjemur lagi.

Beberapa jam kemudian. Terdengar suara mister Liong, si manajer, dari walkie talkie.

"Suhu please come to the office"

Setelah menyelesaikan tugas koordinasinya SATU DUA TIGA LEPAAAASSSS, Mandor berjalan ke kantor. Lalu dia melihat ke dalam ruangan. Terlihat seorang lelaki berpakaian rapi. Berlengan panjang dan berdasi. Cukup berumur, yang pasti lebih tua dari ayah seorang Suhu. Sudah layak kalau Suhu manggil Mbah.

Mister adi arh?
Ya? Is there anything I can help you?

Terlihat ada petir menyambar di atas kepala lelaki tua itu.

I'm Chan arh.

Terlihat ada petir menyambar di atas kepala lelaki muda itu [Mandor].

Oh, hi Mister Chan.
This is the document you require, sorry for taking so long.

Lalu mister Liong menyela.

Oh it's okay. Sorry to trouble you until you come personally here.

Nada mister Liong benar-benar sopan dan penuh tutur tata krama susila bahasa bhineka tunggal ika swasembada tunakarya. Membuat Suhu benar-benar merasa penuh rasa bersalah. Tak sanggup dirinya memandang tatapan mata mister Chan yang mendalam. Sosok lelaki yang kepalanya setengah botak ditutupi rambut berwarna perak. Tubuh yang renta dimakan usia, dengan kerutan di wajah yang diukir sang waktu. Wibawanya yang berkharisma karena semua orang hormat kepadanya yang lebih tua.

Wibawanya yang hancur lebur karena dimaki-maki di telepon oleh seorang anak ingusan yang usianya belum sepertiga usia nya.

Suhu,
bocah kurang ajar.

8 comments:

tgwinmg said...

huahaha... SATU DUA TIGA TARIK! DORONG! LEMPAR! LEPAS! ---> somehow kesannya kok kayak lg mbangun piramid jaman Asterisk?

tbwih said...

ckckckc.. tambah kocak ajah postingan lo..
mantap bro.. teruskan perjuaanganmu..
ditunggu kelanjutan ceritanya ^_^
g cek tiap hari lho hehehehe

andreas lee said...

mbah chan oh mbah chan

imambenjol said...

dji sam soe

seekor bekicot muda said...

sopaaann.. hahaha

Gita Arimanda said...

iki tenanan hu?
nek iyo po ra cialak kamu?
itu bos apa bukan si Mr.Chan itu?

FaNNy said...

walawe,,,parah tenan hu,,,,

suhu said...

#tgwinmg:
SATU DUA TIGA BUAAAANGGG!!!!

#tbwih:
the boy with insatiable hunger?

#andreas lee:
kyaaa... cute

#imambenjol:
wish me luck

#bekicot:
nilai PMP sepuluh di rapot

#gita:
Bohong itu dosa, git. Dosa masuk neraka. Panas. Aduh. Nggak berani.

#fanny:
Ah, biasa aja, fan. Muahahaha