Sunday, October 21, 2007

Glodhakkkkk [Episode 3]

Lanjutan dari Glodhakkkkk [Episode 2]

Ada apa gerangan?

Mandor langsung memacu seluruh adrenalin dalam tubuhnya dan berlari tersengal-sengal menuju arah datangnya suara sambil berusaha mengontak Martin, asisten Mandor yang bertugas untuk blok E. Berulang kali gagal, karena Martin sibuk memberitahu seluruh umat manusia bahwa ada kecelakaan di sana. Setiap kali Mandor berusaha menghubungi Martin, display walkie talkie nya menandakan.

User unavailable.


Tanda channel komunikasi sedang dipakai ke pihak lain. Setelah tujuh puluh tiga kali mencoba, akhirnya Mandor berhasil menyampaikan pesan. Sambil berlari mandor berucap ke walkie talkie nya yang sekarang sudah paired dengan channel Martin.

*trututut* What the fuck is happening?
*triut* sorry come again?
*trututut* Where the fuck is the accident?
*triut* sorry can speak louder?
*trututut* HEH! JANCOK!
*triut* A worker unconscious in level 4 block E, I no there when accident happen, I no know what exactly happening, now still asking them what happen, I .... I ... I ...
*trututut* Okay, coming.


Dari percakapan di atas dapat disimpulkan bahwa Jancok adalah kata kunci universal. Setelah mendengar nada sesenggukan Martin yang seperti anak TeKa dituduh wali kelas nya ribut di kelas, Mandor mengetahui dengan jelas apa kondisi sekarang. Situasi sekarang adalah. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi.

Mandor masih berlari, di belakangnya terlihat beberapa orang dari jajaran manajerial mengikutinya. Jelas mereka tidak bergerak secepat Mandor. Bukan, bukan karena badan Mandor sangat atletis dan kelincahannya tiada tara. Yang mau muntah embernya silakan dipakai. Tapi karena keadaan lapangan yang seperti kapal pecah membuat lari ke sana seolah tes halang rintang. Dan yang jelas, kalian tentu tahu bahwa Mandor tahu jelas bagaimana melewati rintangan tersebut.

Semua bisa karena biasa.

Seperti yang telah diduga, Mandor sampai pertama. Dengan beberapa orang atasannya terengah-engah di belakangnya beberapa langkah. Mandor melihat apa yang sebenarnya terjadi. Lekat tatapan mata nya pada sosok seseorang yang tergeletak di lantai. Dikelilingi oleh belasan pekerja yang hanya melihat tanpa tahu apa yang harus diperbuat. Di antara mereka, ada Martin, dengan wajah yang pucat. Bibirnya putih seperti tembok baru dikapur, dan seolah menggigil, semua bisa melihat ketakutan dalam dirinya.

Glodhakkkkk.

Kali ini suara ini tidak terdengar. Suara ini murni suara jantung Mandor jatuh ke daerah limpa. Dia benar-benar terkejut. Untuk kali ini. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat.

-Tamat-

No comments: