Monday, September 10, 2007

Home but not that Sweet

Empat tahun lebih aku tinggal di gumpalan tanah mengapung Singapura. Saat itu aku pergi meninggalkan orang-orang yang aku cintai. Kisah sedih, duka, maupun nestapa mereka tahu karena kuceritai. Apa aku di sini sanggup bertahan hidup semua senantiasa kuberi tai kuberitai. Survivability. Itu yang aku pelajari selama empat tahun kuliah di Singapura.

Tidak sedikit kisah sedih tentang beberapa pejuang yang ambruk di tengah jalan, dan pulang ke tanah air. Berangkat penuh semangat, pulang kalah perang. Berpamitan di airport, air mata mengalir tanpa sadar. Mungkin jumpa untuk terakhir kalinya, diberi ucapan selamat terus berjuang. Walau hati ini terus bertanya, "Empat tahun lulus kuliah, mungkinkah?"

Suhu, sudah biasa hidup dalam tekanan. Banyak yang bilang Suhu dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena Suhu sering menonton felem dewasa dipaksa keadaan. Betapa tidak, di usia yang masih sangat muda, Suhu sudah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak mengenal kejamnya krisis ekonomi. Keluarga Suhu termasuk salah satu keluarga yang terimbas krisis ekonomi secara parah. Parah.

Dari miskin, jadi tambah miskin.

Okeh, jangan mulai bahas masa lalu. Lembaran hitam biarkan hitam, mari kita buat felem biru lembaran yang lebih cerah. Yang jelas, empat tahun penyiksaan di Ninja Turtles University telah membuat Suhu menjadi sebuah sosok yang lebih tangguh menahan siksaan.

"Aaarghh .... tidak sakit!!! Sama sekali tidak sakit!!! Aaaaaauuooorrghhh"


Sekarang, Suhu telah keluar dari asrama. Telah pergi dari hutan bambu yang nyaman. Hutan bambu yang listrik, air, internet, pakai sepuasnya bayar tetap sama. Sekarang sudah tinggal di sebuah rumah flat kecil yang dihuni tiga orang Bujangan Teknik [Bachelor of Engineering]. Iya, Suhu, dengan dua orang temannya.

Yang satu bernama Bejo. Bisa dlihat dari namanya, Bejo adalah orang desa yang berasal dari daerah Jawa. Jawa Timur tepatnya. Timur pol, notog menthog Banyuwangi Muncar. Bejo adalah mantan rumet [baca: roommate] Suhu selama tiga tahun di Ninja Turtles University. Orang yang sangat dekat dengan Tuhan [rajin ke gereja, bukan hampir mati]. Pandai cendekia, tampan mempesona, bujang beranak dua tak bernoda. *Penulis tidak menerima bayaran apa pun untuk iklan ini. Iklan berbayar ada di pojok kiri atas atau bisa klik di sini.*

Bejo adalah seorang pekerja keras. Pekerjaan utamanya adalah laskar Kristus, tetapi pekerjaan sampingannya adalah bakul CD. Jadi dia akan menjual CD berisi software-software non-bajakan. Iyah, kita membicarakan CD berbentuk bundar, bukan segitiga. Bejo bekerja menjumpai klien-klien menjajakan barang bawaannya dengan bekal ilmu santet dan ilmu pelet marketing yang dipelajarinya selama training. Tapi jangan salah, tidak mudah masuk ke perusahaan ini. Mungkin itu karena kuasa Tuhan yang diberikan kepadanya. Sampai nama company nya kalau di search di answer.com akan menghasilkan definisi A command or revelation from God.

Lain Bejo lain pula Ari. Ari adalah pria kecil dari Malang yang dengan fasih berkata 'Jancok' kapan pun Suhu men-trigger nya. Iyo gak, cuk? Pria kecil bernama lengkap Arianto Anu Gerah ini juga seorang bujang teknik [Bachelor of Engineering], dan sama dengan Bejo, mereka mengandalkan papan kunci dan tikus untuk mencari uang.

Ari adalah clean freak orang yang menjunjung tinggi kebersihan di atas norma susila. Dia lebih suka mengepel ruang tamu daripada nonton felem porno. Tidak jarang Ari sekedar lewat kamar Suhu dan berkomentar "Kamarmu koq kotor toh hu?" Dan sebagai sesama orang Malang, Suhu menjawab dengan sapaan hormat "Cuk." yang artinya "Oh, okie. tq yah."

Ari bekerja di sebuah perusahaan yang tidak jelas aktivitasnya. Yang pasti berhubungan dengan komputer dan pemerintah. Oleh sebab itu kegiatannya juga cukup dirahasiakan dan tidak banyak diceritakan. Yang pasti, Ari mempunyai kekuasaan yang cukup besar di perusahaannya. Relatif besar dibanding ukuran fisik Ari.

Singkatnya, kami bertiga bekerja di tiga tempat yang berbeda. Jam kerja yang berbeda. Bejo berangkat jam tujuh pulang jam tak tentu. Suhu berangkat jam setengah delapan pulang belum tentu. Arianto entah, seperti selalu ada di rumah. Sebelum kami berangkat, dia masih tidur, sewaktu kami pulang, dia sudah tidur.

Yang pasti, kini kami sudah punya tempat berteduh. Kulkas, mesin cuci, dapur, kasur. Paling tidak ini adalah sebuah rumah.

Suhu,
Home but not that sweet.

2 comments:

Fanny said...

aku lagi mengalami salah satu yang menyakitkan...third year yang begitu menyiksa... :'(

suhu said...

#fanny:
ouch