Friday, May 18, 2007

Rentetan Interview [Part 2: Sabtu]

Hari yang sangat menentukan masa depan. Suhu berangkat pagi-pagi ke headquarter PT Konstruksi Suci, interview dijadwalkan jam sepuluh. Pukul setengah sepuluh, Suhu sudah ada di warung kopi sebelah kantor, ngopi sambil makan pagi. Cuma sedikit, dua bakul nasi dan lauk secukupnya sekedar biar bisa menambah energi. Jam sebelas tepat tet aku masuk ke kantor PT Konstruksi Suci. Yang mewawancarai aku adalah seorang Engineer bernama Ruhad.

Pertanyaan interviewnya tidak sulit. Berapa 1 + 1? Ruhad menanyakan seberapa berminat aku dengan pekerjaan ini. Dengan penuh kejujuran aku bilang, aku akan pergi ke interview DLLAJR hari kamis nanti. Dan DLLAJR ada di top of my priority list. Ruhad tampak tenang, ekspresi muka tidak berubah, lalu Ruhad menjabat tanganku. [Iya pong, jabat tangan.]

"Kamu pergi ke interview DLLAJR babak dua saja terlebih dahulu, setelah hasilnya keluar, dan mungkin tidak sesuai yang kamu harapkan, kamu telpon aku, kita lihat apa masih ada slot kosong untuk kamu. Tapi sama-sama tidak terikat ya."


Secara semua sudah diselesaikan model gentleman agreement, aku telepon Lupin. Memberi tahu bahwa aku siap interview kapan saja untuk interview PT Jaya. Tapi Lupin tidak bisa memperpagi jadwal interview ku, karena dia mau bobok siang ada kegiatan lain. Jadi jadwal interview tetap jam dua siang. Timbul masalah baru.

Interview pertama tadi sangat singkat, lima menit aja nggak sampai. Berarti ini masih sekitar pukul sepuluh lewat lima. Interview berikutnya jam dua. Pertanyaannya, aku ngapain sekarang?

Setelah mubeng-mubeng Bugis sampai pukul satu siang, aku memutuskan untuk naik bus ke jalan Pendapur, letak kantor PT Jaya. Letaknya di 800 Jalan Pendapur. Turun dari bus, aku lihat Jalan Pendapur 32. Berarti masih harus jalan beberapa blok dari sini. Kalau satu blok itu kira-kira sepelemparan batu, beberapa blok itu kira-kira sampai kaki patah lah. Kira-kira.

Dari jalan Pendapur 32, aku berjalan menyusuri jauhhhhhh sekali. Sampai jalan pendapur nomer 183. Sampai ketemu Farrer Park MRT. Benul saudara-saudara, sampai nemu stasiun MRT lain. Lalu aku lihat lagi jalan ini. Jalannya nyambung, tapi koq sudah ganti nama jadi Jalan Rakun? Nomer terbesar di jalan Pendapur ini cuma nomer 183. Jam dua kurang dua puluh menit.

Keringat mulai bercucuran, air liur mulai bertetesan. Aku berlari mengambil jalan balik, berharap Jalan Pendapur nomer nya tidak urut. Lalu aku menemukan sebuah hotel. Karena di Amazing Race biasanya hotel-hotel selalu membantu, aku masuk dan bertanya pada mereka tentang tiket tercepat ke Zaire lokasi Jalan Pendapur 800. Dan mereka bilang, nomer terbesar cuma seratusan.

Panik.

Aku coba mencari-cari, dengan harapan hotel itu menipu aku. Barangkali sudah disuap oleh para applicant PT Jaya yang lain. Di Amazing Race semua bisa terjadi, apalagi Amazing Interview. Aku berlari sampai menemukan jalan Pendapur nomer 1. Dan tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan manusia nomer yang tidak urut. Nomernya urut, masalahnya, cuma urut sampai nomer 183.

Jam 2 tepat. Cemas. Celana mulai masuk silit.

Betharia Sonata bernyanyi. Kuangkat telepon. Lalu kupencet tombol hijau.

Are you here already?
Sorry wrong number.
Ha?
Are you here already? This is Lupin.
I'm having difficulty in finding your place.
Sorry arh, I give you the wrong address.
Thanks, I'm going to fuck you upside down inside out.
No wonder I can't find the place.


Setelah Lupin memberitahu aku alamat yang benar, aku mencapainya dalam waktu sepuluh menit. Kompleks pendapur kavling 800, bukan jalan Pendapur. Dasar guoblok. Udah tahu ngasih alamat salah, masih berani tanya "are you here already". Aku ketuk pintu dengan keras tapi sopan. Keras maksudnya biar terdengar, sopan itu maksudnya tidak berulang-ulang. Jadi bukan tok.tok.toroktoktok. tapi GEDEBAM.GEDEBAM.kriyeeet.GUBRAK. Dari balik pintu, tampak seorang dengan wajah picik mengintip.

Adi arh?
Ya, you Lupin?
Ya, please come in.


Waktu aku masuk, aku merasa .... kamarku adalah kamar yang rapi. Dibandingkan kantor ini. Kertas di mana-mana. Semuanya gambar teknik. Beberapa gambar yang bisa dikenali adalah struktur beton standar dan beberapa footing untuk proyek skala besar. Mudah dikenali, terutama untuk orang yang sudah enam tahun mengalami siksaan batin cuci otak berpengalaman selama magang.

Lupin mengajakku masuk kantornya. Aku tidak duduk, karena secara sopan aku menunggu dipersilakan. Dan tentunya menunggu diberitahu di mana tempat duduknya. Karena semua tempat duduk disinggahi kertas. Tumpukan kertas. Lalu Lupin membawa sebuah kursi kecil tinggi beroda, dan mempersilahkan aku duduk seperti murid yang dihukum di depan kelas.

Aku menyerahkan selembar resume, berisi tentang rangkuman diriku mulai dari pengalaman teknis sampai kualifikasi akademis. Dia memandang sebelah mata, dan mulai merendah-rendahkan martabat dengan mengungkit-ungkit nilai.

Your Geotech got D arh
Yes.
Why?
Difficult, sir.
Geotech where got difficult?
Mbuh cuk karepmu, ga penak gelem gelut saiki tah?
Yes, sir.
Stucture onli got C? And you want to be Civil Engineer?
I think you look wrongly, sir.
Here, see your structure got ... oh sorry it's another subject. Eh! It's your Reinforced Concrete, got C arh?
Yes, sir.
Why got so low one?
Because the one who set the question is a jerk, sir.
Difficult, sir.
Ruhad told me your result fantastic, you know?
I don't know, sir.
He said you are very bright student.
Thank you, sir.
But your result not so bright to me.
Fuck you, sir.
Yes, sir. I believe academic result is not a good way to measure my value, sir.
So what you want me to do? Test you arh?
I'm all prepared, sir.


Lupin tersenyum sinis. Mungkin yang dia harapkan adalah seorang Dean list student yang nilainya bertebaran dengan A dan distingsyen. Sayang sekali, yang dia temui cuma seorang mahasiswa siap kerja yang akan membuat rahang bawahnya jatuh melebihi batas normal.

Lupin menorehkan pena nya di atas kertas HVS putih yang baliknya jelas-jelas dokumen lumayan penting. Dengan pendidikan enam bulan di perusahaan magang yang cukup kejam, Suhu cukup bisa mengerti apa yang ditulis Lupin. Bagaikan apoteker mengerti tulisan dosen, gitu analoginya. Dia menunjuk satu bagian dari gambarnya.

Here?
Five tee sixteen.
Yes, how about here?
Half of it will be enough. Give three tee sixteen to be conservative.
Why not two?
In practical, the usage of two will not efficient as the perimeter of the steel can maintain the bond between the reinforcement and the concrete.


Mulutnya menganga. Lupin tidak tahu, yang di hadapannya adalah seekor satwa langka yang pernah digembleng kontraktor-konsultan-arsitek kelas wahid selama magang. Pertanyaan semacam itu tidak akan membuatnya mengernyitkan dahi sedikitpun. Merasa sedikit tidak terima, atau ingin menguji kemampuan Suhu lebih jauh, Lupin mencoret-coret kertas lain dengan gambar persepektif teknik.

You do 3-D structure?
Any type.
Good, give me recommendations for maximum loading for this structure.
50 kN.
Wow, no need calculator arh?
Simple one no need, more complex one maybe need.


Lupin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Suhu benar-benar OWNAGE saat itu. Berusaha untuk tetap sopan dengan tidak tertawa muahahahaha dan berteriak "Kamu kalah!" merupakan salah satu tantangan tersendiri. Lalu Lupin membaca-baca resumeku. Dan melontarkan pertanyaan.

You learn al this in university?
Nope, I learned it from my previous company.
What you did in your last company?
I lift weights, get big, get a cool car, and fuck chicks.
Consultancy, design firm, standard stuffs. But I mostly do prestressed concrete design.


Kalimat terakhir seperti menyambarnya. Teknologi prestressed concrete bukan sesuatu yang dikuasai orang banyak. Beton prategang hanya dipakai di mega-structure, dan hanya sedikit orang yang berkesempatan menjadi tangan pertama yang merancang struktur demikian. Dan Suhu adalah salah satu orang yang merancang struktur jembatan beton prategang pada saat dia masih mahasiswa.

I see you also familiar with many softwares
Yes, sir.
What software you use during your internship?
Solitaire, Strip Poker, Blackjack Fantasy, Hardwood Heart.
Prokon, Staad, ADapt, RAPT, AutoCad, Pro/E, Microstation.
So you can read output from computer?
To a certain extent.


Lupin tidak seberapa mempedulikan jawabanku, dia memberikan setumpuk kertas ke hadapanku. Dengan gesturnya seolah menantang apa aku bisa mengerti output komputer yang ada di depan ku. Untuk pertama kalinya aku buka suara saat mengerjakan tugasnya.

Can I have ruler and red pen?


Setelah sekitar lima menit menggaris bawahi angka-angka yang tidak ada artinya bagi orang awam, aku menggambar grafik. Dengan pulpen merah yang diberikan Lupin, aku membuat diagram gaya dan momen. Lalu aku menjelaskan arti dari angka-angka basis delapan itu, dan menerjemahkannya dalam hitungan finite element yang lebih mudah dimengerti kalau kita sarapan ikan setiap hari.

Lupin menghempaskan dirinya ke kursinya. Aku menirukan nya. Lalu terdengar suara gedubrak krompyang, ternyata kursiku tidak ada sandarannya. Hampir aku jatuh, untung aku tambun, sisi-sisi perutku tertahan tumpukan kertas, menjaga stabilitas tubuh. Lupin menarik nafas panjang, lalu buka suara.

How much you want? *suara lirih*
Ha? *bego*
How much you want? *suara agak keras tapi masih pelan*
Ha? Pardon?
How much you want me to pay you? *suara meninggi dan kelihatan marah karena barusan kalah.
I don't know. What is your offer?


Lalu Lupin menyebutkan angka-angka yang tidak bisa dipercaya untuk seorang mahasiswa baru lulus dari teknik Sipil. Hampir saja Suhu tergiur dan mengatakan "yayaya", Lupin menyela.

You can start working next monday.


Suhu cuma bisa melongo, dan mengucapkan selamat tinggal pada sesi berDoA bersama kalau pekerjaan ini dia ambil. Tapi apakah dia akan mengambil pekerjaan ini karena gajinya luar biasa? Nantikan di posting selanjutnya.

Suhu,
bukan mahasiswa biasa.

2 comments:

Gita Arimanda said...

Sayang sekali, yang dia temui cuma seorang mahasiswa siap kerja yang akan membuat rahang bawahnya jatuh melebihi batas normal.

Yeah...jatuhkan rahangnya sampai bedebum di atas lantai...yeahhh

Fanny said...

*siiingggg*

Speechless..

Hebat Suhu!!!!

Bikin itu orang ga bisa ngomong sekalian. Menyebalkan! >(