Friday, October 12, 2007

Hari yang Menakjubkan

Meksipun judulnya seperti artikel-artikel rohani, tapi posting ini bukan. Kalau mencari Takjub oleh Anugerah dan hal-hal berbau rohani, mungkin salah alamat. Bukan pula judul lagu Sheila on 7.



Seperti layaknya cerita cerita kisah di balik hutan bambu biasanya, hari ini dimulai dengan sinar matahari yang menembus gumpalan awan putih dengan malu-malu. Merona merah menghiasi angkasa dan menerjang masuk jendela kamar Mandor yang kebetulan menghadap arah terbitnya sang Surya.

Hwarakadah.

Telat bangun lagi. Mencoba bangun dari posisi tergeletak tak bernyawa. Sendi-sendi sekitar betis dan lutut terasa nyeri. Sambil ngesot sampai ke toilet, mulai mencoba mandi dalam posisi bersimpuh. Kucek kucek mata sedikit, seluruh anggota badan terkena air sedikit, gosok handuk, mandi dianggap kelar.

Tahap berikutnya adalah berangkat ke tempat kerja dengan tjara saksama dan dalam tempo sesingkatsingkatnja. Berlari menembus semak-semak, jalan pintas menuju tempat kerja, tepat jam delapan pagi, nyalakan walkie talkie. Alasannya akan dijelaskan di lain waktu.

Meskipun pembukaannya sama dengan hari-hari tipikal kehidupan seorang mandor, tapi hari ini tidak akan sama dengan hari lain.

Sesampai di kantor tempat kerja, Mandor langsung mengganti sepatu fantovel nya dengan sepatu boot heavy duty. Ya, dilengkapi dengan pelat besi di sol nya, karena memang menginjak paku adalah makanan sehari-hari. Kuda lumping makan beling, mandor makan paku beton cor.

Terlihat sebuah mobil Mercedes melesat masuk ke dalam pekarangan Mandor. Dengan sigap sepasang mata elang Panda langsung autofokus ke area plat nomer mobil tersebut. Tidak lain itu adalah mobil pemilik perusahaan Bangun Subangkit, orang dengan posisi tertinggi di jajaran perusahaan. Tukang Talang. Director.

Segera Mandor mengontak walkie talkie ke Menejer Proyek.

*trututut* Fai fai coming.


Sudah menjadi tradisi bahwa siapa pun yang pertama melihat kehadiran bos besar, akan langsung menyampaikan kabar secepat kilat menuju jajaran kepemimpinan setingkat lebih atas. Mengamankan situasi masing-masing orang. Misalnya yang di kantor sedang buka situs porno main solitaire, langsung buka Microsoft Eksel.

Beberapa masa berlalu sangat pesat, hingga tiba waktunya makan siang. Setelah menyuapi raga, Mandor menuju ke ruang istirahatnya. Tidur siang. Seperti biasa. Terdengar pintu yang terbuat dari seng itu diketuk perlahan.

"mister adi ... excuse me ... very very sorry ..."


Sudah terbiasa dengan interupsi tidur siang, Mandor pun langsung bangun dari mimpi indah nya bekerja membangun kebun binatang. Selalu saja ada masalah, dan masalah tidak pernah menunggu. Menunggu mandor tidur siang, masalah tak akan selesai dengan sendirinya. Mulai dari delivery KFC, McDonalds, Pizza Hut kayu, besi, semen, pasir, kecelakaan pekerja, tukang pajak, minta sumbangan.

"mister fai fai call you"


Fai fai sangat jarang muncul di construction site, oleh sebab itu Mandor jarang bercakap-cakap dengannya. Jangankan bercakap-cakap, bertemu saja jarang. Terakhir kali bertemu dengan Fai fai adalah saat interview lamaran kerja ke PT Bangun Subangkit dan teken kontrak.

Aku melihat bentuk bulat Fai fai dari kejauhan. Di sana ada dua orang lain. Tantan dan Martin, dua-duanya adalah bawahanku. Mereka tengah bercakap-cakap dengan Fai fai. Terlihat mereka berdua mengangguk dengan patuh. Percakapan itu terlihat satu arah. Saat aku mendekat, jelas sudah bahwa Fai fai sedang mengkuliahi dua karyawannya. Tentang progress, tentang productivity. Siraman rohani dari boss menuju pekerja. Kurang enak jika ditulis isinya di sini. Yang pasti, semua pekerja kurang menyukai sesi ini.

"So you two understand? You must remember!"
"Yes, sir. Understand."
"Okay both of you may go now. Adi, come!


Perasaan campur aduk dalam hati Mandor. Gugup karena bagaimanapun juga boss adalah orang yang kharismatik. Takut karena boss koq jalannya gak nempel tanah? dua orang sebelumnya sudah dimarahi habis-habisan. Bingung karena gak tahu hal apa yang bisa membuat Mandor dimarahi. Apa karena uang jatah rokok proyek ini tiga kali lipat jatah normal? Welfare lah boss.

Daridariram diradiraram Badabum badabum.


Terdengar suara ringtone nyentrik dari hape Boss yang pasti harganya empat digit. Boss melihat dari layar hapenya. Raut muka nya berubah. Tiba-tiba tersenyum. Jangan-jangan dari gadis resepsionis karaoke. Lalu mulai berbincang-bincang tentang bisnis di telepon. Sambil tertawa penuh kepalsuan.

Sembari satu tangan memegang hape, satu tangannya sibuk menggapai sesuatu di dalam tasnya. Merogoh-rogoh tas bisnisnya yang dikepitkelek tangan yang memegang hape. Merasa kesulitan, boss memberikan isyarat dengan pandangan mata yang berpindah-pindah antara mandor - tas kulit - mandor - tas kulit - mandor - tas kulit.

Mandor bingung ini maksud nya apa. Berasumsi boss ingin mengambil sesuatu dari dalam tas tapi kesulitan karena tangan satu nya sedang sibuk, maka Mandor membantu dengan ikutan merogoh ke dalam tas memegangi tas kulit itu. Setengah membungkuk dengan menjunjung tas kulit hitam mengkilat tersbut, mandor membuat boss bisa dengan mudah mengambil sebuah amplop merah bertuliskan Fu putih dengan logo perusahaan.

Dag Dig Dug DhuarR.


Amplop itu. Terakhir kali amplop itu diberikan kepada seseorang, keesokan harinya orang yang bersangkutan meninggal tidak pernah muncul lagi di kantor. Surat resmi berlambang logo perusahaan biasanya hanya diberikan ke pihak luar. Menerima surat itu berarti ... kamu akan menjadi pihak luar. Alias. Di. Pe. Cat.

Boss mengambil tas kulitnya, dan menyodorkan amplop itu ke Mandor.

Shock layaknya ditolak cewek, pipi panas layaknya ketemu pujaan hati, belingsatan ga karuan layaknya lirikan mata bertemu tatapan sang idola. Akhirnya tertawa dalam hati karena, tidak seperti Bhro, aku punya kekasih yang bisa dicurhati.

Suhu,
naik gaji.

5 comments:

Herry -- HgS said...

Waduh bhro tabah ya... Tulisannya distrike kok. Hehehe... :p

dika said...

hooo, selamat selamaaattt :D

dina.. said...

huahuahuahuaaa.... aduhhh
sakit perut baca kalimat terakhirnya :D

choo said...

damn funny ha ha ha congrats di

imam said...

"Akhirnya tertawa dalam hati karena, tidak seperti Bhro, aku punya kekasih yang bisa dicurhati."

tenang bhro, ane senasib sama ente