Tuesday, May 01, 2007

Part Time di KBS

Banyak yang sudah tahu bahwa Suhu sudah kelar exam. Dan exam terakhir yang dikelarin Suhu adalah exam terakhir dalam hidupnya di NTU. Amin. Aplus. Maka, selain menunggu saatnya efwaipi prisentesyen [FYP Presentation], hidup Suhu diisi dengan DotA, DotA, dan DotA mencari pekerjaan tetap. Tetapi sayang sekali, mencari kerja, bukan hal yang mudah. Dan untuk fresh graduate, nampaknya kita harus puas dengan gaji pas-pasan.

Sampai suatu hari Suhu menemukan pekerjaan impian yang dibayar 300 S$ per jam. Sekedar perbandingan, kerja ilegal di Tanjong Pagar sekitar 150 S$, kalau tante-tante nya baik bisa diajak jalan-jalan total penghasilan mungkin senilai 200 S$. Dan itu biasanya memakan waktu lebih dari satu jam. Kalau kurang dari satu jam, kemungkinan tante-tante itu tidak bakal cari kamu lagi, dasar pria loyo.

Paragraf di atas dirasa kurang cocok untuk bacaan Segala Usia.

Suhu menemukan pekerjaan halal yang digaji cukup baik. Per hour basis. Dan pekerjaan ini tidak menuntut yang bersangkutan untuk beli lotion sebagai penghilang rasa sakit. Part time di KBS [Kebun Binatang Singapura, bukan Surabaya]. Tempat kerjanya memang rada-rada berbeda dengan para lulusan engineer yang lain. Tapi yang penting kan orang-orangnya baik dan gajinya lumayan.

Pekerjaan, tidak terlalu berat. Yang pasti benefit nya besar. Aku diberi makan di sana, selain gaji tetap. Pengunjung yang baik juga sering memberi aku makan, meskipun itu jelas-jelas dilarang oleh pihak KBS. Aku tidak perlu ngapa-ngapain. Asalkan pada tiap pengunjung KBS yang datang, aku bersikap baik dan sok imut, itu sudah cukup. Ini akan menjadi pekerjaan ideal yang diimpikan semua orang. Seandainya saja semua itu tidak perlu dilakukan dalam kostum binatang.

Kepalsuan. Ya. Kata itulah yang sering terngiang di kepalaku, dan terucap tak sadar dari bibirku saat melihat beberapa hal di Singapura. Penuh kepalsuan. Sebuah negara yang memalsukan banyak hal sampai kita tidak tahu mana yang asli, karena yang palsu bahkan lebih mirip aslinya daripada yang asli. Bahkan mereka punya peribahasa yang mirip dengan punya kita, hanya beda sedikit. "Tiada gading yang tak retak, maka sengaja kita bikin retak biar mirip gading".

"Dunnid to study lar, I haven't study at all leh." Kepalsuan kecil.

"We're going to have Land Reclamation in Sentosa soon." Kepalsuan alam.

Waktu ke Sentosa pertama kali, kami sempat bermain tebak-tebakan tentang tumbuh-tumbuhan di sekitar pantai. Empat mahasiswa jebolan kelas IPA yang mengeyam pendidikan Biologi, tidak berhasil mengenali sebuah tanaman menjalar yang nemplok di pohon kelapa. Tanaman parasit panjang berwarna hitam pekat itu kemudian dikenali sebagai Kabel setelah melihat di ujungnya ada dua lampu Halogen sebesar buah dada kelapa.


Bekerja di KBS sebagai hewan palsu, bukanlah sesuatu yang membuatku keberatan. Toh bagiku, kayaknya semua warga negara Singapura sudah terbiasa dengan kepalsuan. Mulai dari hidung palsu sampai pasir palsu. Dan, nampaknya mereka lebih suka yang palsu. Maka kehadiran Panda Palsu di Kebun Binatang ini menjadi primadona dan ujung tombak KBS. Agar tidak ketahuan, maka antara pengunjung dan kandang, dipisahkan jarak beberapa meter. Pengunjung bisa melihat gerak-gerik hewan langka ini dari jauh. Untuk alasan kesehatan satwa langka ini, kedoknya. Padahal, ya demi menjaga kepalsuan dari kasat mata.

Hingga suatu hari manager ku mengadakan rapat dengan tim kreatif yang mencetuskan tema Wild Life. Mereka mengusulkan untuk menggabungkan kandang beberapa hewan menjadi satu. Dengan tujuan mempromosikan racial harmony species harmony. Mereka ingin menunjukkan bahwa, "Jika hewan bisa rukun hidup satu atap, kenapa manusia tidak?". Yang pasti mereka benar-benar tahu konsep kekeluargaan yang diajarkan di PPKn. Sayangnya, mereka kurang paham konsep rantai makanan di pelajaran Biologi.

Tapi apalah aku untuk membantah. Aku nurut. Mulai hari itu aku masuk ke kandang Wild Life. Tapi aku cuma duduk-duduk di wilayahku, yang kubatasi dengan bambu runcing. Kadang aku bermain dengan monyet yang kebetulan lewat. Dari pihak penonton yang terlihat Panda sedang mengunyah bambu. Memang hebat tim kreatif yang membuat sedotan dari bambu asli. Siapa yang menyangka ujung sedotan bersarang di gelas berlabel McD. Yang penonton tahu, Panda adalah hewan pemakan bambu. Dan McBamboo tentunya.

Semua berjalan indah sampai hari itu, nampaknya ada kesalahan teknis. Makan siang yang biasanya dikirim melalui jalur rahasia, tidak ada. Aku cari-cari ke mana-mana tidak ada. Mau tanya, yang ada cuma monyet. Aku tahan rasa lapar itu. Tapi semakin ditahan semakin menjadi-jadi. Mungkin karena tadi pagi hanya sarapan curry puff dua .... belas.

Tidak tahan, dengan gaya merangkak Panda, aku berjalan keluar dari peraduan Bambu ku. Mencoba menarik perhatian penjaga KBS, biar mereka ingat aku belum makan. Tapi yang ada malah pengunjung yang tertarik. Aku bisa mendengar teriakan girang gadis berwarna pirang, nampak belakang sungguh seksi, memanggil ayahnya, "Looks, dad, the panda is so cute, it's moving". Ayahnya bergegas datang, dan gadis itu membalikkan badan. Rambut pirang lurus, dengan bodi bahenol, begitu balik badan, Suhu kembali teringatkan akan kepalsuan. Ternyata laki-laki juelek tidak secantik yang dibayangkan.

Sambil setengah melamun tentang kepalsuan, Suhu tidak sadar menginjak dedaunan yang ada dekat daerah becek. Panda palsu ini pun terpeleset. Wus syiuuut gedubrak krosak krosak krosak. Barusan bukan kesalahan televisi anda, itu efek suara daun, dilindas Panda. Kostum ini membuat aku susah bergerak. Bentuk tubuh ini juga mendukung. Aku menoleh ke kiri, baru aku tahu di mana aku berada. Di kandang Wild Life yang merupakan kandang bermacam hewan. Dan hewan imut yang ada di sebelah kepalaku sekarang, bertatapan mata denganku adalah.

Buaya.

Jancok. Hwarakadah. Kenapa gak jatuh ke tempat hewan yang lebih bersahabat? Putri duyung, gitu?

Suhu merapatkan dua tangannya di perut, sikap pura-pura mati doa yang khidmat. Tapi dalam sekejap, moncong buaya mengusik posisi mati yang terhormat itu. Kalau Suhu berteriak minta tolong, pasti penjaga KBS sempat menolong dengan menembakkan peluru bius ke buaya itu. Tapi reputasi KBS sebagai Kebun Binatang Singapura akan tertoreh karena kepalsuan Panda yang menjadi pusat atraksi mereka. Peduli setan dengan reputasi, daripada mati, mending teriak.

Aku hendak berteriak, "AAAAAAA DOREMIFASOLASITHOLOOOOONG". Tapi belum sempat aku berteriak, buaya itu bilang.

Lho koq buaya bisa ngomong? Halusinasi? Aku sudah mati? Aku jadi Mr Dolitel?

"Sssshhhh... do not be afraid, we are your friends. Once you scream, both of us will be fired. You're jobless fresh grad from NTU, right? I'm Timmy from NUS. Nice to meet you."


Aku berguling perlahan, berpura-pura berkubang di kolam buaya. Timmy Buaya itu berlalu. Terdengar suara seorang aunty memarahi anak-anaknya dengan nada melengking, "Looks kid, even animal can be fren. Why all of you keep fight fight fight till lai dat?"

Suhu,
menyadari satu lagi kepalsuan.

NB: yang mau kerja di KBS, japri aja. Masih ada kostum tapir nganggur. Di wild life nanti sebelah kandang macan. Kalau mau jadi dokter hewan, tepatnya psikolog hewan, hubungi mbak ini aja, jangan saya.

6 comments:

Gita Arimanda said...

Mungkin karena tadi pagi hanya sarapan curry puff dua .... belas.

itu harusnya

dua...puluh
XD

konnyaku said...

dua...
gerobak...

suhu said...

#gita & konnyaku:

kalian tidak saling kenal, tapi berkolaborasi melecehkan aku.

Dua...shyat.

fika said...

Oi, Om Panda Tambun... Nek mau konsultasi problem2 kepalsuan hidup, atau suka duka kehidupan "temporary member" di KBS, ojo sungkan2 kontak aku. Consultation fee negotiable =P

dina said...

kayakna ini modifikasi KBS-nya indo :D udah ga kreatif aja bacanya :D

suhu said...

#fika:
gimana tes fisiknya di Tech fik? mudah? cuma disuruh push-up lima puluh kali kan buat test kesehatan?

#dina:
ya yang KBS indo kan ceritanya lulusan ITB jadi monyet. Ini lulusan NTU jadi Panda, beda dong. Lagian buaya nya juga gak dari Padjadjaran koq din, ndak pa pa ya?