Friday, October 19, 2007

Glodhakkkkk [Episode 2]

Lanjutan dari Glodhakkkkk [Episode 1]

Astagajagarajanaga!!?!!#!%$#%@

Hujan turun sangat deras sampai seolah tumpah dari langit. Teringat saat Suhu menyenandungkan dendang lagu cinta di bawah balkoni rumah tgwinmg dan calon mertua memberikan siraman jasmaniah air cucian beras.

Tapi bukan itu yang menyebabkan mandor terkejut. Mandor terkejut karena.

- bersambung -























Becanda ah.

Bersamaan dengan pintu yang dibuka setengah paksa, sekelebat bayangan turun dari langit. Bukan. Bukan air hujan. Bukan pula kotoran burung yang tersapu derasnya hujan. Sekelebat bayangan itu besarnya kira-kira seukuran mesin fotokopi. Dalam hitungan milisekon Mandor berusaha mengidentifikasi benda keparat keramat apa yang menimbulkan suara menggelegar seperti palu Gundala sang putra petir.

Ya ampun, seonggok batang pohon yang sudah mengering patah dari induknya, dan melancarkan gerak jatuh bebas ke atap kantor Mandor, lalu berotasi dan bertranslasi secara paksa mengikuti landainya wuwungan dan sekali lagi membuat suara yang berlebihan desibel.

Selangkah dari maut.

Kalau Mandor tadi masih berteduh di pohon yang itu, mungkin dia sudah mendapat gelar tambahan selain 4 huruf yang didapatnya dari Ninja Turtles University. Suhu Pandaren Blogmaster, B.Eng bisa lulus jadi Suhu Pandaren Blogmaster, B.Eng (Almarhum). Sekian masa yang lalu, Mandor masih dengan santai berteduh di bawah batang pohon yang siap menukar lokasi rahang dan tulang selangkangannya.

Tapi memang begitulah hidup di Construction Site. Selangkah dari maut. Asal jangan salah melangkah saja. Jalan-jalan di daerah Deep Excavation, lalu kecemplung, mati. Jalan-jalan di daerah High Rise Construction, lalu terpeleset, mati. Jalan-jalan di jalan yang datar, lalu ketabrak trailer yang mundur tanpa liat spion, mati. Sewaktu blogger ini masih mempertanyakan arti kehidupan, Mandor sudah melihat beberapa kejadian lolos dari maut, sampai yang tidak lolos dari maut.

Mandor, yang sudah biasa lolos dari maut, tidak lagi melihat petaka itu sebagai sesuatu hal yang luar biasa. Lalu Mandor pun berlalu dan menuju ke kantor untuk meletakkan catatan hariannya dalam filing cabinet.

Masuk ke kantor [kali ini kantor beneran], dimulai dengan ritual keset di depan, lalu masuk satu langkah, buka sepatu boot, jalan di lantai bertekel dengan kaos kaki bolong, menoleh ke kiri, mengangguk, menoleh ke kanan, mengangguk, jalan ke seberang ruangan, dan membuka lemari filing cabinet, mengeluarkan sebuah folder berlabel Laporan Cuaca, menambahkan beberapa lembar yang baru selesai diisi tadi, menutup folder, mengembalikan ke tempat semula, berjalan keluar dengan kaos kaki bolong, memakai sepatu boot, belum sempat melangkah keluar, terdengar suara.

Glodhakkkkk.

Buru-buru memakai sepatu boot dengan sol pelat besi, Mandor hendak mengetahui dari mana suara tersebut berasal muasal. Sepatu boot kanan sudah terpakai, sepatu boot kiri sudah diangkat dari lantai. Terdengar suara dari walkie-talkie.

*Triut* Accident block E

Belum sempat menjawab, sudah terdengar suara Martin di walkie-talkie orang lain. Walkie talkie orang sekantor berbunyi bergantian. Semua diisi dengan logat kental foreman berkewarganegaraan Filipin, Martin Fernandez Lopez.

*Triut* Accident block E

*Triut* Accident block E

*Triut* Accident block E

Seluruh pasang tatap mata mengarah ke satu objek, Mandor. Mandor semakin tegang, atasannya yang jelas-jelas duduk di bangku manajerial akan melimpahkan tugas dan mandat kepadanya. Untuk menyelesaikan masalah apa pun yang terjadi di lapangan. Accident. Jika ada yang terluka, sembuhkan. Jika ada yang meninggal, sembunyikan bangkitkan.

Accident? Accident macam apa yang terjadi? Begitu banyak accident, mulai dari yang dampaknya immediate sampai yang dampaknya sembilan bulan kemudian jangka panjang.

Suara sekeras itu, apa kemungkinan yang ada? Dari arah datangnya suara, tidak banyak yang bisa dicurigai. Tidak ada pohon, tidak ada badai, tidak pula ada band metal dengan loud speaker eksesif.

Ada apa gerangan?

-bersambung-

No comments: