Friday, November 07, 2014

Time to Go, but Where?

Suhu terlalu bingung untuk bertindak. Suhu hanya mengikuti perintah. Pulang dan cek paspor. Masih ada. Re Entry Permit kertas kuning. Masih ada. Expiry date. Tiga tahun setelah manufacturing date. Eh salah. Ini kotak panadol. Expiry date, masih lebih dari enam bulan. Boleh bepergian.

So. What's next?

Benar saja. Keesokan harinya, Mister Faifai, bos besar PT Bangun Subangkit. Mantan. Mantan bos besar PT Bangun Subangkit sebelum perusahaan ini dijual. Mister Faifai datang ke kantor Suhu. Memastikan bahwa tidak ada orang di kantor, Mister Faifai mengeluarkan sebuah amplop. menyorongkannya di atas meja menuju ke arah Suhu.

Apa-apaan ini?!?
Pendidikan dasar sembilan tahun. Pendidikan tinggi tiga tahun. Dan perguruan tinggi empat tahun lulus kumlaud tidak dipersiapkan untuk mengatasi masalah ini. What should I do? What the fish is this? Why did I think in English? Iki piye mak!

Melihat raut wajahku yang tidak tenang, Mister Faifai menyadarinya. Hidung kembang kempis, napas tidak teratur, kuping gerak-gerak, mata juling. Gimana gak sadar? Lalu Mister Faifai buka suara.

"Jumlahnya nggak banyak. Tapi lebih dari cukup buat belanja di sana. Nanti kalau kamu sudah agak tenang, kamu telpon Madam Pik. Kamu kasih dia nomer paspormu sama nama lengkap. Tiket diatur perusahaan."

Apa?

Tiket?

Kemaren bilang paspor hari ini ngasih amplop terus tanya nama lengkap bilang tiket sudah diatur perusahaan? Ini apa-apaan. Apa-apaan ini.

Suhu marah. Mengangkat kursi tinggi-tinggi lalu menghujamkannya ke Mister Faifai. Dalam imajinasinya.

Mister Faifai sudah pergi. Bagaikan ninja dia. Yang sisa tinggal asap-asap. Perginya pakai bom asap.



Cukup sudah kau permainkan aku dalam drama perpindahan takhta PT Bangun Subangkit, batin Suhu. Perlahan-lahan amplop dibuka. Sebuah cek yang bisa diuangkan langsung tunai. Nilainya tidak banyak. Tapi lebih dari cukup. Untuk belanja di sana. Terngiang-ngiang perkataan Mister Faifai.

Di mana? Belanja untuk berapa lama? Ngapain kita ke sana?

Memandang cek itu. Suhu tersenyum. Mungkin ini bentuk kompensasi pensiun dini? Atau insentif agar bekerja lebih keras di bawah naungan PN Cin Cao? Entahlah. Tapi bagai terhipnotis nominal jumlah yang tertera di cek itu. Suhu mengangkat telepon. Menekan serangkaian nomer yang sudah terhafal di kepalanya.

"PT Bangun Subangkit, ada yang bisa saya bantu?"
"Dengan Madam Pik, please"

ningnongningnongning lagu ini berbunyi.

untunglah kejadian ini berlangsung oktober tahun 2011. kalau ditunggu beberapa bulanlagi mungkin lagu on-hold telefonnya nengnengnongneng bukan ningnongning.


Setelah serangkaian percakapan dengan Madam Pik. Suhu meletakkan gagang telepon. Tiket sudah disiapkan oleh perusahaan. Perjalanan ini akan dibiayai perusahaan dan berdurasi sepuluh hari. Selasa depan berangkat.

Dan amplop berisi cek tadi? Cukup buat hidup sepuluh hari di sana. Sekaligus sewa mobil beserta sopir dan selusin dayang.

Suhu,
ke negeri asal Panda.