Wednesday, August 29, 2007

Communication Skills [Part II]

Air berubah bentuk menurut wadah. Begitu pula dengan manusia. Manusia berubah bentuk kalau ditindih gajah berubah pikiran sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Misalnya orang yang dulu nya berpikir bahwa sekolah itu nggak enak, lalu setelah bekerja merasa bahwa sekolah itu sangat indah. Itu salah satu contoh yang paling sering ditemui.

Contoh lain adalah salah seorang mandor yang dulu berpikir bahwa Communication Skills itu tidak diperlukan. Setelah mandor tersebut masuk ke dunia kerja, mandor berubah pikiran. Communication Skills bukannya tidak diperlukan, tapi benar-benar sampah.

Mandor yang sudah mengambil mata kuliah sejenis ini tiga kali [Communication Skill, Technical Communication, dan Professional Communication], memiliki situasi. Yang tentu saja situasi ini memaksa mandor untuk merasa bahwa pelajaran Communication Skill harusnya dimusnahkan dari muka bumi.

Oke. Dalam pelajaran Communication Skills yang diambil pada semester dua tahun pertama, aku diajari untuk mempresentasikan hasil penelitian yang bersifat teknik. Waktu itu, proyek yang dibuat adalah merancang Roller-coaster track. Berbagai hitungan fisika sederhana ditampilkan agar para hadirin dapat mengerti pesan yang akan kita sampaikan. Bahasa Inggris kami dicerca dan dikritik habis-habisan. Mengingat empat orang yang ada di grup ku adalah total foreigner yang masih susah membedakan pelafalan bitch and beach.

Bahkan sering kami mengira anak pantai adalah makian yang populer di felem felem amerika. Shut the f*ck up you son of the beach!

Di tahun kedua, kami diajari Technical Communication. Aku diajari cara menulis memo yang baik dan benar. Menulis surat untuk korespondensi, dan menyampaikan pesan secara formal. Sekali lagi, bahasa inggris dicerca dan dihina. Tingkat intelejensia dipertanyakan ketika tidak bisa membedakan past tense dan future tense. Dan sebagainya. Kemampuan presentasi yang sudah terasah di tahun pertama, dipandu dengan kemampuan surat menyurat yang dibina selama satu semester. Membuat para engineer ini sakti mandraguna dan siap mengalahkan anak-anak lulusan ilmu komunikasi.

Oke, agak berlebihan mengkhayalnya.

Tapi waktu tahun ketiga aku menjalani magang, semua hal itu terhapus dan lapuk oleh waktu. Satu semester magang, berapa surat yang aku tulis. Enol. Berapa presentasi yang aku hadiri. Satu. Berapa lama durasi presentasi? Lima menit. Sisanya selalu diselesaikan lewat komunikasi one-on-one antar engineer secara jantan. Satu orang duduk di satu sisi meja, berhadapan dengan lawan bicaranya. Lalu mulai membicarakan rumus dan mencerca rancangan struktur satu sama lain.

Bukan melalui surat dengan Dear Sir tapi melalui tatap muka langsung dan diawali dengan How? sambil menyodorkan gambar teknik yang rumit.

Selama setengah tahun digembleng di dunia magang yang sangat teknik, sedikit banyak gaya kerja mereka mencuci otak mahasiswa yang masih belum selesai kuliah. Dan dengan lugunya mahasiswa mana pun akan merasa bahwa ilmu-ilmu dua sks [iya, maksud saya CommSkill] itu tidak berguna. Karena selama masa magangnya, ilmu Dear Sir tidak pernah terpakai barang secuil pun.

Tapi, seperti yang kita semua tahu.

Air berubah bentuk menurut wadah, manusia berubah bentuk terinjak gajah berubah pendapat menurut usia situasi. Mungkin saja pendapatku berubah. Mungkin di masa depan aku akan berpikir Communication Skill itu sangat penting. Masa depan. Future.

Very near future.

Suhu,
pentingnya CommSkill ada di depan mata episode berikutnya.

1 comment:

Dina said...

mau ngelamar ya hu?


semangat!