Wednesday, March 14, 2007

Belajar Ngomong

Waktu kita masih kecil, papa mama kita mengajar kita untuk berbicara. Maaf, koq jadi sok tahu. Maksudku, papa mama Panda Tambun, mengajar anak-anaknya berbicara. Entahlah kalau papa mama orang lain. Kata pertama yang terucapkan dari bibir si buah hati, pasti menjadi kebahagiaan tersendiri untuk orang tua nya. Meskipun kata pertama itu kadang tidak jelas, atau bahkan tidak valid untuk disebut kata.



Ma ... emm... Ma...
Astaga! Suhu kecil sudah bisa bilang "Mama"!

Seisi rumah pun gempar. Papa Panda Tambun datang, bawa handycam segede yeti, mencoba untuk mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Mama Panda Tambun mencoba merayu anak nya untuk mengulangi kata-kata pertamanya.

*Koq banyak orang ya? Padahal barusan mau bilang minta makan.*


Lalu kita diajari untuk berbicara. Yang jujur.

bukan saya bu gulu
eee... ibu tahu tadi lihat sendiri, kamu kok.
bukan saya bu gulu
jangan suka berbohong. tidak baik.
maaf bu gulu, memang saya. saya ngaku.
nah begitu. kamu itu jangan suka berbohong. mau jadi apa nanti.
politisi bu gulu.


Dengan hati murni dan suci, seekor Panda lugu hidup di dunia yang kejam. Penuh kejujuran. Sangat naif. Berjalan-jalan ke pasar dengan mama nya.

Mah mah .. liat ibu itu ... gendut!
Hush.... ngga bole begitu. nggak sopan itu namanya.
Ibu gendut menoleh. Mencari sumber suara opini keparat tersebut.
Aduh... lucu nya anaknya. Kelas berapa?
Enol BESAR bu GENDUT!
Hush.... ngga bole begitu. Maaf ya bu.
Ah nggak apa, namanya juga anak kecil.


Kalau kejadian ini terjadi 10 tahun kemudian, jelas sudah penyebab kepunahan spesies Panda. Dimusnahkan ibu-ibu gendut di pasar. Tapi jangan khawatir, sekarang aku tidak suka menyebut-nyebut orang gendut di pasar. Bukan karena takut berkata jujur, tapi takut dibalas. Masak jeruk minum jeruk. Masak gendut manggil gendut.

Beberapa hari yang lalu. Ini adalah percakapan nyata antara Suhu dan tgwinmg.

Eh, adik nya si itu kecelakaan lalu lintas, kemaren malam. Kayaknya parah bla bla bla bla bla bla *tempo bicara semakin cepat, receiver suhu tidak bisa menangkap jangkauan frekuensi tinggi* bla bla gitu.
Terus? Mati?
*Digebug. Pake laptop. Laptop Suhu. Yang cicilannya belum lunas.*
Kamu itu, orang kecelakaan koq tanya nya doa'in yang jelek.
Oh sori. Dia gimana sekarang? Hidup?


Yang pasti kita mesti belajar. Waktu kita kecil, kita belajar untuk ngomong. Waktu kita sudah besar kita belajar untuk tidak ngomong. Waktu kita dewasa, saatnya belajar untuk tahu kapan waktunya ngomong dan kapan waktunya tidak.

Panda Tambun,
jangan pernah ngomong waktu sedang mengunyah bambu. Bahaya ketelusupen.

No comments: