Tuesday, October 30, 2007

Tentang Cinta, dan lain-lain

Posting kali ini akan berbicara tentang cinta. Heh!?! Belum apa-apa koq sudah senyum-senyum. Ini posting serius. Pengumuman sebelumnya. Posting ini bersifat serius. Jadi yang mau menertawakan aku untuk kejadian yang lalu, maaf mengecewakan. Putaran final Calon Menantu Idola diselesaikan dengan finalis yang telat datang ke Changi Airport sehingga membuat papah dan mamah nyaris ketinggalan pesawat. Lihat sisi baiknya, calon menantu yang satu ini pasti unforgettable. Apalagi kalau beneran ketinggalan pesawat.

Anyway, sebelum aku lanjut bercerita tentang kisah perjumpaan dengan calon mertua yang membuat kalian tertawa dan membuat aku menangis memegang balon jongkok di pojokan ruangan. Aku akan sekali lagi menegaskan bahwa papah dan mamah sudah kembali ke bumi pertiwi. Situasi sudah aman dan terkendali.

Di atas semua itu, Suhu bersyukur semua ini terjadi. Atas segala yang pernah terjadi. Kemarin malam, sambil terpejam, semua peristiwa lalu yang berhubungan dengan cintrong serasa terkenang satu persatu adegan demi adegan, cuplikan demi cuplikan dengan background musik lagu instrumental.



Mulai dari hari hancurnya hati Suhu dikoyak kenyataan bahwa kadang tidak semuanya berjalan seperti yang kita mau. Tak seorang pun di dunia ini sanggup meyakinkan Suhu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan saat itu, Suhu pernah mengalami sindrom takut-jatuh-cinta. Padahal waktu itu lagi aktif jadi hall IC buat freshie-freshie cakep, wasted!!#$#^!

Sindrom takut-jatuh-cinta itu berlanjut berlarut-larut hingga tahun berikutnya. Yang untungnya tidak berlarut-larut lebih lama, keburu tua. Yang pasti, rasa takut jatuh cinta, rasa kapok pacaran, dan rasa takut disakiti itu mendadak pergi. Dasar kebo. Mendadak pergi begitu saja, ketika aku bertemu dengan dia.

Karena tanpa suatu sebab yang jelas, aku tahu bahwa dia tidak akan menyakitiku lagi. Dan ternyata aku salah, dia jago kickboxing. Yang pasti, sejak hari itu, proses PeDeKaTe dimulai. Singkat kata singkat cerita, akhirnya Suhu memberanikan diri untuk menambah sampel statistik sembilan kali nembak tujuh belas kali ditolak.


Maukah kamu menjadikanku sansak pribadimu?


Sejak saat itu, sudah banyak yang kami lalui. Masalah, jelas ada. Berbagai masalah yang membuat dia menangis, dan membuat aku babak belur. Padahal sebenarnya masalahnya nggak besar, cuma lupa 1st anniversary. Terus juga nggak ngerti kalo hari Valentine itu segitu pentingnya. Karena memang Suhu belum terlatih dan pacarnya belum dijinakkan, kejadian seperti lupa-lihat-kalender itu bisa berakibat fatal.

Tapi sejauh ini kami masih menjadi pasangan yang saling melengkapi. Dia selalu ada saat aku stress efwaipi. Dan aku selalu hadir ketika makanannya nggak bisa habis. Dia senantiasa mengingatkan aku untuk mandi, aku mengingatkan dia untuk masak. Dia menjelaskan kalau buah-buahan itu sehat, aku pura-pura tidur.


Dia yang mengajariku, kalau flirt bisa berakibat patah tulang. Seperti halnya dengan mengenang hatsu koi bisa berakibat cacat permanen. Dan di atas semua itu, melupakan tanggal anniversary bisa berakibat sesak nafas dikarenakan tersedak sendok. Dan beberapa hari terakhir ini, dia mengajariku hal lain.

To love someone, you need to love her family. Love do not come in pieces.

Suhu,
masih terus belajar.

5 comments:

dina.. said...

benarrrr! :D

Herry -- HgS said...

Wah, hu. Pelajaran cintanya menarik. :-)

andreas lee said...

kyaaa..
cute......

FaNNy said...

panda nya lucu sekali..^^.

cerminen keluarga masa depan yah Hu :).

amin..moga2 langgeng sampe kakek nenek... ;)

suhu said...

#dina:
apanya?

#herry:
haha masi belajar, juga.

#andreas:
siapa? Dina? Herry?

#fanny:
ya ndak lah, fan. Suhu sih, anak, minimal empat ... belas.