Sunday, May 20, 2007

Rentetan Interview [Part 4: Senin]

Peduli setan dengan dua pekerjaan tersebut, hari ini aku ada interview lain yang perlu aku hadapi. Hari adalah waktu nya interview dengan perusahaan konstruksi PT Baik-baik. Interview nya akan berlangsung di Little India MRT, tepatnya di rel kereta api entah di mana, Joni akan menemuiku karena ini kebetulan hari pertama dia magang di sana. Kami akan berangkat bersama dari Little India MRT. Setelah sampai di Little India MRT jam setengah delapan [Interviewnya jam 8 pagi, benul, keparat], Joni me-sms aku.

Change of plans, we meet in Farrerpark MRT.


Kenapa ya? Kantornya pindah? Susah nemunya di Little India mungkin, jam segini masih gelap di Little India. Hwarakadah, di Little India jam 12 siang juga masih gelap. I can't help it, I'm a racist. And I bet you are, too.

Ke Farrerpark MRT, menemui Joni, lalu jalan sedikit, terlihat sebuah bangunan sederhana, kecil, bersih, seperti bayi yang baru dilahirkan bayi yang baru dimandikan. Belum sempat kami berdua terpesona pada bangunan ini, kenyataan menyadarkan kami kembali bahwa kami belum mandi dan gosok gigi kantornya belum buka. Hwarakadah blah gerabah horasbah. Kepagian.

Menengok kiri dan kanan, mencari gadis perawan tempat makan. Tapi nampaknya nasib baik tidak di sisi kami. Untung tak lama kemudian seseorang datang dan membukakan pintu besi kantor itu dengan linggis dan peralatan berat kunci manual bukan magnetik.

Kami dipersilahkan masuk dan diminta menunggu datangnya esok hari datang nya bos besar yang akan menginterview langsung. Sekitar setengah jam kemudian, ada bapak-bapak gendut masuk, dan menyapa Joni. Joni menendang tulang keringku, kira-kira maksudnya "He's the boss, stop picking your nose". Aku menjabat tangannya dengan erat, dan dia langsung pamit mau cuci tangan.

Singkat kata, aku diinterview.

You also want to have internship here ah?
No, sir
Oh? I thought you were here for job?
Yes, but I'm more interested in permanent one.
Oh okay, that will be very good.
This is my resume. *Ngasi resume*
I see, do you have any experience on site before? *ngambil resume lalu diletakkan ke samping*
No, sir. But I have experience in design firm before.
Sadly, those experience won't be used much in our company.
I am well aware of it.
You sure you want site job? This job can be physically demanding, and drain your energy.
Ya.
And you also can not dream about being a PE anytime soon.
I see.
So why you don't want to be a designer? I heard from Joni your result okay, and you are experienced. Why?
The job sucks, sir. Big time.
You prefer physical task?
Yes. With physical tasks, I can get big, get a cool car, and fuck chicks. *refer to this post*


Yang akhir-akhir itu sudah fiktif. Intinya, Interview nya berlangsung sangat lancar dan dia tidak minta transcript karena job ini tidak memerlukan nilai akademik yang bagus. Asalkan bisa berkomunikasi dengan baik, dia merasa itu cukup. Apalagi Suhu yang bisa tiga bahasa [manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan], jelas itu bisa menjadi nilai tambah.

Hasil interview di-pending. Tapi dalam hati kecil Suhu, berharap semoga dia menerima. Bos nya kelihatan lebih baik daripada interview-interview sebelumnya. Orangnya positive, selalu melihat bahwa bekerja adalah learning opportunity. Dan yang aku suka darinya, dia mempedulikan saya. Dia menanyakan "Apa kamu benar-benar yakin kamu mau masuk company saya?", tidak seperti bos perusahaan lain yang "Apa kamu benar-benar yakin mau masuk company dia?"

Meskipun nanti Suhu tidak diterima karena tidak memenuhi kualifikasi, Suhu akan tetap menaruh hormat pada Boss besar PT Baik-baik. Orang yang bersahaja, tidak neko-neko, dan tidak sok superior waktu meng-interview orang.

Dari sekian banyak interviewer yang Suhu hadiri, akhirnya Suhu tahu interviewer yang baik itu yang bagaimana.

Bukan yang bisa mengamati resume dan mempelajari propagasi nilai di Degree Audit. Bukan juga yang bisa menekan lawan bicara hingga berkeringat dan tak bisa berkata-kata. Tapi yang bisa membuat orang yang diinterview merasa nyaman, dan menampilkan dirinya seperti apa adanya. Karena bisa saja orang jago interview, tapi lututnya kopong otaknya kosong.

Suhu,
mulai menyukai interview.

No comments: