Saturday, June 02, 2007

Hari Pertama Kerja

Hari ini adalah hari pertama kerja. Kata orang-orang first impression lasts, maka pada hari pertama harus tampil prima, cerdas berwawasan, rapi tapi tidak berlebihan, cermat bersahaja, tapi yang paling penting tidak boleh telat.

Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, Suhu akan bekerja menjadi seorang engineer tangguh yang diletakkan di lapangan. Tugas detail nya belum dipahami, dan akan dijelaskan saat hari pertama kerja. Yaitu hari ini. Yang diketahui, proyek akan berletak di Bukit Panjang.

Nggak tahu Bukit Panjang?

Gimana ya jelasinnya. Choa Chu Kang tahu?

Wah kalau gak tahu CCK ya susah. Kalau Yew Tee tahu nggak?

O ga tau juga. Kalau Puncak tahu nggak?

Iya, yang dekat Jakarta itu. He'eh Puncak. Nah, dari Puncak, ke Jakarta. Terus naik pesawat, cari yang turunnya di Changi, terus naik taxi bilang yang nyetir mau ke Bukit Panjang gitu.


Dari tempat tinggal sekarang, asrama NTU, untuk sampai ke Bukit Panjang bisa dicapai dalam waktu kurang dari 1 jam. Mungkin sekitar 40 menit maximal. Tapi, ada masalah. Sebagai seorang mandor berdedikasi, pekerjaan Suhu adalah mengawasi pembangunan. Masalahnya, proyek Bukit Panjang masih dalam tahap planning di mana engineer-engineer tangguh seperti Suhu tidak diperlukan. Mereka memerlukan engineer-engineer rapuh yang duduk di dalam kantor dan berdiskusi sambil minum kopi.

Maka, bos besar PT Baik-baik, Mr. Iyus, meng-assign Suhu untuk membantu proyek yang sedang berjalan dan membutuhkan engineer-engineer tangguh [baca: mandor], di daerah perumahan Bedok.

Nggak tahu Bedok? Tahu Puncak? Dari Puncak, ke Jakarta, terus naek pesawat jurusan Changi.

Dari Changi jalan kaki nyampe.


Pagi ini, Suhu bangun jam lima pagi. Menyetrika baju sampai licin, merapikan celana sampai lipatannya bisa dibuat membelah semangka, dan menyemir sepatu sampai bisa dibuat berkaca. Lalu mandi dan gosok gigi. Dan langsung berangkat kerja. Buka pintu kamar terasa dingin sekali.

Oh pantas.

Baju dan celana habis disetrika belum dipakai.

Pukul enam lebih sedikit Suhu turun ke bus stop Hall 4. Sambil melihat cahaya bulan [di Singapore jam enam pagi masih bisa melihat bulan purnama], aku menunggu bus 179. Sepertinya memang terlalu pagi. Tapi pengorbanan ini tidak akan sia-sia, karena hari pertama tidak boleh telat.

Kenapa berangkat begitu pagi? Tentu saja karena Suhu rajin tempat kerja di Bedok dan jam masuk kantor pukul delapan pagi. Diramalkan, mendapat first bus 179 masih ada kemungkinan masuk kerja telat. Dan sebagai orang yang bertanggung jawab, kita harus memproyeksikan sikap bertanggung jawab kita. Salah satu caranya adalah tidak boleh telat.

Dengan ramalan jam kedatangan bus yang tepat, di bawah sinar bulan purnama Suhu pun naik delman ke kota bus kota. Pergi ke Boon Lay MRT. Hampir tidak bisa dipercaya, Singapore seperti kota mati di pagi hari. Bus stop yang selalu penuh orang hanya ada satu dua sosok bayangan. Lho yang satu lagi koq ga ada bayangannya? Biar agak angker gitu tetep harus naik bus 179, karena tidak boleh telat.

Sambil takut-takut, aku ngobrol sama supir bus nya, biar gak terlalu sepi.

Wah dingin ya uncle kalau pagi gini.
Iya, dulu waktu uncle masih muda lebih dingin lagi.
Ngeri ya sepi sepi gini.
Ha ha ha ada aja kamu ini.
Di singapore ndak ada setan tapi ya, uncle?
Ndak ada, uncle udah nyetir bus 300 tahun gak pernah ketemu yang namanya setan.


Aku langsung turun.

Perjalanan dilanjutkan dengan naik MRT dari Boonlay ke Bedok. Untuk teman-teman yang berdomisili tidak di singapura, bisa melihat peta perjalanannya di sini. Lalu ikut berbelasungkawa.

Setelah perjalanan yang memakan tiga abad, akhirnya Suhu sampai ke Bedok. Di Bedok, sesuai instruksi Joni, Suhu langsung meneleponnya.

Joni, aku udah di Bedok.
Mantap nian kau, aku baru bangun.
Terus sekarang aku ke mana?
Kamu naik bus nomer 222.
Oke. Terus turun di mana?
Kamu nanti keliatan kantor polisi, suruh bus berhenti.
Bus stop sesudah kantor polisi, aku turun?
Nah, terus kamu jalan berlawanan arah dengan bus nya.
Terus?
Sampai ketemu bus stop.
Lha ada apa aku jauh-jauh kalau akhirnya balik?
Susah ngasi tahu bus stop yang mana, pokok nya bus stop sebelum kantor polisi, kalau sudah lihat kantor polisi, berarti kelewatan satu halte.
Oke.


Dari kejauhan Suhu melihat bus 222 sudah memuat penumpang dan pintunya sudah mau menutup. Suhu mengejar sekuat tenaga, sprint seperti yang biasa dilakukannya di masa muda, dan berhasil menjadi penumpang terakhir yang masuk, dan seluruh penumpang di dalam bertepuk tangan. Biasanya kalau ada bus yang mau pergi, kurelakan. Kali ini kukejar, karena hari pertama tidak boleh telat.

Setelah naik bus 222 sesuai instruksi dan berjalan mundur beberapa ratus meter, aku menemukan kantor polisi. Dan kulanjutkan jalan mundur, aku menemukan bus stop. Dan aku berhenti, dan menelepon Joni lagi.

Sudah di bus stop nih.
Sip, kamu tunggu ya.
Oke.
Aku jemput kamu di sana.


Suhu menunggu dan menunggu. Akhirnya setelah setengah jam menunggu. Joni datang, dan mengantarku masuk kantor.

Tempat ini, yang akan menjadi persinggahan hidupku selama seribu hari depan.


Suhu,
hari pertama, telat.

Posting ini ditulis tanggal 10 Juni 2007 dikarenakan keterbatasan waktu yang tersisa setelah 24 jam sehari dipotong waktu 10 jam kerja dan 4 jam di jalan 8 jam tidur dan 2 jam berfantasi di kamar mandi.


Capek.
Huff.
Baru pulang.
Ngeblog nya besok aja.
Tapi besok masuk kerja jam 8 lagi.
Minggu aja deh.
Bye.

Panda Tambun,
menunaikan ibadah ngupdate.


NB. Yang ini dipost 1 juni beneran.

5 comments:

NaDia RaiSyA said...

asikkk.. pertamaaaaa :D
*dpt hadiah ga?*

hari Sabtu kerja juga, Hu?

konnyaku said...

tebak hr ini aku ngeklik blogmu brp kali?
met keja hu..

suhu said...

#nadia:
promosi 3 komentator pertama dapat hadiah sudah berakhir tiga bulan lalu, mbak.

#konnyaku:
42

Reza de Bhro said...

kok nggak ada trial sih Hu.... Aku sebelum masuk kerja ato interview yang jadwalnya pagi banget, sebelumnya pasti trial dulu. Selain ngapalin jalan juga ngitung waktu.

suhu said...

#bhro:
kalau sekali berangkat 2 jam, mau trial, pulang pergi 4 jam, bhro. Itu kalau langsung ketemu. Kalau masih nyari?