Monday, October 16, 2006

Persahabatan yang Kembali

Tidak biasanya aku memberi rekomendasi pada suatu tempat. Tapi kali ini aku mau ngasih tahu buat pembaca, bahwa tempat ini asyik banget. Konsep yang berbeda. Cafe ini bukan tempat untuk makan, meskipun kalian bisa pesan makanan. Bukan tempat untuk minum, meskipun kalian bisa pesan minuman. Di kafe ini, kalian bisa meminta pegawainya untuk menemani kalian. Dan melakukan apa pun yang kalian minta.

Yang pikirannya jorok, ayo push-up sepuluh kali.

Tempat ini adalah The Mind Cafe.

Ulang tahun Andreas Lee, tertanggal 13 Oktober 2006. Toeeeetttt. Tetot. Tetot. Tapi, hari itu, kami tidak merayakan ulang tahun Andreas Lee, dikarenakan hari itu adalah Friday the Thirteen dan Andreas kembali ke wujud aslinya berupa manusia berkaki kambing Andreas Lee masih sibuk menjalani FYP . Jadi acara ini diundur ke tanggal 15 Oktober 2006 [Minggu].

Ada apa dengan Mind Cafe?

Tempat ini adalah sebuah kafe yang menyediakan berbagai macam permainan. Ratusan? Lebih! Permainan ini dibagi menjadi beberapa kategori yaitu Semua Usia, Bimbingan Orangtua, dan Dewasa No-Brain, Strategy, dan Total Brain.

Untuk merayakan ulang tahun Andreas, berenam kami pergi bersama. Tepat sekali tebakanmu. Suhu, tgwinmg. Apong, Andreas, Guntur, dan satu orang lagi kawan Guntur [bernama Ah Lim].

Mayoritas dari kami adalah mahasiswa yang terkungkung di jurusan Teknik, Ninja Turtles University. Jadi tentu saja, tanpa perlu ditanya, dengan kapasitas otak dan sumsum tulang belakang kami, kami memilih game-game dari kategori No-Brain.

Permainan pertama yang kami mainkan di sana adalah, Bagaimana Menjadi Mahasiswa Teknik Sipil yang Hebat. Setelah berhasil mengakhiri game ini dengan memberikan kuliah tentang Kesetimbangan Benda Tegar dalam Inersia Statis pada peserta lain, kami beranjak ke game berikutnya.

Game ini bernama Telepati. Bayangkan permainan ular tangga. Tapi langkahmu bukan ditentukan oleh dadu. Melainkan dengan kekuatan pikiranmu untuk menggerakkan orang-oranganmu ke kotak berikutnya telepati. Ini adalah permainan berpasangan. Dalam game ini, kamu dan pasanganmu akan mengambil sebuah kartu, di mana di kartu itu akan ada sebuah gambar atau kata. Kamu harus menulis kata apa yang terlintas di benakmu saat melihat kartu itu, begitu pula pasanganmu. Setelah waktu habis, jawaban dicocokkan. Berapa kata yang sama, itu adalah jumlah berapa kotak orang-oranganmu maju.

Kelucuan terjadi saat beberapa insan di sini tidak bisa mencerna dengan baik apa yang ingin ditulis pasangannya. Tapi tampaknya jam pasir yang berdurasi beberapa puluh detik itu bisa memacu adrenalin dan membuat peserta permainan mencerminkan jati diri sebenarnya. Contohnya.

Di kartu terlihat gambar sebilah pisau. Pasangan Apong-Suhu mencoba mencernanya.
Apong: Parang, Pisau, Golok, Potong, Darah, Bunuh, Cincang.
Suhu: Pisau, Potong, Iris, Masak, Makan, Kenyang, Daging.

Di kartu terlihat sebuah kata "Milk". Sebelumnya kami memutuskan untuk memakai bahasa Indonesia.
Guntur: Sexy, Gedhe, Wanita, Perempuan, Dada, Wedok.
Ah Lim: Bubuk, Kental, Botol, Sehat, Putih, Empuk.

Dan yang terbaik dari Birthday boy, Andreas Lee. Mencoba bertelepati dengan tgwinmg, tapi nampaknya gagal saat kartu menunjukkan kata Orphan [anak yatim piatu].
tgwinmg: rumah, anak, baju, papa, mama.
Andreas Lee: anak, gadis, misteri, sepi, sunyi.

Quote of the day: Misteri seorang anak yatim piatu.

Masih banyak lagi permainan yang tidak sempat kami mainkan, tapi kami cukup senang waktu dua jam ini bisa terisi penuh dengan keceriaan. Ini seperti masa kanak-kanak yang hilang. Kapan lagi bisa seperti ini lagi.

Suhu,
Happy [belated] Birthday Andreas Lee.

2 comments:

Arianto said...

Aku ngguyu temenan moco posting iki... apik (y). Btw seng menang game e sapa?

suhu said...

#ari:
lali wes an ri, rasa'e sing menang apong. soal e apong lek kalah terus mbunuh tamu-tamu lain, jadi kita kasih dia menang.