Thursday, September 27, 2007

Bukan yang Dulu Lagi

Mandor itu berjalan di tengah derasnya hujan. Tidak ada gunanya berlari, toh pelan-pelan nanti juga sampai sudah terlanjur basah kuyub. Begitu gumamnya dalam hati. Sambil membuka kancing kemejanya satu persatu, dia membuka pintu kantornya, ruangan pribadinya, sebuah ruang empat kali empat meter dengan dinding seng. Pintunya juga terbuat dari seng. Dengan label tentunya.

Seperti tulisan di Site Office dengan pintu-pintu berlabel nama General Manager, Project Manager, Deputy Project Manager. Mandor juga punya ruangan sendiri yang terpisah dari kantor managerial. Dengan pintu berlabelkan Awas Anjing Galak huruf besar-besar BAHAYA JANGAN DEKAT.

Dalam ruangan yang sama tersimpan sebuah whiteboard tempat mandor mencatat segala macam hal. Mulai dari daftar pengeluaran bulan ini sampai hitungan teknik sederhana untuk menghitung lingkar dada ideal lingkar tikung trailer yang muat masuk Construction Site. Di ujung lain ruangan tersebut, terlihat sebuah Bar Bending Machine, yang terus-terusan mengeluarkan kepulan asap panas.

Mandor itu membuka bajunya perlahan. *para pembaca kaum Hawa harap menutup mata.* Lalu dia menggantungkan kemejanya di atas Bar Bending Machine. Perlahan dia berjalan ke kursi. Kelelahan dia nampaknya. Duduk di dhingklik tanpa sandaran, dia menghembuskan nafas terakhir perlahan.

Wuf wuf wuf. Huffff.

Begitu bunyinya.

Membuka laci mejanya, dia mengambil sebungkus Gudang Garam. Jancok Hwarakadah, tinggal satu batang. Menyalakannya dalam kegelapan mendung awan hujan. Menghisapnya perlahan.

Ahhh... nikmatnya rokok selundupan.

Dia mengambil kembali kemeja nya, memakainya tanpa mengencinginya mengancingnya. Dibiarkan terbuka begitu saja, dia keluar dengan rokok yang masih sisa lebih dari setengah. Hujan sudah semakin reda. Dia mengambil waktunya [terjemahan bebas dari 'He took his time']. Lalu terbatuk-batuk saat menghirup sisa-sisa tembakau yang sudah mencapai bagian filter.

Melihat tak ada lagi hal penting yang perlu dikerjakan, dia berjalan pulang. Berpapasan dengan segerombolan remaja yang jongkok di pojokan HDB [High and Dangerous Building]. Mereka mengepulkan asap dalam jumlah yang cukup banyak. Ternyata mereka terbakar merokok. Satu dari mereka berdiri dengan posisi peragawati. Bahu kiri lebih tinggi dari bahu kanan, sedikit membungkuk, leher menunduk, memandang Mandor dengan tatapan mata tajam seolah berkata 'Apa lu liat liat?'.

Mandor tidak meladeni tatapan mata tersebut dan hanya mendengar dirty jokes mereka sambil lalu. Ah, anak muda. Dulu Mandor juga pernah menjalani masa-masa itu. Masa di mana dia mengira dirinya tidak bisa mati. Mengacuhkan mereka, akhirnya langkah kaki itu sampai juga di LRT Station.

Setelah memasuki lift. Mandor melihat dari kejauhan ada seorang ibu muda dengan anaknya yang masih belum lancar berjalan. Kupencet tombol buka untuk menunggu mereka masuk ke dalam lift. Setelah mereka berdua masuk lift, ibu muda itu mengangguk hormat pada Mandor. Dan anak kecil itu berkata setengah berteriak.

"Xiexie, uncle!"

Demikian kisah bagaimana Mandor itu melempar anak kecil keluar lift merasa bukan yang dulu lagi.

uncle Suhu,
bukan yang dulu lagi.

2 comments:

Reza de Bhro said...

Suatu saat aku juga bakal merasa bukan Bram yang dulu lagi Hu....

Papa... papa Brama... Beliin mainan itu dong....

Suatu saat....

suhu said...

#Bhro:

Lalu terkejut karena bapak-bapak sebelah namanya mirip sambil meratapi masa lajang yang tak kunjung berakhir.