Monday, April 30, 2007

Pengalaman adalah Guru yang Terbaik

Previously on Kisah di Balik Hutan Bambu:

Pak Gatot menangkap basah kelakuanku yang tidak wajar dan memanggilku dari ujung lorong. Apa yang harus kulakukan sekarang. Pura-pura tidak dengar, pura-pura tidak merasa dipanggil, atau balik dan menghadapi serbuan pertanyaan Pak Gatot?


Suhu bukanlah seorang anak yang pandai. Akan tetapi, dia tergolong anak yang tahu banyak hal. Dan kelebihan ini dia dapat dari seorang guru yang terbaik, namely pengalaman. Suhu bisa meng-handle segala macam permasalahan yang bersifat mendesak, menekan, dan membutuhkan decision-making skill yang akurat. Dan situasi saat ini adalah salah satunya.

Sayangnya, hari ini gurunya, Pengalaman, berhalangan hadir. Dan dia tahu, saat guru terbaiknya, Pengalaman, berhalangan hadir. Seringkali posisinya digantikan oleh guru pengganti yang kurang menyenangkan, Kenangan Pahit. Mereka sama-sama guru yang baik, hanya yang satu cara mengajarnya kurang bisa diterima kebanyakan orang.

Solusi generik untuk orang yang kepepet, antara lain adalah:

1. Pura-pura tuli
Bisa dengan berjalan lurus, anggap saja panggilan Pak Gatot adalah ilusi belaka. Kalau dipanggil lagi, ingat! Kamu tuli! Mana bisa dipanggil lagi?

2. Pura-pura gila
Ini salah satu langka ekstrim. Dengan membentur-benturkan kepala ke tembok, jelas pokok permasalahan akan berubah menjadi ke 'kesehatan mental siswa' daripada 'membolos kelas' saat orang tua dipanggil ke sekolah.

3. Pura-pura tidak terjadi apa-apa
Kembali ke kelas, mengikuti jadwal pelajaran seperti biasa. Tersenyum pada Pak Har dengan lugu.

Dan dari ketiga alternatif ini, yang tidak menorehkan lembaran merah jambu pada memori masa SMA adalah yang ketiga. Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Dengan langkah percaya diri, balik kanan langkah tegap maju jalan dan menuju ke ruang kelas 3IPA5. Dan ketika melalui Pak Gatot yang ternganga melihat Suhu yang disangka gila, Suhu pun berkata.

"Saya ini pura-pura tidak terjadi apa-apa, bukan pura-pura gila."

"Ada apa pak?"


Maka percakapan pun berlanjut.

Ada apa Pak?
Mau ke mana kamu?
Kelas. *jujur*
Dari mana?
Toilet. *bohong dikit*
Tadi mau ke mana?
Hah? Ndak ke mana-mana koq pak. *bohong BUESAR*
Lho kamu kelas 5 kan? *refer to IPA5, soalnya ga ada IPS5*
Ah bapak bisa saja, SMA cuma ada sampai kelas tiga pak.
Iya. *kejujuran yang tak bisa disangkal*
Koq sampai sini, bukannya dekat kelas sana ada toilet?


Itu adalah sepenggal percakapan yang menunjukkan bahwa Suhu memang tidak pandai. Tetapi jawaban Suhu beberapa milisekon kemudian menunjukkan bahwa Suhu indeed tahu banyak hal. Dan, semua ini adalah hasil didikan gurunya, Pengalaman.

Toilet yang sana sedang dibersihkan pak. Jadi saya ke toilet yang dekat ruang guru.


Sebuah jawaban spektakuler yang keluar begitu saja dari mulut Suhu. Memang butuh bakat untuk hal-hal kayak gini. Tapi, yang ada hanya Pak Gatot melihat Suhu dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum sinis. Dan saat itu pula, Suhu menyadari, Pengalaman bukan guru les privat. Dan nampaknya, Pak Gatot juga berguru pada Pengalaman.

Ndak mungkin.
Apanya ndak mungkin?
Ndak mungkin toilet lagi dibersihkan.
Koq bisa tahu kalau toilet nggak lagi dibersihkan? *Dan pertanyaan ini menunjukkan bahwa Suhu adalah seorang anggota kelas 3IPA5 yang sejati*
Lha wong saya ini mau ke sana mbersihkan koq.
Tuh kan, dari nadamu ketahuan kamu bohong.


Jancok Hwarakadah! [kata Yosafat gak boleh sering-sering bilang 'Jancok'].

Blunder, mestinya tadi sok yakin kalau toilet lagi dibersihin. Terus ngajak taruhan sama Pak Gatot, berdua ke sana, pasang tampang bego sambil bilang, "Cepet juga ya mereka bersihin toiletnya. Barusan masih ada koq, beneran."

Seisi tubuh Suhu tiba-tiba merasa bergejolak. Keringat dingin, badan gemetar, lutut kopong, perut pusing, dan kepala mual. [Namanya juga pusing, bingung mana yang mual mana yang pusing]. Kebohongannya terbongkar, kedoknya terungkap. Suhu tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang pasti, ini adalah pelajaran yang diberikan Pengalaman agar di kemudian hari tidak terulang lagi.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dan karena itu, biaya pendidikannya pun biasanya mahal. Sangat mahal.

--Bersambung [lagi]

NB: Sampai yang nulis aja krasa ini kepanjangan. Padahal kejadian aslinya cuma beberapa menit.

8 comments:

yosafat said...

yuhuu....pertama....

huaaa.... pisuhan-e kok ganti... ngakak...

Fanny said...

beuh...berapa menit aja sepanjang itu....
hayo lanjutttt.

dina.. said...

huhuhu...jamput emang penuh..

'penuh' kata-kata 'indah' :D
yow..hidup jamput! :D

harph said...

Hu.. lagi belajar berbohong yah? wakakaka dosa loh.. lol

konnyaku said...

suhuuuuu
pilih kruk atau kaki kiri yg msh sehat?

sylv said...

suhu jangan jadi engineer deh. jadi penulis skenario ajah. hihi

suhu said...

#yosafat:
Hwarakadah mbonjrot.

#fanny:
kalau beberapa jam, jadi novel.

#dina:
Mana ada, aku orang e alim dan tidak suka omong kotor koq.

#harph:
Wah takuuuuut.

#konnyaku:
kaki terdengar lebih empuk.

suhu said...

#sylv: kalau nanti kisah di balik hutan bambu dilayarlebarkan, aku otomatis jadi penulis skenario kan? hahaha