Saturday, April 07, 2007

Jumat Agung vs Good Friday

Jumat Agung, atau di dalam bahasa tumbuh-tumbuhan, sering disebut sebagai Good Friday. Adalah sebuah perayaan yang dikenal oleh sebagian besar umat Nasrani. Post ini tidak akan membahas tentang Jumat Agung (Good Friday) dari segi keagamaan, karena itu akan melenceng dari tujuan utama pembuatan blog ini, yang tidak lain adalah menguasai dunia membuat orang ketawa. Kisah perjalanan Yesus Kristus di hari Jumat Agung menebus dosa umat manusia tidak, sekali lagi saya tegaskan, tidak lucu.

Tapi tetap saja ada perspektif menarik yang bisa dilihat dari Jumat Agung ini selain sisi keagamaannya. Oh iya, yang mau melihat pandangan dan rasa syukur dari sisi-sisi keagamaan, ya tentu bisa melihat post yang seperti ini atau ini. Saya tadi pergi sama Christian Wijayanto. Kami berdua sama-sama jarang dilihat di kampus, dan lebih jarang lagi dilihat di gereja.

Kalau menurut bung Arianto, orang-orang kayak kami ini Kristen nafas. Yang artinya dalam nafas kami, iman senantiasa menjadi pedoman utama kami gak ke greja, kami gak ngaku dosa, kami gak ikut misa, tapi ngaku-ngaku saja. Iman dalam nafas. Tentu Panda Tambun tidak sepenuhnya setuju. Suhu lebih suka disebut Katolik nafas.

Ralat dari bung Arianto lewat MSN jam 1:29 pagi, nampaknya dia dulu menuduh saya Kristen Napas. Bukan nafas. Yang artinya adalah Kristen yang datang saat Natal dan Paskah sahaja. Tiwas saya sakit ati diarani seperti yang tersebut di paragraf di atas, ternyata bung Arianto religius religius gitu suka guyon.

Anyway, saya lebi suka disebut Katolik NaPas kalau gitu. Lagian bung Arianto pasti setuju kalau yang penting iman, bukan frekuensi ke gereja. Daripada yang Katolik ToMat ke gereja tiap minggu, tapi Minggu TObat Senin kuMAT.

Lanjut ke topik semula. Pergi sama Christian Wijayanto. Ke gereja. *terdengar bermacam-macam suara unik dari berbagai penjuru, mulai dari kursi jatuh, maki-makian mencela Suhu mengucapkan kebohongan terbesar, kutukan orang-orang farisi, dan doa syukur karena Suhu telah bertobat* Anda tidak salah baca. KE GEREJA. Sebuah kunjungan ke gereja untuk Misa Jumat Agung yang membuat Suhu menyadari sesuatu.

Begitu besar dosa yang telah saya buat, masih gak bisa mengalahkan besar cinta-Nya


Saat kami masuk gereja itu pukul sepuluh tiga puluh [ga telat!], kami berdua langsung disambut paduan suara gereja yang menyanyi lagu "O sinner, come home". Merasa terpanggil, kami pun masuk ke dalam.

Banyak juga orang di dalam. Ya banyak, kalau yang biasa nya ga ke gereja tiba-tiba muncul. Termasuk dua orang kriminal ini. Oke, kita lanjut ke topik semula, sebelum posting ini menjadi sesi mencaci-maki diri sendiri. Perspektif tentang Jumat Agung selain dari sisi keagamaan bisa juga dilihat dari sisi morfologi.

Diksi Jumat Agung merupakan pilihan yang sangat istimewa. 'Agung' adalah nama seorang freshie yang dulu sering kami bully kata yang menggambarkan megah, grand, dan tentu saja, jauh lebih sip daripada sekedar Good. Sedangkan di Singapura, hari yang Agung ini cuma disebut sebagai Good Friday.

Jelas saja Suhu tidak terima lalu mulai bertingkah di gereja. Jelas saja ini kurang tepat. Good Friday jadi tidak terasa mantap kedengarannya, karena setiap Friday adalah good Friday. Kalau tidak percaya tanya yang lagi IA. Tapi jangan yang IA enam hari kerja, bisa jadi good Saturday nanti.

Tapi waktu sesudah misa, Suhu mulai sadar. Mungkin ini cuma Good Friday. Bukan Jumat Agung. Misa-misa di hari-hari penting seperti ini ... koq terasa sepi ya? Bukan, bukan umatnya. Jemaat gereja sih jumlah nya masih cukup untuk membuat gedung nya full house. Tapi sesuatu yang hilang adalah ... aparat keamanan, tentara berpakaian preman, dan Gegana.

Di sini nggak ada.

Mungkin cuma ada di Indonesia saja. Karena hari itu adalah hari yang penting. Jumat Agung, bukan sekedar Good Friday. Tapi Marvelous, Fabulous, Splendid, and Spectacular Friday.

Suhu,
yang tidak akan pernah bisa menjadi bisa blogger yang baik tanpa campur tangan tuhan.

No comments: