Thursday, April 19, 2007

Hujan

Terdengar suara teriakan dari dalam kamar.

Jangkrik!

Bukan, dalam konteks ini bukan membahas tentang kata ganti orang ketiga dalam bahasa Malang. Bukan pula membahas kata sapaan hormat pada rekan sejawat gaya Jawa Timur an. Kali ini benar benar jangkrik. Serangga yang memiliki sistem peredaran darah terbuka [dalam bahasa jawa: dipidek moncrot], dipompa oleh jantung di bagian dorsal. Entah bagaimana serangga laknat ini berhasil menyusup ke kamar Suhu dan melakukan manuver serangan udara ke layar laptop Suhu.

Disinyalir serangga tersebut berjenis kelamin jantan dan sedang dalam masa musim kawin. Terbukti karena naluri alamiahnya mencium layar laptop waktu Suhu sedang mengulas blog-blog menarik.

Tidak berapa lama kemudian, Alfonso seekor laba-laba nongol di pintu kamar yang sedang terbuka sedikit. Kubuka pintu kamar sedikit lebih lebar, cukup untuk kakiku menendang laba-laba makasar malang itu.

Baru aku sadar, di luar ada ribuan serangga lain dalam ukuran purba hujan badai. Tidak heran, sekarang semuanya jelas. Di blok 12 ini, setiap ada hujan yang cukup deras mengguyur, banyak serangga lari ke koridor. Mungkin rumahnya banjir.

Kasihan ya, rumahnya banjir.

Oke, untuk pembaca yang mengira Suhu akan melanjutkan post ini dengan rasa syukur pada Tuhan YME karena telah diberi atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan, dst, dst, dst. Maaf mengecewakan. Suhu bersyukur. Tapi untuk ekspresi rasa syukur yang lebih mantap bisa dilihat di blog-blog lain. Mereka lebih ahli.

Lanjut ke hujan. Hujan membawa banyak arti kepada semua orang. Hujan-hujan dingin-dingin empuk bisa membuat pasangan mempelajari Heat Transfer dalam konteks Biologi. Misalnya, berhimpit sepayung berdua. Entah karena memang salah seorang dari pasangan ini tidak mempunyai payung, atau punya payung tapi tidak mau dipakai.

Yang pasti, kita semua punya pengalaman dengan hujan. Mulai dari hujan rintik yang disertai terik matahari, hingga kita bisa melihat spektrum warna yang disebabkan pembiasan berdasarkan gelombang cahaya pelangi. Ada pula yang berpengalaman dengan hujan yang ganas. Yang seperti dilempari puluhan es batu [Reza Ditya Bramahendra, 2007]. Ada pula yang mengenyam nikmatnya pendidikan bersama sebatang Marlboro merah yang selalu setia menemaninya dengan latar belakang hujan gerimis yang menyiram atap lab CICS. Hujan-hujan tertawa dalam derita [Andreas Lee, 2007].

Suhu,
mendambakan hujan uang.

7 comments:

Fanny said...

aku suka hujan!
untung blok 60 ga ada serangga nya...hihi...

Anonymous said...

mikir:
atap CICS yg mana ya? atasnya lab je =p=p
met exam suhu, all the best!

*penghuni CICS jg*

dika said...

wakakakakakak,

blog-muh; bener2 distraction yg bagus!! :D

dina said...

hahahaha...

hujan2an emang seru :D

*teringat suatu hari saat tidur basah kuyup di bawah tenda darurat semaleman brrr...*

suhu said...

#fanny:
aku juga suka hujan! Terutama kalau hujan uang!

#anonymous:
aku ga seberapa tahu kondisi lab CICS jg, tapi yang aku yakin satu-satu nya lab tak beratap di NTU cuma lab Beton sipil. Oh sama lab open channel hidrolik dulu, sekarang suda dibongkar. Di N1-B5 kalau mau liat puingnya.

#dika:
welcome back, ka.

#dina:
tidur basah kuyub itu dalam bahasa indonesia yang baik dan benar istilahnya 'berkubang' bukan?

konnyaku said...

duh! payungku ketinggalan dimana ya :S

suhu said...

#konnyaku:
hujan2an aja non.