Sunday, April 29, 2007

Tak Disangka Tak Dinyana

Previously on Kisah di Balik Hutan Bambu:

Aku berhasil merangkak sampai persis di depan meja guru. Tanpa disadari Pak Har tentunya. Gepeng melakukan tugasnya dengan baik, so far.

Tapi, sejenak kemudian.


Pak Har berdiri. Dengan suara sengau dia berkata.

"Adi Prawira ngapain kamu jongkok di sana"

"Teman-teman, ini ada pertanyaan menarik dari salah satu teman kalian. Coba kalian buka halaman seratus dua puluh satu."

Seisi kelas membuka halaman seratus dua puluh satu. Nyaris serentak. Terdengar suara halaman buku dibalik untuk menemukan halaman 121. Bukti nyata bahwa seisi kelas menaruh hormat dan mendengarkan perintah seorang guru matematika.

Dan ini adalah suatu hal yang terlalu mencurigakan. Karena delapan puluh persen dari kami, meluangkan delapan puluh persen waktunya merancang pesawat kertas. Dan tidak mendengarkan Pak Har mengajar. Dan Pak Har tahu benar hal itu. Dan sebagai seorang guru yang tingkat intelejensia nya jauh lebih tinggi daripada amuba, Pak Har sewajarnya curiga.

Dia terkejut melihat anak 3IPA5 menjadi patuh.

Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat segumpal Panda dengan tiba-tiba nyembul dari bawah meja. Tepat di depan dia.

Berbagai tatapan mata penuh makna. Dari berbagai insan.

Teman-teman sekelas: yah, ketahuan deh.

Gepeng: uda susa susa, koq mala muncul.

Pak Har: ZOMFGWTFBBQ.

Ngapain kamu?
Anu pak ... Suhu .. setip ... Setipnya suhu jatuh.
Hehehe... *senyum bego*
O. *tatapan mata tidak percaya*
Bukan ... bolpen, bolpennya saya bawa.


Seisi kelas konsentrasi ke meja guru. Peristiwa langka. Seisi kelas menatap mata penuh harap agar adegan filem laga bisa terjadi. Misalnya, Pak Har menampar Suhu dan Gepeng dengan buku matematika, sehingga bisa jadi alasan mereka untuk mengeroyok dia. Tatapan mata penuh perasaan yang mendalam. Demikian pula tatapan mata Pak Har yang penuh perasaan. Sayangnya rasa itu adalah, rasa tidak percaya.

Tidak ada pilihan lain bagi Suhu, dia harus membunuh Pak Har mengatakan yang sebenarnya.

Pak, saya mau ke ruang pertemuan.
O, ada apa?
Menghadiri presentasi Ninja Turtles University.
Ya, silakan.
He??? Koq boleh, Pak? Saya juga mau.


Itu yang diucapkan Gepeng dan kalimat itu yang menyebabkan dia tinggal di rumah sakit selama dua minggu berikutnya Pak Har bertanya kalimat selanjutnya.

Lha kamu sepuluh besar ndak?
Ndak, tapi Suhu ya ndak koq pak.

Dan sekali lagi, kita jadi tahu kenapa Gepeng masuk kelas 3IPA5, tingkat intelejensianya, menyaingi amuba. Suhu menatap teman sebangkunya, Gepeng, dengan tajam. Penuh makna. Bahwa Gepeng akan menjadi bagian dari langkah besar ilmu kedokteran dalam operasi sumsum tulang belakang tanpa bius.

Peng, kamu mau masuk Ninja Turtles University?
Ndak tahu pak. Liat liat dulu.
Kalau kamu, kamu mau masuk Ninja Turtles University?
Mau.
Tapi kamu ndak sepuluh besar.
Selisih dikit pak.
Ranking berapa?
Dua puluh satu.


Pak Har beranjak dari tempat duduk nya. Menuju ke papan tulis. Menulis "halaman 121" di papan, dan mulai menulis sebaris pertidaksamaan. Suhu dan Gepeng cuma berdiri bertatapan, dan melongo. Gesture Gepeng mengajakku untuk duduk.

Tapi niatku berjalan kembali ke tempat duduk urung setelah mendengar suara berdehem dari Pak Har. Terkena debu kapur mungkin. Ini kesempatanku, akan kusiramkan isi kotak kapur ke wajahnya, dan dia akan buta sesaat, dan aku bisa lari. Lalu Pak Har bilang.

Kalau saya lagi nulis di papan begini.
He? *ngomong apaan seh*
Saya nggak bisa lihat murid-murid saya.
He? *masih bingung*
Kalau ada yang menyelinap keluar, mungkin saya juga tidak sadar.


Direstui?

Terima kasih Pak.


Lalu aku berlari menuju ke ruang pertemuan. Tapi nampaknya mimpi buruk belum berakhir, saudara-saudara. Di koridor itu, dari arah berlawanan, nampak Pak Gatot, guru Fisika yang mengajar aku di kelas dua. Dan guru yang satu ini, taat pada peraturan, dan suka membuat murid taat pada peraturan.

Dan celakanya lagi, semua guru fisika di SMUK Belakambing tahu bahwa Suhu bukan sepuluh besar. Karena betapa susah payah usaha mereka memberi nilai sepuluh di rapot, tetap saja nilai-nilai pelajaran lain berhasil membuat Suhu terlempar jauh dari jajaran papan atas.

Berjalan ke arah berlawanan jelas bukan ide yang baik. Karena Suhu malas jalan jauh hal itu akan membuat Pak Gatot curiga. Koridor nya sangat panjang, Suhu sudah setengah jalan, dan Pak Gatot di ujung yang sedang dituju. Satu-satunya cara adalah, tampil percaya diri, maju dengan kecepatan konstan tanpa gugup. Sambil memikirkan alasan jika nanti ditanya kenapa ada di luar kelas saat PBM [proses-belajar-mengajar] berlangsung.

Suhu berjalan sambil berharap Pak Gatot akan melewatinya begitu saja. Suhu dan Pak Gatot berpapasan.

Selamat pagi pak


Pak Gatot tersenyum sopan sambil berlalu. Langkah kakinya terdengar menjauh, sementara aku maju terus ke ujung koridor. Tapi, nampaknya nasib malang selalu menimpa orang Malang. Derap langkah yang menjauh itu berhenti, dan aku percaya Pak Gatot sedang berbalik badan dengan gaya Michael Jackson sebelum dia berkata dengan keras.

Hei kamu! Sini!


Jancok. I know that was too easy, now what?

Pura-pura tidak dengar, pura-pura tidak merasa dipanggil, atau balik dan menghadapi serbuan pertanyaan Pak Gatot?

-- Bersambung --

NB: tuh kan kepanjangan.

9 comments:

Herry -- HgS said...

Wah, baca cerita suhu jadi kayak baca novel misteri... ato novel detektif?

konnyaku said...

terus terus
*memelas*

sebenarnya itu dr buah pear hu

dika said...

wakakakak, gurunya kereeeeennnnn!!! (sama dengan - d - lebih besar)

"kalo bapak sedang menulis begini, bapak tidak bisa melihat kalau ada murid yg keluar kelas"

wakakakakak

yosafat said...

jangan kebanyakan kata2 "jancok" boss...

bukannya itu artinya ****** ya?

ga baek lho keseringan nulis kayak gitu

Gita Arimanda said...

yah....lagi seru putus lagi..ayooo diupdate lagi...

*lama2 adi prawiro nggak jadi engineer, tapi meniru jejak JK Rowling :)

suhu said...

#herry:
komedi.

#konnyaku:
cepet sembuh yah. bakal dibuat bersambung sampai kamu sembuh deh. Biar penasaran. *mati disikat kruk*

#dika:
yeeee mentang-mentang anak guru. hahaha.

#yosafat:
wadhu yos, aku nggak tahu artinya di tempatmu apa. Tapi di Malang artinya kira-kira seperti "Salam sejahtera".

#dika:
haha nanti nama pena saya di novel-novel bakal jadi AP Koesoemo. Biar kayak 'ketawa guling-guling' [JK Rowling - Just Kidding Rolling rolling?]

yosafat said...

aku cari di google kemaren... ada yg bilang jancok itu bahasa arek2 surabaya yg artinya anjing....


kok bisa salam sejahtera?

suhu said...

#yosafat:

yang pasti bukan "anjing".

konteks pemakaian "jancok" di malang biasanya seperti pemakaian kata "wasem" atau "bajigur" di daerah jawa yang lebih barat tapi belum jawa barat.

Tergantung intonasi juga. Di jogja memakai "dab" seperti, "piye kabar e, dab?". Di malang memakai "cuk" seperti, "waras, cuk?"

Salam sejahtera, cukz.

yosafat said...

hahahah...whatever la apa artine...sapa tau di blog ini punya arti sendiri...kekekek


aku waras2 wae kok cuk...