Saturday, April 28, 2007

Awal Mula Cerita

Posting kali ini, akan jadi posting yang panjang. Sangat panjang. Buat yang mau baca post ini sebelum berangkat IA [magang], silakan ditunda. Jangan khawatir, tidak ada hadiah untuk tiga komen pertama. Kalau bersitegang bersikeras ingin terus membaca, siapkan alasan yang baik untuk telat/bolos.

Tips: ngemut CDR tiga biji sekaligus [jangan dilarutkan dalam air], bisa membuat petugas Medical Center NTU percaya kamu sakit kuning. Kalau gagal, ngaku aja kamu makan CDR tiga biji, lalu ngaku sakit jiwa.

Sudah siap? Sudah bikin minuman dan siapkan camilan? Kipas angin sudah nyala kecepatan sedang, tempat duduk sudah nyaman, dan tissue sudah ada di meja penerangan sudah diatur agar tidak merusak penglihatan?

Manis. Mari kita mulai ceritanya.

Suhu bukanlah seorang anak yang pandai. Akan tetapi, dia tergolong anak yang tahu banyak hal. Salah satu hal yang dia ketahui adalah ukuran ideal lingkar dada pramugari SQ keadaan dirinya, yaitu, tidak pandai. Tentu banyak yang berbeda pendapat, tapi memang orang selalu melihat dari penampilan. Karena Suhu kelihatannya pandai, orang berasumsi Suhu pandai.

Tentu banyak ucapan-ucapan orang, yang walaupun beraneka ragam, tapi intinya sama. Seperti ini kira-kira.

1. Bermulut manis.
"Kamu itu pinter."

2. Disusul kenyataan.
"Kamu itu pinter. Cuma kurang rajin aja."

3. Dan kutukan perintah tuntutan saran.
"Kamu itu pinter. Cuma kurang rajin aja. Kalau kamu rajin dikit aja, pasti bisa."

4a. Diiringi perbandingan.
"Kamu itu pinter. Cuma kurang rajin aja. Kalau kamu rajin dikit aja, pasti bisa. Coba lihat si Mahmud, kalau kamu serajin dia, pasti bisa."

4b. Diiringi fakta untuk memperkuat.
"Kamu itu pinter. Cuma kurang rajin aja. Kalau kamu rajin dikit aja, pasti bisa. Buktinya kamu bisa masuk Ninja Turtles University, kan gak semua orang bisa."

Entah sampai kapan, orang akan mengasosiasikan admission ke Ninja Turtles University, dengan kepandaian. Tapi yang pasti, Suhu tidak masuk ke Ninja Turtles University karena kepandaiannya melainkan karena koneksi ayahnya dengan Su Gua Ning melainkan karena keberuntungan. Sejarah telah mengatakan, bahwa pria lugu dengan nasib lucu ini, bukan seseorang yang dilahirkan untuk menjadi ilmuwan.

Empat tahun silam, dua orang utusan dari Ninja Turtles University, datang ke SMU Belakambing [Belakang-pasar-belimbing]. Dengan niat mulia mencari sapi perah menjemput foreign talent. Begitu niatnya. Presentasi yang mereka adakan dilakukan saat jam pelajaran sekolah. Saat di mana PBM [proses-belajar-mengajar, buat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi di tanah air, mungkin tidak tahu singkatannya, betul?] sedang berlangsung. Dan tentu saja, saat itu kita sudah tahu, bahwa elitisme memberi kesempatan bagi pihak-pihak papan atas, dalam hal ini, sepuluh besar.

Bulan September 2002

Di kelas 3IPA5, sebuah kelas IPA dengan jiwa IPS. Dan dengan kapasitas otak yang tidak sebesar empat kelas IPA lainnya. Fakta memperjelas bahwa tiap tahun SMUK Belakambing mempunyai 4 kelas IPA dan 4 kelas IPS. Rumor berkata bahwa pada angkatan yang beruntung ini, ada 5 kelas IPA. Dan sistem appeal membuat kelas kelima ini lahir. Untuk lebih mudah dicerna, nilai rata-rata kelas kami, susah mencapai nilai rata-rata empat kelas IPA yang lain. Tepatnya, susah mencapai setengah nilai rata-rata kelas yang lain. Jangan khawatir, kami tidak separah kelas 3-D di felem Gokusen. We don't do drugs, we smoke ocassionally, we never fall in love with our teacher. We are normal, only ... stupid.

Ada tiga tipe anak di dalam kelas 3IPA5. Satu, yang masuk ke IPS, tapi appeal ke kepala sekolah, lalu dipindah. Dua, yang masuk ke IPA karena nilainya tidak cukup masuk IPS. Tiga, yang sial. Yaitu anak-anak pandai yang masuk IPA dengan normal, tapi sekarang mempunyai kewajiban untuk menaikkan rata-rata kelas. Tentu Suhu adalah tipe murid yang ketiga kedua. Lucu memang, tapi ini terjadi. Karena kelas IPS tidak menerima murid yang nilai Geografi dan Sejarah nya lima di rapot. O iya, saya bego. Tadi sudah disebut kan. Bukan bego, cuma agak sering berbeda pendapat dengan guru.

Misalnya, waktu ulangan, insist bahwa Inggris adalah bagian dari Amerika.

Tenang, saya bukan satu-satunya orang yang masuk IPA karena ditolak di IPS. Ada Guntur. Tapi kita tidak akan membicarakan Guntur di blog ini. Kenapa? Karena ini blog Suhu, bukan blog Guntur.

Lanjut.

Kelas 3IPA5, didominasi oleh pria-pria berkelakuan sopan berfikiran hewan, yang kurang bisa mencerna sistem pendidikan. Jelas suasana kelas sangatlah ramai, terutama di jam-jam pelajaran guru yang agak lunak pada muridnya. Guru seperti Vidy Pak Har misalnya. Pak Har menjelaskan dengan sabar cara menemukan solusi pertidaksamaan logaritma, sementara Suhu dan kroninya mempelajari teori fisika di balik misteri penciptaan pesawat kertas yang aerodinamis.

Terdengar suara dari langit speaker pengumuman.

Krosak-krosak. Bzzz.. Nguing.. Halo. Udah nyala itu pak. Oh udah ya. Langsung ngomong aja. Oya. Selamat siang anak-anak dan maaf mengganggu proses belajar mengajar bapak ibu guru. Saat ini akan dilangsungkan presentasi oleh Ninja Turtles University.

"Horeee", teriak salah satu pimpinan hewan-hewan buas di 3IPA5.

Dalam sekejap sejumlah besar semua penghuni kelas 3IPA5 langsung menutup buku matematika dan siap beranjak. Sambil menanti pengumuman selanjutnya mengenai lokasi presentasi.

Di ruang pertemuan sebelah Tata Usaha.

Kecil sekali ruangannya. Mana muat?

Anak-anak kelas tiga yang duduk di sepuluh besar diberi izin untuk meninggalkan kelas. Demikian pengumuman terima kasih dan mohon maaf pada bapak ibu guru atas gangguannya.

Elitisme.

Sulit bagi Suhu untuk bisa menerima kenyataan ini. Nama Ninja Turtles University terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Dan nampaknya, hari ini dia harus merelakan melihat teman-temannya, sepuluh orang, berjalan keluar setelah berpamitan dengan Pak Har.

Kamu gak pergi, Hu?
Aku ranking 21, kamu lupa?
Persetan lah, Pak Har mana inget rankingmu.
Mungkin mesti tahu diri, peng.
Kamu mau pergi.
Aku mau, tapi aku gak bisa.
Aku mengalihkan perhatian, kamu keluar lewat jendela.

Entah kenapa, saat itu ide Gepeng terdengar lebih brilian daripada rumus einstein. Aku tahu, Gepeng adalah seorang teman yang bisa diandalkan, terutama untuk mengalihkan perhatian. Aku berpikir keras, bagaimana caranya badan segedhe Panda ini keluar dari jendela belakang keluar tanpa ketahuan.

Tapi belum sempat aku berpikir panjang, Gepeng sudah ada di depan kelas, dengan buku matematika. Lagaknya menanyakan sesuatu pada Pak Har, tentang pelajaran tentunya. Sebuah pemandangan yang agak janggal. Murid 3IPA5 tanya pelajaran ke gurunya. Seisi kelas mencium sesuatu yang tak wajar, lalu menoleh ke teman sebangku Gepeng, namely aku.

Dengan anggukan teman-teman sekelas yang kira-kira artinya "Godspeed, ma'friend", aku merangkak perlahan ke pintu keluar. Setelah merasa bahwa yang dibilang 'jendela belakang' oleh Gepeng jelas-jelas cuma ventilasi.

Pelan tapi pasti, dari tempat duduk ku yang paling belakang, aku mencapai bangku terdepan. Tantangan berikutnya, bagaimana cara ke pintu keluar, melintasi meja guru, tanpa ketahuan. [Editor's note: saat ini hero kita belum mempelajari skill windwalk. Kalaupun sudah, Pak Har memegang Gem of True Sight yang bisa memantau invisible unit]

Aku berhasil merangkak sampai persis di depan meja guru. Tanpa disadari Pak Har tentunya. Gepeng melakukan tugasnya dengan baik, so far.

Tapi, sejenak kemudian.

--Bersambung--

NB: kepanjangan. sambung lain kali.

10 comments:

yosafat said...

kurang panjang boss

larissa said...

aaarggggghh.. penasarannnn... jgn berenti di tengah2 cerita dunk.. *serasa cerita sinetron aja ni, berenti nya pas di bagian seru2nya..

Arianto said...

kok jadi pinter2 mutus cerita toh blogger-blogger ini. eniwei.. looking forward to e story. jangan lupa masih ada presentasi efwaipi.

Herry -- HgS said...

wah suhu... ceritanya kok dipotong di bagian seru... :-(

sylv said...

hehe. ceritaku kira2 sama kayak suhu. hehehe. dulu masuk IPA karena.... ga tau. Padahal nilai super mencukupi bwt IPS. Dan hasilnya menyesal seumur idup. Tapi ya sudahlah ya.

Tapi saya bangga. Saya satu2nya anak SMAK4 yang bisa Universiti Pengurusan Singapura (SMU maksudnya) =P

Padahal rank saya juga udah di bawah2 gitu hampir tenggelem.

dika said...

wuaaa, pake bersambuuuuunnggg!!!

wuaaaa!!!

konnyaku said...

hu, mampir ke blogku dan kamu akan tahu bagaimanan kecewanya aku ketika cerita ini putus di tengah2. huhu.

*sangat butuh hiburan*

Apret said...

Huhu jadi sedih bacanya Hu, tiba2 udah mau lulus aja yah? Cepet banget lewatnya masa2 itu, hiksu *nangisbombay*

Gita Arimanda said...

yah...bikin penasaran aja nih....ayo sambung lagi panda...:)

suhu said...

#yosafat:
kedawan ngantuk le, sing nulis, dudu sing maos.

#larissa:
o kalau mau dibuat felem laga, bakal diputus pas pemeran utamanya nyaris ketabrak truk sampah.

#arianto:
Mutus susah ri, lebih susah lagi nembak. Muahahahaha.

#herry:
ya deh, lain kali dipotong di bagian awal, pas belum seru. Nulis satu paragraf, terus bersambung.

#sylv:
Oh kamu di Suka Mengatur University toh. Haha baru tahu.

#dika:
capek nulis e. sambung kapan-kapan.

#konnyaku:
*merasa prihatin dan langsung menulis lanjutan.*

#apret:
ya sekolahmu kecepeten sih, 4 tahun kayak aku dong. Masak 3 tahun lulus, apa bedanya dong ama SMA. muahahaha.

#gita:
yosh publish lanjutan sekarang.