Saturday, August 18, 2007

Merdeka atau Mati

Hari ini adalah tanggal 17 Agustus 2007.

Mungkin tidak berarti begitu banyak bagi orang-orang di sekitarku. Tiga singaporean, dua malaysian, tiga filipinan, tiga myanmarian, dan seratus tiga bangla tentu tidak merayakan hari ini. Hari Kemerdekaan Indonesia.

Dirgahayu. Itu istilah kampung nya.

Yang selalu ditulis di gapura gang gang di kampung Kelurahan Jatimulyo, dan tetap di sana sepanjang tahun karena semua malas membersihkan. Kemerdekaan Indonesia. Tentu sebuah kata yang menggembirakan. Merdeka. Bebas. Terserah kita. Tidak diatur orang. Semau gue.

Apalagi setelah penjajahan yang begitu lama. Belanda menjajah selama 350 tahun. Mulai dari saat VOC datang tahun 1602. Belum sempat mengenyam nikmatnya udara kebebasan saat Belanda pergi, bersambut kedatangan Saudara Tua Dai Nippon menjajah ibu pertiwi. Lalu proklamasi kemerdekaan saat prajurit sedang ditarik mundur.

Ya tentu saja politisi seperti Bung Karno dan Bung Hatta enggan untuk proklamasi 17 Agustus 1945, karena kesannya seperti mencuri kemerdekaan diam-diam saat Jepang tidak ada. Tapi untung ada pihak pemuda yang menculik beliau ke Rengasdengklok dan membuat beliau berubah pikiran.

Dugaan sementara kejadian di Rengasdengklok:

Jadi gimana pak? Bisa merdeka besok?
Ummphhh... urgh.... *geleng*
Sanyoto, ambilkan buku telpon.
Kenapa gak pakai raket tenis aja?
Buku telpon lebih aman, gak berbekas.
Selain buku telpon bisa gak?
Kalau pakai benda tajam bisa gawat, To. Kalau pakai pemukul, gak bagus. Masa' bapak proklamator benjut? Kan ini event bersejarah, pasti difoto.
Ada satu masalah kalau buku telpon, Dji.
Apa masalahnya?
Zaman ini belum banyak yang punya telpon, jadi buku telponnya tipis. Gimana kalau kamus Belanda-Jawa aja?
Ide bagus itu, To
Bentar aku ambilin.
Ummphhh... urgh.... *manggut manggut*


Keesokan harinya, bapak proklamator memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Untung kita gebugin ya, kalau nggak kita gak bakal merdeka.
Ya kan cuman buat nakut-nakutin.
Tapi kamus Belanda Jawa bener-bener mantep, Dji. Tanpa bekas.
Mau bekas gimana, kena aja nggak?
Lho kemarin kita gebugin kan?
He?
Kemarin malam abis kamu suruh ambil kamus, kamu pergi ke mana?
Beli mi pangsit di depan, bapak itu laper kayaknya.
Aku kira kamu njemput bapak satunya, ya dia takgebugin dulu.
He?


Eh iya, sebenarnya slogan kita itu seruan Merdeka atau Mati! atau pertanyaan mengancam Merdeka atau Mati?

Kejadian itu sudah enam puluh dua tahun silam. Apa yang terjadi di Rengasdengklok, biarlah menjadi dugaan semua umat manusia. Satu yang pasti. Indonesia sampai sekarang, masih belum merdeka.

"Saya katakan bahwa tidak pernah ada waktu di mana Indonesia tidak menjadi target instrumennya yang berubah: dari bedil, bayonet dan meriam, menjadi penguasaan teknologi, manajemen, dan pembentukan kroni atau komprador dari kalangan elite bangsa kita sendiri." Kwik Kian Gie ~ Menteri Negara PPN / Kepala Bappenas


Suhu,
mendamba kemerdekaan sepenuhnya.

2 comments:

skinny idub said...

haha.. kapan ya bos..

makar yuk... hahaha *becanda

suhu said...

idub:
MAKAn ikan bakaR