Monday, September 04, 2006

Melihat Dari Kacamata yang Lain

Akhirnya resolusi keputusan peraturan hasil diskusi yang berupa himbauan ini selesai juga. Untuk anak Indo-NTU yang secara ostosmastis menjadi anggota PINTU [Perhimpunan/Pelajar/Persatuan/Persekutuan Indonesia Ninja Turtles University] kabarnya berita ini harap disebarluaskan. Tapi setelah sekian lama, sepertinya topik ini no-kick lagi ya. Ke mana yang dulu teriak-teriak minta forum diskusi, ini hasilnya dibaca nggak woi.

Kalau kamu belum baca, klik di sini.

Buat yang nggak tahu ini ngomongin soal apaan, coba baca ini.

Andaikan saja kita itu hidup dengan tingkat toleransi yang tinggi. Ternyata hasil diskusi juga tenang-tenang saja. Tidak ada sebuah keputusan yang kontroversial dan membuat rakyat terhenyak. Yang sempat beringas di public folder mengusulkan hukuman untuk yang melakukan kesalahan, juga tidak tersampaikan aspirasinya di diskusi. Yang marah-marah dan menyerang panjang lebar dengan nada menyulut perselisihan juga tidak ada.

Terbukti semua warga Ninja Turtles University ini cukup dewasa untuk menerima perbedaan kan? Tergantung dari mana kita melihatnya. Dari kacamata siapa.

Suhu sendiri, sebagai seorang pribadi, merasa sudah cukup bertoleransi dengan masyarakat sekitar. Ya maaf kalau ada yang merasa Suhu masih kurang. Tapi untuk urusan agama, Suhu cukup menganut ajaran cuek-bebek-wek-wek. Istilah bagusnya, ajaran menghormati.

Ainun Najib sholat lima waktu puasa selang seling silahturahmi idul fitri zakat fitrah idul adha Suhu hanya mengamati. Setelah Najib selesai sholat, kita lanjut maen C&C General. Najib puasa, Suhu membantu mewakili Najib makan. Najib tidak makan babi, Suhu tidak masak makanan haram jika makan bersama Najib. Saat memakai peralatan Najib, dijauhkan sejauh mungkin dari minyak babi dan, tentu saja penghasil minyaknya, babi. Umat Islam itu baik adanya, Najib contohnya.

Tiga tahun hidup sekamar dengan Bejo juga merupakan contoh kerukunan antar umat beragama dengan umat tidak beragama. Bejo berdoa, Suhu mengamati. Bejo berdoa, Suhu bermain Maple. Bejo berdoa, Suhu tidur. Bejo senantiasa berdoa. Dan Suhu tidak pernah mengganggu Bejo saat berdoa. Begitu pula Bejo tidak pernah mengganggu Suhu saat tidur. Toleransi. Umat Kristen itu baik adanya, Bejo contohnya.

Andreas Lee adalah bapak babtis saya. Jadi sangat kebetulan sekali, aku dan bapak babtisku, beragama sama. Katolik. Andreas Lee adalah penuntun saya dalam mengadopsi agama sebagai pedoman hidup. Dia juga telah menunjukkan contoh yang baik dalam bertoleransi. Saat Suhu nggak mau ke gereja, Andreas Lee tidak memaksa. Saat Suhu malas berdoa, Andreas Lee mengingatkan dan menghimbau. Tetap tidak memaksa. Umat Katolik itu baik adanya, Andreas Lee contohnya.

Alfonso seorang penganut agama Budha. Dia percaya segala sesuatu nanti ada karmanya. Dia selalu berusaha berbuat baik, dengan membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan. Di balik sikapnya yang psikopat, Alfonso masih menyempatkan diri beribadah jauh-jauh ke vihara di tengah kota. Walau kita tidak tahu dengan jelas apa motifnya, apakah untuk minta pengampunan dosa atau hanya sekedar sekalian ke kota kewajiban agamanya. Tapi Alfonso tidak pernah berselisih dengan umat beragama lain, sepanjang hematku. Umat Budha itu baik adanya, Alfonso contohnya.

Partner saya ber-Photoshop adalah Wayan Magha. Dari namanya sudah jelas bahwa dia adalah orang India Bali. Postur tubuhnya memang gagah dan berbentuk seperti model-model majalah porno dewasa kebugaran. Aku tahu dia tahu bahwa postur tubuhku ini jauh dari sempurna. Tapi sekalipun Magha tidak pernah menyinggung hal ini. Betapa tinggi toleransi Magha. Saat terjadi kasus lumpia-bakpia pun, Magha menyikapi dengan tenang. Tanpa gesekan. Umat Hindu itu baik adanya, Magha contohnya.


Apa respon Suhu terhadap undangan tukang lumpia?

Melihat dari kacamata orang lain. Waktu terima undangan itu, Suhu berpikir. "Wah hebat sekali dedikasi anak ini, mengirimkan secara pribadi satu per satu. Bukan mass mail." Sejenak Suhu mengagumi iman teguh penjual lumpia, yang membuat dia berkorban waktu dan tenaga. Setelah sesi mengagumi selesai, tekan delete. Lalu pergi makan siang. Waktu membaca "Please clarify your motive", Suhu terhenyak. Sambil membatin, "Sebegitu terlukanya kah si tukang bakpia?" Suhu mencoba melihat dari kacamata lain. Mungkin tukang bakpia ingin pendapatnya didengar publik. Entahlah. Sempat terpikir, kenapa tukang bakpia merespon sekeras itu. Mungkin karena tukang bakpia belum pernah merasakan suaranya tidak didengarkan. Mungkin. Entahlah.

Membaca postingan balasan-balasan, hati Suhu semakin sakit. Dan semua tahu kalau sakitnya lebih sakit dari sakit gigi. Kenapa semua bertingkah kekanak-kanakan. Mana teman-temanku yang pola pikirnya dewasa. Ingin membalas di public folder Suhu tidak berani. Memangnya aku ini siapa? Cuma orang yang mencoba melihat dari kacamata orang lain. Entah salah entah benar. Paling tidak aku mencoba.

Maukah kalian mencoba, melihat dari kacamata yang lain?

Suhu,
cobalah.

NB: Aku ganti kacamata. Beneran. Jasmaniah.

No comments: