Wednesday, May 23, 2007

Rentetan Interview [Part 7:Kamis]

Hari ini mungkin adalah hari yang akan tercatat dalam sejarah. Terpanggilnya Suhu ke interview babak dua DLLAJR merupakan suatu keajaiban. Pukul setengah tujuh pagi Suhu sudah berada di bus stop. Ke daerah Hampshire sempat lah satu setengah jam. Toh aku sudah tahu tempat interviewnya, sama dengan interview sesi pertama.

Semua rencana akan berjalan mulus kalau aku dapat bus sekarang, lalu naik MRT, oper di Outram, lalu ke arah Punggol, lalu bisa berjalan kaki dengan tenang, tiba sepuluh menit lebih awal, dapat impresi bagus, interviewer suka, dan aku digaji lebih tinggi dari seharusnya.

Dan semua impian itu musnah. Karena aku tidak dapat bus sekarang.

Pukul tujuh tepat tiga bus 179 datang bersamaan. Bus pertama bannya kugembosi karena datang terlambat. Bus kedua sopirnya kumakan, karena sudah tidak ada waktu buat beli sarapan. Lalu aku naik bus ketiga.

Di dalam bus aku bertemu dengan tgwinmg yang kebetulan sedang berangkat kerja. Dan itu artinya, aku sangat terlambat. Padahal kalau aku dapat bus dengan lancar, lalu naik MRT, oper di Outram, lalu ke arah Punggol, lalu bisa berjalan kaki dengan tenang, tiba sepuluh menit lebih awal, dapat impresi bagus, interviewer suka, dan aku digaji lebih tinggi dari seharusnya.

Menggunakan decision-making skill yang terasah sejak dini, aku memutuskan naik taxi. Meskipun taxi ongkosnya lebih mahal, mungkin nanti aku masih bisa tiba sepuluh menit lebih awal, dapat impresi bagus, interviewer suka, dan aku digaji lebih tinggi dari seharusnya.

Tapi janji tinggal janji, lain kenyataan beda dengan mimpi, taxi tidak kunjung tiba. Sampai akhirnya tiba seekor taxi, Suhu dan tgwinmg langsung melompat ke atas taxi dan menyuruh sopirnya tancap gas sembari kami berusaha masuk ke dalam. Sopir taxi itu pun mengerti bahwa keadaan sudah sangat darurat dan langsung tancap gas, meskipun kami belum memberi tahu tujuannya.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, masih di dalam taxi dengan AC full, tapi masih berkeringat. Benar-benar olahraga mental, hati dag dig dug, berharap kalau taxi ini bisa melaju dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, maka menurut teori relativitas, aku bisa tiba lebih awal meskipun sekarang sudah terlambat.

Handphone berdering, suara di ujung sana memanggil.
Good morning, Mr. Adi?
Yes, speaking.
This is Jane calling from DLLAJR, you are reaching here soon, right?
I'm on my way.
You'd better be hurry because your interview is scheduled ten minutes ago, and we have another session after yours.
Like I care.
I'll be there in a minute.
Thank you, I'll be waiting in the main lobby.
Alright. Yeah. Alright. Thanks, babe. *Gaya Andreas Lee* See you.


Beberapa menit kemudian, aku sudah di lobby bertemu dengan Jane. Sudah banyak wanita yang menelepon aku sejak aku apply ke DLLAJR, mulai dari Amy, Jane, Nancy, dan tak lupa juga Bambang Monica. Mulai dari minta softcopy resume, minta ijazah SMA, nilai DANEM SMP, sampai rapot eSDe untuk kelengkapan portfolio aplikasi lamaran kerja. Tapi dari wanita-wanita tersebut, selalu Jane yang dapat impresi buruk.

Ini bukan pertama kali Jane telepon. Telepon pertama Jane, Suhu sedang meeting dengan dosen pembimbing skripsi, jadi dengan ganas langsung tekan tombol reject. Telepon kedua, Suhu sedang nonton anime genre tertentu, jadi di balik pembicaraan kami ada background suara "Yasashiku shite kudasaii... aaa... aaa... kimochii..." sibuk melakukan kegiatan lain. Telepon ketiga Suhu masih tidur, jadi dijawab dengan suara baru bangun dan kesadaran seadanya. Dan telepon terakhir, dijawab dari dalam taxi karena telat interview. First impression lasts. Lasts until she can make second, third, forth, and fifth impression.

Jane tersenyum, dan menunjukkan jalan ke Meeting room 116. Sepanjang jalan ruangan itu mirip semua, seperti ruang dosen di Spine kampus Ninja Turtles University. Dia menyuruh aku masuk salah satu ruangan, dan mengunciku dari luar, lalu gas beracun keluar dari sela-sela daun jendela mempersilahkan Suhu duduk dengan sopan. Mempersilakan nya yang dengan sopan, bukan duduk nya.

Masih Suhu mencoba mengembalikan pola nafas nya menjadi teratur, dia mengeluarkan tiga lembar kertas. Yang pertama sebuah kertas A4 70 gram dengan dua baris teks font Times New Roman. Lembar kedua adalah lembar bergaris, yang kosong. Tidak begitu kosong karena sudah ada garisnya. Yang ketiga, mirip seperti yang kedua. Jane menjelaskan bahwa test pertama adalah test tertulis, dan waktu ku tidak banyak karena aku terlambat.

Suhu sudah terlatih di Ninja Turtles University yang mempunyai policy serupa, datang terlambat waktu tambahan tidak diberikan. Tanpa membuang waktu, segera Suhu melakukan hal yang akan dilakukan orang pada umumnya, memohon pada Jane agar diberikan waktu tambahan mulai mengerjakan sebisanya dalam waktu yang tersisa.

Karena ini interview DLLAJR [Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya], maka pertanyaannya berkisar tentang ilmu santet dan ilmu pelet lalu lintas dan jalan raya. Posisi yang diincar Suhu adalah Engineer bagian Road Maintenance. Tugas daripada Engineer road maintenance adalah me-maintain road. Ada lubang tak dikehendaki maupun galian telpon, pipa air, dan lain sebagainya, adalah tugas Engineer Road Maintenance untuk memastikan jalan akan bisa dipakai secara semestinya. Sebenarnya tidak hanya road, tapi juga road related facilities. Seperti lampu lalu lintas, peringatan, dan juga rambu-rambu lalu lintas.

Dan test tertulis ini, berupa Express your views in standard in maintenance of roads and road related facilities.

Disertai dua lembar jawaban kosong.

Dan lima belas menit.

Setelah menorehkan beberapa kalimat tentang pentingnya road maintenance dan bagaimana rambu lalu lintas harus dibuat menarik [seperti ilustrasi yang ditampilkan di post ini]. Jane mengantarku ke ruangan lain di mana telah menunggu tiga orang yang akan melakukan interview.

Di sisi kiri, seonggok gadis cantik. Di sisi kanan, seorang pria cina. Dan di tengah, seorang pria lain yang lebih cina. Mereka benar-benar team yang baik. Pria yang di tengah menanyaiku berbagai pertanyaan. Pria di kanan terus mencatat jawabanku kata per kata, menunggu aku akan mengatakan suatu kesalahan kecil. Dan tiap aku mengajukan pertanyaan, selalu gadis manis itu yang menjawab. Mungkin karena pertanyaan yang kuajukan adalah berapa nomer hapenya yang berhubungan dengan divisi nya. Kontrak pegawai. Gaji. Masa jabatan. Jatah cuti. Tunjangan.

Detil interview tidak akan diceritakan di sini. Tapi yang pasti yang terjadi adalah tragedi berdarah di mana tiga interviewer itu menghujani Suhu dengan ribuan pertanyaan dari berbagai sisi. Dari sisi religius sampai sisi gelap, dari sisi baik sampai sisi buruk, dari sisi manjuntak sampai sisi mangaraja.

Hasil interview nya?

Berhasil?

Gagal?

Pekerjaan apakah yang akan diambil Suhu pada akhirnya setelah rentetan interview. Nantikan jawabannya di episode berikutnya. Rentetan Interview: Finale.

Suhu,
belajar rambu-rambu lalu lintas.

5 comments:

imambenjol said...

pertama!!!

Fanny said...

ga sabar sama finale nya!

*apa sengaja dibarengin sama american idol finale ? :P

**ga penting :P

Anonymous said...

Nyebut merek juga akhirnya,,, hehehehe

LTA,,, LTA,,

konnyaku said...

semuanya sedang season finale
sampai suhu juga :p

apakah ada kecoa terlibat dalam finale rentetan interview?

suhu said...

#imambenjol:
first blood (+100)

#fanny:
aku ga nonton american idol. Heroes finale.

#ano:
hiyah.... seperti kata pepatah, sepandai-pandainya Panda ngeblog akhirnya keceplosan juga.

#konnyaku:
yang pasti waktu finale nanti tokoh utamanya akan bilang "It is not the job. It is the man." Dengan nada terpatah-patah seperti "katana janai, otoko nanda."