Saturday, October 27, 2007

Ujian, Cobaan, atau Siksaan?

Seperti yang telah kita ketahui, setelah Suhu selesai mengisi form Calon Menantu Idola, pihak juri akan mengadakan seleksi ketat. Setelah diseleksi secara pribadi oleh tgwinmg dengan cara yang saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Suhu berhasil melaju ke babak selanjutnya.

Pada putaran berikutnya, Suhu akan diuji oleh sang Waktu. Anyway, kami baru saja melalui 2nd anniversary kami. Somehow sang Waktu memberikan passing grade yang cukup baik untuk hubungan kami. Dan nampaknya Tuhan sedang butuh hiburan, dan akan sangat terhibur melihat lutut Mandor gemetar ketika tahu bahwa.

Orang tua daripada tgwinmg datang ke Singapura.

Okeh, sekedar background tentang calon mertua, biodata bisa dicari di kantor kelurahan terdekat. Yang pasti, calon mertua terdiri dari dua pihak. Ayah dan bunda daripada tgwinmg. Yang mulai saat ini akan disebut papah dan mamah.

Setelah perundingan yang matang antara papah dan mamah, mereka memutuskan untuk menguji nyali Suhu dengan cara menyuruh Suhu untuk pulang pagian dari kantor. Little do they know, bahwa sebagai seorang Mandor, jam pulang adalah terserah orang yang paling berkuasa di lapangan. Yang tidak lain adalah Mandor itu sendiri. Maka dengan mudah Suhu melewati rintangan menjadi calon Menantu Idola putaran tersebut.

Ujian selanjutnya berhubungan dengan pulang pagian tadi. Pulang pagian sebenarnya dengan tujuan diajak dinner. Iya, saudara saudara. Aku diajak makan malam oleh orang tua daripada pacar saya.

D-I-N-N-E-R. That's how you spell torment dinner.

Mungkin bagi sebagian besar orang, ajakan makan malam oleh pihak keluarga pacar adalah sebuah lompatan besar untuk masa penjajakan. Tapi percayalah, sebagian besar orang tersebut, dijamin belum pernah menjalaninya. Yah, bagi yang sudah mengalaminya, tentu kalian sudah tahu bagaimana akhir cerita ini. Heh, kamu ngapain jongkok sambil ketawa-ketawa di pojokan?!!?

Sebagai preliminary daripada ujian Dinner ini, papah memberikan sebuah clue berupa nama restoran untuk dinner ini. Rintangan ini pun dilalui dengan sukses setelah mengecek streetdirectory mengenai lintang bujur tempat tersebut. Dengan doa segenap karyawan PT Bangun Subangkit, Suhu pun berangkat diantar kurang lebih lima puluh tiga bangla yang melambaikan tangan seraya berkata "Good luck mister adi".

Merasa bahwa terlambat adalah sesuatu yang tidak baik, Suhu tiba ke tanah terjanji tempat yang dijanjikan lebih awal. Lebih awal dua jam. Lalu berusaha untuk tidak kelihatan seperti anak hilang, Suhu pergi ke pojokan. Lalu jongkok dan menangis sambil bertanya pada semua orang lewat "Mama mana?"

Singkat kata singkat cerita setelah ujian-ujian tersebut, tibalah saat kita ke saat yang berbahagia, dihantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan. Yaitu saatnya makan malam. Berusaha untuk tampil sopan dan bertatakrama, Suhu menyembunyikan identitas aslinya. Kata tips-tips di internet, be yourself. Kata orang-orang yang dekat dengan Suhu, "Don't. Be someone else. Maka dalam durasi beberapa jam cobaan hidup tersebut, karakter Suhu yang cengengesan itu berubah menjadi tegas, berwibawa dan berkharisma. Mudah bagi Suhu, karena memang mode ini sudah di-set untuk setiap hari kerja.

Okeh. Nampaknya kalian sudah menanti-nantikan malapetaka apa yang terjadi di meja makan. Ya, kamu jangan ketawa. Nampaknya banyak sekali pembaca yang enjoy atas segala bencana yang menimpa saya. Tenang saja, sobat muda di mana pun anda berada, masih di sini Suhu setia menemani anda. Selamat tertawa mendengarkan kemalangan saya.

Meskipun sudah dilatih oleh tgwinmg untuk menghadapi siksaan semacam ini dengan berbagai simulasi beberapa minggu lalu, tetap saja Suhu melakukan beberapa blunder fatal yang dapat mengakibatkan piala Calon Menantu Idaman bergulir ke tangan lain.

Wokay, sudah pingin ketawa ya. Blunder pertama terjadi di meja makan.

Pelayan datang memberikan peralatan makan, berupa empat buah sendok, dan empat buah garpu. Dan meletakkan segumpal peralatan makan tersebut di depan Suhu. Sebagai calon menantu idaman yang mencoba mengimpress pihak juri, Suhu berniat untuk membagikan empat pasang peralatan makan tersebut pada papah, mamah, tgwinmg, dan Suhu sendiri.

Tentu saja, saking tegangnya, ada sedikit kesalahan teknis. Tapi sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar. Memangnya apa susahnya sih buat papah untuk makan pakai dua sendok. Lagian kan gak sendirian, tuh mamah dapat dua garpu.

Blunder kedua lebih serius daripada pertukaran alat makan yang berujung mempertanyakan tingkat intelejensia. Awalnya sih cuma mamah bertanya pada Suhu tentang hal yang insignifikan. Entah kenapa, jawabannya memancing papah untuk ikut terlibat.

"Suhu suka kulit ayam?"
"Ooo suka, a'i. Kulit ayam enaakkk" *garpu menusuk kulit ayam di tengah meja.*
"Kulit ayam itu tidak sehat."
"...." *bingung antara mengembalikan kulit ayam ke tengah meja, atau melahapnya.*


Mungkin kalau kalian membaca cuplikan tersebut, kalian bilang "Ah biasa aja lah Hu, cuma gitu aja. Tapi karena kalian tidak merasakan duduk di kursi itu. Duduk di depan yang bersangkutan. Her father is an elemental force personifying the nightmares and fear of this world. Manifesting his daughter's boyfriend's fears, he greatly enfeebles his ability to talk. Her father is, in one word, Fear. And I'm not exaggerating.

Dan tentu saja ada saat-saat berpamitan di mana sudah saatnya matahari terbenam hari mulai malam terdengar burung hantu suaranya merdu Suhu Suhu suaranya merdu. Lalu Suhu berpamitan pada mereka.

Pulang dulu ya a'i. Pulang dulu suk. Yok ya.
O iya, ati-ati di jalan.
O iya, mari.
Eh yang, ini turun terus kanan jalan sampai tikungan ke arah itu langsung kan ya?
Iya, ntik belok pas keliatan tanda e itu ae.
Lho, Suhu ndak tahu jalan? Bisa pulang? Nanti ndak tersesat?


Dalam sepersekian milidetik, terlintas bayangan Suhu kecil memegang seikat balon, duduk di pojokan, umbelen, sambil menangis, bertanya pada setiap orang yang lewat "mama mana?"

Masih banyak lagi blunder yang dilakukan Suhu untuk melalui ujian Calon Menantu Idaman. Tapi satu yang pasti, Suhu belum menyerah. Buat yang melihat Suhu akhir-akhir ini depresi. Percayalah. Itu bukan sandiwara.

Suhu,
tertekan.

6 comments:

FaNNy said...

Semangat Hu! :D

imam said...

rasane pengen ketawa hu baca postingan kamu neng iki

INdah.pUspita said...

pengen ketawa... tapi suhu lagi tertekann.. jadi bingunggg.. >.<

duncan said...

nama mertua Athropos?

dina.. said...

smangat hu!
hehe, kayak gni nie yg bikin ntar pas udah merit terkenang selalu :D
jadi ngejaga bgt, soale dapet cewekna ga gampang :P

dina
-yang pernah liet kejadian lebih parah-

suhu said...

#fanny:
semangat Fan! :D

#imam:
sog atuh. kumaha?

#indah:
ga bole ketawa, tahan.

#duncan:
Nama keluarganya, redz.

#dina:
Muahahaha gaya ngomongmu, din. Kayak kamu udah merit aja.